ROMAYA

ROMAYA
Cinta yang belum dikenali


__ADS_3

Pramana masuk lagi kekamar lalu membawa surat pernikahan mereka. Pak RT melihat dengan seksama.


"Ini tanggalnya sekarang lho Pram?"


"Iya pak, tadi saya baru jemput kekantornya. Karna kami menikah secara siri dikampung Maya. Jadi saya ingin mensah kan secara hukum. Jadi tanggal dan tempatnya sesuai juga dengan tempat tinggal kita disini. Karna keluarnya disini. Begitu pak.."


Pramana menahan gugup nya. Dan memberikan alasan yang tepat. Pak RT berdiri melihatkan pada orang orang diluar.


"Baiklah Pram.. sekarang sudah jelas. Kalau begitu kami pamit dulu. Sampaikan salam kami untuk dek Maya. Selamat malam"


Pramana melihat kepergian orang orang itu. Ia segera mengunci pintu dan berjalan kearah kamar yang biasa dihuni Maya.


Tapi wanita yang dicarinya sedang membuat sesuatu didapur. Karna malam ini mereka belum makan.


"Masak apa?"


Pramana bersandar diambang pintu dapur. Memangku kedua tangannya kedada. Menatap Maya, ingatan ciuman itu terus nampak dipelupuk matanya.


"Sesuatu yang lezat..." Maya menoleh kearah Pramana sekilas dengan senyumnya lalu kembali memasak.


Pramana berjalan mendekati Maya. Dipeluknya wanita yang sekarang sudah sah menjadi istrinya dari belakang. Maya terpaku, desiran darahnya kembali mengalir deras.


Ia menciumi pundak putih Maya yang mulus karna ia memakai baju tidur yang cukup seksi yang mereka beli tadi dipasar. Pakaian istrinya membuat Pramana berhasrat tak sabar untuk mencicipi tubuh molek itu.

__ADS_1


"Mas... sebentar.. aku selesaikan pekerjaan ku dulu."


Maya mencoba menghalangi gerakan Pramana, namun matanya tetap terpejam karena ransangan sentuhan Pramana.


"Sebentar saja ..." bisik Pramana lirih ditelinga Maya. Ia terus saja mengecup bagian sensitif itu.


"Tangan ku sedang bau bawang mas..." Maya mendekatkan jarinya kedepan wajah suami nya.


"Astaga... " Pramana menegakan kepalanya.


"Baiklah... aku tunggu masakanmu. Buatkan yang lebih enak." Akhirnya ia mengalah dengan senjata yang mulai mengendur karna bau bawang.


Mas Pram... ternyata kau benar benar menjadikan ku istri seutuhnya. Aku akan berusaha untuk menjadi istri yang selalu baik. Sebaiknya aku cepat cepat selesaikan ini...


Maya tersenyum melihat Pramana berjalan keluar dapur. Lalu melanjutkan kembali masak memasak nya.


Pramana menyesap rokok yang baru dibakarnya. Ia duduk diruang tamu dengan pintu yang terbuka, agar kepulan asapnya bisa keluar.


"Mas... ayo makan.." Maya memanggil suaminya untuk makan malam.


Pramana langsung menutup pintu dan menguncinya. Ia berjalan ke arah meja makan yang minimalis.


"Waah... masakan ini terlihat lezat." Pramana memuji masakan Maya saat pertama menjadi istrinya.

__ADS_1


"Ini..." Maya memberikan sepiring nasi pada suaminya. Kemudian mereka menyantap makanan yang dibuat Maya dengan bahagia.


Pramana menatap Maya yang keliatan resah dengan bajunya karna cukup terbuka. Pikiran nya sudah travelling kemana mana.


"Ada apa?" ia pura pura tak tau.


"Aku tak suka memakai baju ini. Sangat terbuka." Maya meletakan piring kotor kedapur.


"Bukankah baju tidur memang begitu?"


Pramana menahan geli mendengar Maya karna memang ia menukar baju tidur yang dipilih Maya dengan pilihannya. Maya menyadari itu tapi tak berani bertanya pada suaminya.


"Ya.. akan ku pakai saat akan tidur saja." Maya membersihkan meja makan.


"Aku duduk didepan.." Pramana kembali membakar sebatang rokok lagi.


Dasar aneh.. aku sudah memilih yang bagus dan bisa dipakai dirumah untuk sehari hari. Malah ia ganti dengan ini..


Maya menggerutu dalam hati. Ia masuk kekamarnya. Membereskan beberapa pakaian yang ia beli tadi.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2