
Malam ini hujan turun deras. Banyak pohon pisang yang tumbang. Para kebun warga rusak bahkan beberapa rumah yang kerendahan hampir kebanjiran.
Maya meracik jamu untuk pengobatan ibunya. Obat dari dokter tak mampu lagi menyembuhkan sakit yang telah diderita lama ibu Maya.
Atap rumah mereka seakan ingin runtuh tertimpa air hujan yang hampir turun seperti bongkahan es.
"Romi... Romi..."
Pemuda itu mendekati ibu yang memanggil dari dalam kamar. Ia duduk dipinggir ranjang lusuh ibunya.
"Nak... sepertinya ibu takan lama bertahan. Kamu berjanjilah untuk selalu menjaga mbak mu Maya."
"Ibu bicara apa bu? Ibu akan baik baik saja."
Romi memijit kaki ibu yang sudah kurus kering. Matanya berkaca kaca mengingat tubuh renta ini yang dulunya sangat kuat membesarkan mereka berdua.
"Ibu ingin kau menjadi orang yang sukses. Bisa mengangkat martabat keluarga kita lagi Romi. Jika kau beristri.. jangan lupa kan mbak mu Maya. Dia tak punya siapa lagi selain dirimu jika ibu pergi nanti."
Air mata ibu tampak mengalir ditepi matanya. Beberapa kali ia mengerjapkan matanya. Menahan pilu seakan akan waktu telah tiba meninggalkan kedua anaknya.
"Bu.. minum dulu jamu nya."
Maya memberikan segelas jamu racikan nya untuk ibu. Mereka bertiga larut dalam kesedihan versi masing masing.
"Percuma saja kau membuatkan ibu obat Maya. Tak kan berfungsi lagi ditubuhku yang sudah lelah ini."
Ibu tetap meminum jamu yang diberikan Maya. Ia menatap kedua anaknya secara bergantian.
"Maafkan ibumu yang tak bisa memberikan kalian kehidupan yang layak. Terutama kau Romi.. "
__ADS_1
Tok
Tok
Tok
"Siapa itu hujan hujan begini bertamu?"
Maya keluar kamar ibunya dan membuka pintu. Ia terperangah kaget melihat tiga orang polisi yang mengenakan jaket kulitnya.
"Selamat malam nyonya. Maaf mengganggu waktu istirahat anda."
"Ya.. malam pak. Ada yang bisa saya bantu?"
Maya gugup melihat petugas kepolisian menyapanya. Ia membayangkan hal buruk terjadi pada Romi.
"Apakah disini kediaman saudara.. Romi Fazhilan?"
Hidup Maya benar benar hancur sekarang. Semua yang ia takutkan telah terjadi. Hidup Romi diujung tanduk.
"Kami membawa surat penangkapan atas saudara Romi Wahyudi atas tuduhan pembunuhan terhadap saudara Mawarto. Ini suratnya nyonya... silahkan dibaca."
Tangan Maya bergetar menerima surat penangkapan atas nama adiknya Romi.
"Bu... ibu... ibu..."
Terdengar dari dalam kamar ibu Romi memanggil manggil ibu mereka. Dengan cepat Maya berlari kedalam kamar ibunya yang dekat dengan ruang tamu.
Mata nya terbelalak melihat ibunya telah diam dan kaku tak bernafas lagi diatas ranjang. Dengan mata yang tertutup rapat.
__ADS_1
"Ibu... ibu... kenapa Romi?"
"Ibu mendengar semua hal diluar mbak. Semua begitu cepat terjadi. Ibuu.... ibu... maafkan Romi bu... bangun bu.."
Romi menangis menggoyang goyangkan tubuh wanita yang paling ia cintai didunia ini. Ia menyesali kepergian ibunya. Ia merasa paling bersalah. Berkali kali Romi memukul kepalanya dengan keras.
Anggota polisi masuk kedalam rumah, melihat kejadian dikamar tersebut. Salah satunya masuk kedalam.
"Maaf nyonya, kami tidak tau jika ibu anda sedang sakit. Kami turut berduka atas ibu anda. Semoga beliau diterima disisiNya."
Maya berdiri mencoba tegar, ia mengajak anggota polisi keluar dan berbicara.
"Pak, saya mohon maaf sekali. Bisakah adik saya dibawa saat selesai pemakaman ibu kami. Karna saya tak bisa sendirian pak. Suami saya juga sudah meninggal.
Saya akan menjamin jika Romi adik saya tidak akan kemana kemana. Atau salah satu dari anggota bapak bisa menjaganya disini. Saya mohon pak.. mohon maklumi kejadian ini."
Maya melihat anggota polisi yang saling memandang. Ia hanya butuh sedikit waktu untuk sama sama memakamkan orang tua mereka.
"Baiklah nyonya. Dua orang dari kami akan berjaga mulai malam ini. Dan kami akan membantu sampai prosesi pemakaman selesai."
Setelah berunding akhirnya dua orang berjaga disana hingga pemakaman selesai.
"Terimakasih banyak pak atas pengertiannya."
Mereka bersalaman. Salah satu diantaranya kembali membawa mobil kepolisian. Maya kembali kekamar, melihat keadaan Romi yang termenung duduk dilantai ditepi ranjang ibu.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung