
Perjalanan kerumah sakit terasa sangat lambat bagi Maya. Ia menguatkan hatinya untuk menemui wanita yang telah merenggut nyawa Billy.
Maya mencoba berdamai dengan perasaannya. Berusaha menerima takdir yang Tuhan berikan pada keluarganya. Ia juga ingin memaafkan wanita itu.
Akan kah aku kuat nantinya?
Billy kuatkan mama sayang...
"Jika kau belum siap, kita bisa undur menjenguknya Sayang.."
pramana melihat istrinya yang terlihat gelisah. Dan ia menerima tatapan dari Maya. Entah apa artinya.
"Jangan merasa terpaksa Maya... Aku akan selalu mendukung apapun keputusanmu." Sambung Pramana yang fokus menyetir.
Maya menghela nafasnya, menyandarkan kepalanya dengan mata yang terpejam.
"Aku akan berusaha mas, aku tak ingin terlibat lebih lama lagi dengan perasaan ini."
Maya melihat lurus kedepan. Pikirannya berkecamuk. Ia harus memantapkan hatinya memaafkan wanita itu.
Pramana mengusap rambut Maya dengan lembut. Dan Maya tersenyum padanya.
Ia mengambil tangan Pramana dan mengecup telapak tangan suaminya.
"Tiba tiba aku sangat merindukanmu sayang..." Pramana menggoda Maya dengan menaikan kedua alisnya.
"Apa kita perlu mencari penginapan disekitar sini?"
Maya memukul lengan suaminya pelan. Dan mencibir sambil mengeluarkan lidahnya.
"Astaga... Aku tak kuat .." sorak Pramana sengaja bersikap segenit mungkin.
"Aku selalu siap kapan pun kau mau mas..." Maya mengedipkan sebelah Matanya sambil mengelus paha Pramana manja.
"Astaga.... " Pramana menghela nafasnya. Dan melonggarkan kerah kemejanya.
__ADS_1
Maya tertawa melihat tingkah Pramana. Ia tau suaminya itu sedang menghiburnya. Agar tak terlihat tegang dan gelisah.
Mereka berhenti diparkiran rumah sakit. Maya menghela nafas nya lagi, menguatkan hatinya. Dengan tujuan menghapus rasa dendam dalam hatinya.
Ia menyadari bahwa anak adalah titipan Tuhan, dan kapanpun Tuhan ingin mengambilnya itu akan terjadi. Walaupun dengan kondisi seperti apapun.
Kuatkan hatimu Maya... Berusahalah ikhlas... Ikhlaslah Maya...
Lepaskan dirimu dari belenggu ini.
Cobalah berdamai dengan keadaan.
Jalani hidup yang tenang dengan keluarga mu.
"Ayo sayang..." Ajak Pramana menggenggam jemari Maya.
Ia tersentak dari lamunannya. Dan berjalan mengikuti Pramana.
Mereka berjalan dilorong rumah sakit menuju kamar perawatan Raisa.
Jantung nya berdegup tak karuan. Mengikuti langkah demi langkah sampai akhirnya ia menemui titik itu. Dimana dirinya harus menerima dengan lapang dada.
"Selamat pagi tante.. om.." Pramana menyapa dengan sopan dan ramah pada pria dan wanita paruh baya tersebut.
"Selamat pagi juga Dewa .." sahut ayah Raisa.
"Maaf kami baru menjenguk Raisa sekarang tante... Boleh kah kami masuk? Istri saya ingin menyampaikan sesuatu pada Raisa."
Pramana menjelaskan perihal kedatangannya pada kedua orang tua Raisa.
"Silahkan... Kebetulan kami akan pergi sarapan. Tante titip Raisa ya..." Ibu Raisa menyentuh lengan Maya dengan tersenyum ramah padanya.
Maya hanya mengangguk membalas senyuman ibu Raisa. Ia masuk mengikuti Pramana kedalam ruang rawat Raisa.
Wanita cantik yang dulunya menyombongkan dirinya sangat bisa memiliki apa yang ia mau. Kini terlihat terbaring lemah dan tak berdaya diatas ranjang rumah sakit.
__ADS_1
Sumber makanan melalui infus yang terpasang ditangannya masih ada. Namun Ia masih bernafas dengan normal. Tubuhnya terlihat sangat kurus. Wajahnya pucat dan tak terawat.
Dimana Raisa yang dulu?
Yang terobsesi merebut milik ku.
Maya menggandeng tangan Pramana dengan sangat erat.
"Raisa... Maya ingin bicara dengan mu.." Pramana menyapa wanita itu. Berusaha bersikap biasa saja.
Pramana memberikan semangat pada istrinya. Ia memegang punggung tangan Maya yang erat memegang lengan nya yang kekar.
"Bicaralah sayang..." Bisik Pramana.
Bayangan Billy saat terluka melintas dimata Maya. Hatinya dipenuhi amarah. Wajahnya pun memerah. Menahan emosi yang selama ini ia pendam.
Sementara kedua orang tua Raisa berdiri didekat pintu yang sedikit terbuka. Mereka berharap Maya memaafkan putri mereka.
"Tenanglah... Semoga semua baik baik saja." Ayah Raisa menenangkan istrinya. Dan disahuti anggukan oleh ibu Raisa dengan berlinang air mata.
"Ayo sayang..."
"Mas..."
"Tidak apa... Bicaralah..." Pramana memberikan dukungan pada Maya.
"Raisa .." menyebut nama wanita itu membuat nya semakin diliputi amarah.
"A..aku .." Maya menelan salivanya.
"A.. aku... Aku .."
.
.
__ADS_1
.