ROMAYA

ROMAYA
Marah... Tapi tetap professional


__ADS_3

"Lantas kenapa saat pernikahan kita ibu dan adikmu tidak hadir? Dan.... atas motif apa kau berpura pura menjadi lelaki miskin yang sebatang kara?"


Maya menahan sebak didadanya, hati nya masih tak bisa menerima pengakuan Pramana tentang masalah pernikahan mereka. Jika memang Pramana sangat tertarik pada Maya. Tentu saja ia akan mengenalkan Maya dengan keluarganya.


Banyak kebohongan yang kau tutupi selama ini mulai terbongkar mas... aku menyadari kekurangan ku tapi aku tak bisa terima dengan alasan mu barusan. Berapa kebohongan lagi yang masih kau simpan..


Pramana mencoba menetralisirkan keadaannya. Ia merangkul Maya membawa wanita itu kedalam kehangatan Pramana.


"Maaf Maya... aku bersalah padamu. Suatu saat kau akan bertemu dengan ibuku. Sekarang bukan saat yang tepat untuk kujelaskan semua padamu."


Air mata Maya jatuh mengiringi kekecewaannya pada orang yang mulai ia sayangi yang dia harap akan menjadi lelaki terakhir dalam hidupnya.


"Beri aku waktu untuk menyelesaikan semua nya sayang... percayalah.. aku benar benar mencintaimu. Cinta ku tulus pada mu Maya. Aku bahkan memilih mu dari pada wanita yang dijodohkan ibu padaku."


Maya mendongakan kepalanya menatap tajam Pramana. Ia menyeka air mata dengan tangannya secara kasar.


"Apakah aku juga perusak hubungan kau dan wanita itu mas? Ceritakan lebih jelas!!"

__ADS_1


Pramana merangkul Maya yang mencoba mengelak dari tangannya. Ia melihat wajah istrinya. Merasa bersalah atas apa yang sedang terjadi. Bahkan ia terbawa perasaan dengan tugas yang Ray berikan untuk melukai wanita itu dengan bayaran yang tinggi.


"Aku sudah bertunangan sebelum bertemu denganmu... sebentar lagi hari pernikahan kami. Tapi aku memilih mu Maya. Aku mencintaimu.... aku takan meninggalkan mu apapun yang terjadi. Percayalah...."


"Mas... aku ini seorang wanita, aku juga tau bagaimana perasaan wanita itu. Aku pikir kebahagiaan akan datang padaku seiring memudarnya penderitaan ku. Namun apa ini mas? Kau membuat ku semakin berdosa."


Maya melepaskan tangisannya. Ia masuk kekamar terdengar suara gaduh disana. Pramana dengan cepat melihat Maya kekamar.


"Sayang.. apa yang kau lakukan? Keluarkan semua bajumu... kau mau pergi kemana? Ini rumah mu. Maya... kumohon..."


"Jangan halangi aku... lebih baik aku mati saat itu. Dan hal ini takan kurasakan!!"


"Maya... dengarkan aku.. berhenti sayang.."


Maya tetap melangkahkan kakinya berlari jauh dari tempat itu. Seketika ia teringat akan pesanan baju dari buk Vika. Ia akan sangat dibenci dan membayar denda kerugian buk Vika. Juga jahitan beberapa warga yang akan dipakai serentak dalam sebuah acara.


Bagaimana ini... mana bisa ku korbankan orang lain karna perasaan ku yang sedang kacau seperti ini.. aku harus menyelesaikannya.

__ADS_1


Maya berhenti ditepi jalan. Mencoba berpikir lalu ia kembali berjalan Menuju rumah mereka.


"Sayang.. dengarkan aku."


Pramana sudah senang karna Maya tiba tiba berbalik dan melewati nya tanpa menyahuti Pramana. Ia mengikuti Maya kembali masuk kedalam rumah.


Saat akan mendekati pintu kamar, Maya tiba tiba berbalik dan mengejutkan Pramana. Ia sempat mundur beberapa langkah untuk menghindari tabrakan dengan tubuh Maya.


"Ingat... aku kembali bukan karna mu. Tapi karna warga disini dan kain jahitannya. Juga pesanan dari boutique Vika. Saat semua selesai aku akan benar benar pergi dari mu!!"


Pramana ternganga mendengar penjelasan Maya dan melihat istrinya menutup pintu kamar, terdengar pintu terkunci dari dalam.


"Sayang... kau mendapat pesanan May...?" Tak ada sahutan dari Maya. Pramana mencoba merengek lagi didepan pintu.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2