
"Sayang... kau mendapat pesanan May...?" Tak ada sahutan dari Maya. Pramana mencoba merengek lagi didepan pintu.
"Maya... aku belum ganti baju dan juga...."
Tiba tiba pintu kamar terbuka, Pramana sangat senang. Saat akan masuk Maya mendorongnya dengan selimut, bantal dan pakaian tidur Pramana. Dan menutup kembali pintu kamar.
"Maya... kau tega membiarkan. Aku tidur diluar sendirian kedinginan sayang... Maya... buka pintu nya..."
"Masih ada kamar, kenapa kau tidur diluar?"
Dasar bodoh... aku akan beri kau pelajaran Pramana. Aku memang wanita lemah. Tapi tak semudah dulu kau membuatku melunak lagi. Baiklah... akan ku tunggu penjelasan mu sembari aku menyelesaikan pesanan mereka. Dan saat itu tiba... kita berakhir... benar benar berakhir!
Ya Tuhan ujian apa lagi ini. Apakah akan banyak ujian untuk sebuah senyuman?
Pramana terpaku berdiri dipintu kamar. Ia memeluk selimut yang Maya berikan. Lalu duduk didepan pintu kamar nya yang terbuat dari triplek.
Aku akan disini sampai Maya membuka pintu. Bagaimana jika aku ceritakan semua padanya? Mungkin dia akan membunuhku. Sedangkan cerita mengenai Lana dia sudah seperti ini. Wanita yang sedang marah memang lebih ganas dari seekor singa yang kelaparan. Ray... kau harus tanggung jawab tentang hal ini. Karna mu.. aku tak bisa mengunjungi goa ku..
Setelah menggerutu dalam hatinya. Pramana tetap memanggil manggil Maya dari depan pintu.
"Suara nya sangat berisik. Apa aku biarkan dia masuk? Nanti dia akan melakukan hal yang aneh padaku. Dia itu seorang Pramana Dewanto... banyak ide gila dikepalanya..
Akh... biarkan saja..."
Maya merenungi jalan hidup yang ia arungi sekarang ini. Wajah Romi langsung melintas dipikirannya.
Masih ada saudaraku yang selalu.mendukung ku. Besok aku akan menjenguknya sekalian beli bahan untuk buk Vika.
Tok
Tok
__ADS_1
Tok
Seseorang mengetuk jendela kaca kamar mereka dari luar. Maya terkejut karna melihat bayangan orang berdiri diluar. Maya melirik jam didinding. Ini sudah lewat pukul satu. Buru buru ia membuka pintu kamarnya. Namun Pramana masih bersandar didepan pintu.
"Sayang..." Pramana menatapnya dengan wajah memelas. Mengharap belas kasihan dari Maya agar ia bisa masuk kedalam kamar.
"Masuklah!"
Terpaksa ia memberi izin Pramana masuk dan tidur dikamar mereka. Pramana mengganti pakaiannya. Lalu rebahan disebelah Maya.
"Jangan coba coba menyentuhku sebelum ini selesai!!"
Maya membelakangi Pramana, takutnya mulai terasa hilang. Ia mencoba memejamkan matanya. Bersiap menghadapi hari esok. Kekejaman dunia padanya.
Tok
Tok
Tok
"Siapa itu May?" Pramana mencoba mengajak Maya bicara.
"Mana aku tau!" Jawab Maya dengan wajah ketus.
Tok
Tok
Tok
Tiba tiba Maya mendekatkan tubuhnya pada Pramana. Ia memeluk erat suaminya.
__ADS_1
Ternyata berhasil... hehehe... sayang.. maafkan aku..
"Mas... siapa itu?" Nafasnya terasa sesak sesak karna sangat takut.
"Sebentar aku akan lihat.." Pramana berdiri. Berjalan kearah jendela sedangkan Maya masih memegang baju Pramana dari belakang.
"Hati hati mas..."
"Iya..."
Dalam hati Pramana tertawa kencang. Ia tak sanggup menahan mulutnya untuk tertawa tapi tetap ia tahan. Jika tidak Maya akan semakin marah.
Pelan pelan Pramana membuka jendelanya dan melihat kebawah, samping kiri dan kanan menggunakan senter.
"Tidak ada siapa siapa." Pramana menoleh pada istrinya.
"Mas lihat lagi?" Maya merasa cemas.
Pramana menyuruh orang suruhannya untuk pergi. Ia mengacungkan jempol pada lelaki itu. Kemudian menutup kembali jendela kacanya.
"Sudah ayo tidur..mungkin orang iseng"
"Siapa orang iseng yang keluar tengah malam begini"
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung