
Kondisi Maya berangsur pulih. Ia sudah kembali seperti semual. Namun berbeda halnya dengan keadaan Billy. Putra pertama mereka.
Setelah dirawat selama 7 hari. Keadaan Billy tak memperlihatkan kemajuan. Maya sangat sedih membayangkan apa yang telah dialami oleh bayinya.
"Dokter bagaimana dengan putra kami?"
Tanya Pramana cemas. Setelah melihat Dokter yang keluar dari ruangan rawat Billy menggelengkan kepalanya.
"Silahkan ikuti saya keruangan Nyonya, Tuan Dewanto. Saya akan jelaskan disana. Untuk saat ini biarkan bayi Billy beristirahat."
Maya dan Pramana mengikuti Dokter yang bernama Mutia masuk kedalam ruangannya.
Dengan wajah cemas pasangan suami istri itu pun menanti keterangan Dokter Mutia.
"Mengenai kasus Bayi Billy, Sebelumnya saya turut prihatin atas apa yang telah menimpa kalian.
Bayi anda terkena infeksi dibagian pusarnya. Dan itu sudah membusuk. Saya sangat tau .. bahwa anda berusaha sekuat tenaga untuk melindungi putra anda Nyonya. Dan dengan pakaian dan fasilitas yang terbatas disana.
Pakaian yang anda balutkan ke tubuh Bayi Billy sudah sangat kotor. Sekali lagi maaf Nyonya. Bakteri nya berkembang disana diarea tali pusar yang masih basah.
Untuk saat ini hanya itu penjelasan saya. Tim Dokter akan melakukan yang terbaik untuk putra anda.
Sementara ini obat nya masih bekerja. Walaupun belum ada tanda tanda kemajuan, berharaplah keajaiban akan datang untuk Bayi Billy."
Maya menangis mendengarkan penjelasan Dokter Mutia. Ia sangat membenci para penculik itu.
"Saya mohon anda lakukan yang terbaik untuk putra kami Dokter. Saya mohon... "
__ADS_1
Mata Pramana juga nampak berkaca kaca. Ia meninggalkan ruangan Dokter Mutia. Dan duduk didepan ruang tunggu ruangan rawat Bayi Billy.
"Aku hanya menggunakan pakaian ku yang kotor mas... aku tak menemukan apa apa ditempat terkutuk itu. Billy.... Maafkan mama sayang..."
Maya menangis dalam dekapan Pramana. Ia masih teringat dengan wanita yang diakui mirip dengan jihan fahira itu.
"Mas... Pasti wanita itu sengaja menculik ku .. agar anak kita mati dan kau menceraikan ku... Supaya dia bisa menikah dengan mu..."
Maya terduduk disampingnya Pramana. Mata nya berapi api penuh dengan amarah. Ibu siapa yang masih santai saat anaknya disakiti atau dianiaya. Bahkan hewan sekalipun akan murka jika ada yang mengganggu anak anak mereka.
"Beritahu alamat penculik nya pada ku. Aku akan menyuruh Komar untuk mencari tau kepastiannya. Tangan ku sendiri yang akan membunuh nya... Jika sesuatu hal terjadi pada anakku."
Amarah Pramana saat ini memuncak. Tangan nya gemetar menahan sakit yang amat sangat menusuk dihatinya.
Bayi kecil yang telah lama mereka tunggu. Akhirnya hadir didunia ini melalui proses penculikan yang membuat mereka harus bersiap siap kehilangan putra pertama mereka.
"Dan aku berjanji kalian akan puas dengan upahnya. Untuk sekarang terima ini sebagai uang muka nya. Jika kalian tak berhasil.. kembalikan uang itu. Dan jangan mencoba bersikap curang .. aku akan habisi dengan tanganku sendiri."
Ancam Pramana yang sejak penculikan Maya dan penembakan ibunya terjadi. Ia seakan tidak seperti ia yang dulu. Sekarang Pramana lebih mudah marah. Dan mengajukan ancaman untuk mereka.
****
"Dasar bodoh! Mencari wanita hamil saja kalian tidak tau. Kabur kemana ia .. ia bahkan baru saja melahirkan beberapa hari. Ia masih tak begitu kuat untuk lari jauh."
Suara Raisa yang marah marah dalam ruangan pengap terdengar jelas. Tujuan nya sudah hampir dekat. Namun anak buahnya menggagalkan semua.
"Ari!! Jika saja kau tak memberikannya pakaian bayi... Pasti ia tak bisa kabur dari sini. Kau benar benar bodoh.."
__ADS_1
Ia melanjutkan lagi memaki anak buahnya yang bernama Ari.
Ponselnya berdering. Buru ia mengangkat karna ada nama Dewa disana.
"Ya Dewa...."
Raisa berjalan untuk menutup pintu ruangan tersebut. Dengan suara halus untuk dibuat seindah mungkin.
"Aku ingin bertemu Raisa..."
Raisa sangat senang mendengar respon positif langsung dari Pramana.
"Dimana?" Tanya Raisa seanggun mungkin.
"Terserah kau saja. Kirim aku alamatnya. Aku akan datang pukul 8 malam ini disana."
"Dia mungkin sudah menyadari bahwa kepergian Maya akan membuat hidupnya sepi... Dan sekarang ia menghubungi ku lagi... Lagi..."
Raisa tersenyum dengan seringai dibibirnya.
Dewa... Kau akan jadi milik ku sepenuhnya...
.
.
.
__ADS_1
Bersambung