
Setelah masuk keruangannya Maya memeriksa ponselnya. Banyak panggilan tak terjawab dari Pramana. Ia sedikit kaget, dan langsung menghubungi suaminya.
"Mas...." Maya menyapa Pramana dari balik telepon.
"Maya.. apa kau sibuk sayang?" Terdengar suara Pramana diseberang ponselnya.
"Ya.. tadi ada sedikit masalah dibutik. Tapi sudah selesai. Ada apa mas menelpon ku berkali kali? Apa terjadi sesuatu?"
Maya merasa khawatir karna belum pernah Pramana mengulangi panggilan tak terjawab sehingga banyak seperti ini.
"Oh... Syukurlah. Ada sesuatu yang ingin kuceritakan padamu. Turun lah kebawah .. aku sedang direstoran Bara."
"Baiklah... Aku akan turun."
Maya mematikan panggilan teleponnya. Lalu menemui Mulyani yang sedang sedikit sibuk.
"Mul... Mbak mau bertemu dengan mas Pram sebentar. Kamu jaga butik ya. Nanti akan mbak kirim makan siang kalian ke butik. Perhatikan pelanggan kita. Jangan sampai ada masalah lagi." Maya tersenyum memegang lengannya.
"Baik mbak... Mbak pergi saja."
Mulyani yang semakin hari semakin cantik itu tersenyum menatap kepergian Maya.
Para karyawan Maya memakai pakaian seragam yang terbuat dari batik. Tiap hari warna pakaian itu berbeda beda. Mereka diharuskan untuk memakai riasan bekerja disana.
Karna sesuatu yang indah akan lebih menarik perhatian pengunjung dan mereka tak sabar untuk melihat barang bagus dibutik Maya.
Apa lagi ada ruang tunggu yang bagi pelanggan yang lelah. Mereka bisa bersantai duduk di sofa empuk sembari menunggu kerabatnya selesai membeli.
Ruang tunggu itu juga dilengkapi dengan sebuah lemari pendingin yang menyediakan banyak jenis minuman dingin.
Makanya pelanggan dibutik Maya begitu senang untuk menghabiskan uang mereka disana. Karna pelayanan yang sangat baik. Juga karyawan nya sangat ramah dan cantik cantik.
Maya melihat suami nya tengah duduk disebuah sofa bundar. Ia bergegas kesana dan menyapa Pramana.
"Mas... Sudah lama ya?" Ia langsung duduk disebelah Pramana.
"Tidak sayang... Tadi kebetulan aku bertemu klien dan mengajak nya kesini."
Pramana membelai rambut istrinya dan memberikan kecupan dikening.
"Wah .. Tuan dan Nyonya Dewanto. Apa pesanan kalian sudah datang?"
Seorang pemilik restoran yang sangat terkenal di mall ini menyapa Pramana dan Maya. Ia bernama Bara yang sangat disukai Laura adik Pramana.
"Sebentar lagi juga sampai Tuan Bara." Jawab Pramana dengan tersenyum.
"Rupanya begitu .. "
"Restoran mu semakin lama semakin laris saja Bara .. aku salut padamu."
Pramana tak lagi memakai bahasa panggilan yang resmi. Ia terlihat santai.
"Aku juga tak menyangka Pram... Semoga ini bisa bertahan. " Bara tertawa.
"Semoga saja... Dan jangan lupa .. seseorang selalu menantikan mu." Canda Pramana.
"Tenang saja... Jika waktu nya sudah tepat aku akan segera menemui mu Pram..."
Keduanya larut dalam candaan mereka. Maya yang awalnya merasa heran hanya ikut tersenyum mendengar percakapan mereka.
"Naah... Makanan nya sudah datang.. silahkan kalian nikmati. Aku akan pergi." Bara undur diri dari hadapan mereka.
"Ya.. terimakasih..."
Makanan disajikan dengan baik, Maya menoleh Pramana berkali kali. Ia menunggu sebuah cerita yang akan diberitahukan padanya.
"Aku akan cerita setelah makan sayang... Aku sangat lapar. Ayo makan..."
Maya mengangguk dan menyantap makan siang mereka.
"Mas... Kau berteman dengan pemilik restoran ini?" Maya memecahkan keheningan suasana makan siang mereka.
"Ya.. dia teman SMA ku. Bara Prabowo... Kau tau sayang? Laura sangat menyukai nya.. heheh" jawab Pramana singkat.
"Jadi yang kau bilang menantinya itu adalah Laura?" Selidik Maya.
"Ya... Dia juga tau itu. Sampai sekarang ia tak pernah membawa seorang wanita disisinya... Semoga saja mereka berjodoh..." Jelas Pramana.
"Oh... Ternyata begitu... Semoga ya mas..."
.
.
.
Bersambung
.
__ADS_1
.
...*****************************************************...
.
.
Hi dear... pembaca setiakuh yang semakin caem.. 😘😍
Ini novel keempat othor yang masih on going. berjudul PENGGANTI HATI
pantengin setiap episodenya.
Novel remaja yang jauh dari adegan dewasa namun sangat seru untuk dibaca.
berkisah tentang gadis yang bernama Lulu . Pokoknya seru ..
Othor tungguin ya like dan komen kalian.
Simak bab 1 dan 2 nya.
.
.
1. LULU NARABELLA GANTARA
Berjalan sendirian diantara malam yang kelam. Seragam SMP masih melekat ditubuhnya. Sesekali menoleh kekiri dan kekanan. Memastikan dirinya aman. Karna kini ia sedang berjalan ditempat yang sepi. Hanya pepohonan dikiri kanannya.
Kaki ini sangat lama berjalan.. ga tau apa aku takut...
Langkah kaki nya tiba tiba berhenti, mencium aroma khas yang biasa ia cium. Tanpa sadar kaki nya melangkah cepat kearah yang mengeluarkan aroma menyengat. Dan ia berhenti disana, mendekati, memandang, bahkan menunjuk.
"Bang, baksonya satu ya. Ga pakai mie."
Gadis ini duduk dibelakang abang bakso yang memberikan aroma menyengat tadi. Membuat cacing diperutnya tak sabar ingin memcicipi.
"Baksonya neng, ini sambal nya ambil sendiri sesuai selera."
Abang bakso meletakan semangkok bakso dan sedikit sambal diatas kursi kayu panjang.
"Waah... makasi ya bang. Mantap dah.."
Lulu Narabella Gantara, gadis manis 14 tahun pecinta bakso. Baginya, bakso is the best... tiada yang lebih enak dan menggugah selera selain bakso. Bahkan saat sedang menangis, jika disuguhkan bakso, wajahnya akan sumringah seketika. Dengan cepat dia akan melupakan semua sebab dan akibat ia menangis.
"Ga neng, cuma Jumat, sabtu dan minggu saja. Klo senin sampai kamis saya mangkal didepan SMP TRI SAKTI." Jelas abang bakso dengan sangat rinci.
"Benaran bang di SMP TRI SAKTI, saya kan sekolah disana, kenapa abang nya ga keliatan ya? Tapi ga apa apa bang.. besok saya akan kesini lagi. Bakso nya endang surendang..." ucap Lulu menirukan acara reality show disalah satu stasiun TV.
"Waah.. bisa aja si eneng saya jadi tersandung.." abang bakso yang bernama Mail itu tersenyum sambil melap lap meja dihadapan Lulu.
"Tersanjung bang... kalau tersandung mah jatuh.." ucap Lulu yang ikut tertawa mendengar kelucuan abang tukang bakso.
"Berapa an bang?" Lulu merogoh sakunya. setelah menghabiskan semangkok bakso.
"Bakso satu bang, ga pakai mie." Salah seorang pelanggan bang Mail datang. Dan langsung duduk saat Lulu berdiri.
"Lima belas neng..." jawab bang Mail sambil meracik bakso pesanan pelanggannya
"Kembali lima dong kalau gitu... hehehh" Lulu menyodorkan uang dua puluh ribuan. Sesekali melirik pelanggan bang Mail.
"Makasi neng.." bang Mail menyerahkan kembaliannya.
"Sama sama bang.. bakso bang Mail. Ooh.. jadi namanya bang Mail." Lulu melihat nama yang tertera didepan gerobak bakso.
"Iya neng... hehehe"
Lulu pergi dari tempat itu. Sekarang rasa takutnya sedikit berkurang. Mungkin karna sekarang perutnya sudah terisi. Pikiran tak lagi melanglang buana kecerita horor yang ia baca dirumah Nadifa.
Ia membuka pagar rumah nya yang terbuat dari besi berwarna hitam. Melebihi dari tinggi tubuhnya.
"Udah pulang neng?" Sapa pak Kum, satpam rumahnya.
"Udah pak.. hmmm pak Kum sehat?" Jawab Lulu berhenti dan melihat satpamnya.
"Alhamdulillah sehat neng..." jawab pak Kum heran.
"Syukurlah... jangan lupa dikunci pagarnya pak."
Lulu masuk kedalam rumahnya. Keadaan rumah masih gelap. Ia tinggal bersama ayah dan kakak laki lakinya. Ibu mereka telah lama meninggal sejak Lulu berumur 9 tahun karena kanker payudara.
Pasti Ayah sama mas Meko belum pulang. Mas Meko tumben telat pulang. Ahh... sepi sekali.
Lulu merebahkan dirinya disofa ruang tamu. Memandang rumah nya sekeliling.
"Untuk apa rumah sebesar ini. Jika tiap malam hanya aku sendiri. Hanya ditemani mbok En."
"Non... udah pulang?" Terdengar suara Mbok En yang dimaksud Lulu.
__ADS_1
"Kan orang nya langsung nongol.
Udah mbok... aku juga udah makan." Lulu tersenyum melihat mbok En berjalan mendekatinya.
"Pasti makan bakso lagi ya? Nanti perut nya non Lulu bengkak bengkak, karna banyak bakso didalamnya. Trus sakit... kan bumbu nya keras non.." mbok En duduk disebelah Lulu.
.
.
.
Bersambung
.
.
.
MERINDUKAN BUNDA
"Masa sih mbok, baksonya kan aku kunyah dulu agar halus. Ga ditelan bulat bulat lho mbok. Nah ini... ga bengkak bengkak... "
Lulu tertawa menyandarkan kepalanya kebahu Mbok En yang selalu wangi sepanjang hari seperti Peggy.
"Lha iya toh non, mesin didalam perut kita mana bisa menghaluskan baksonya.. pasti ada yang masih bulat"
Mbok En serius bicara mengenai pencernaan manusia. Yang katanya ada mesin didalam perut Lulu. Nona muda nya memeluk gemas mbok En. Wanita paruh baya yang berumur 55 tahun, berasal dari surabaya.
Mbok En sudah lama bekerja dirumah keluarga EL Gantara. Semenjak istrinya Ayudia sedang hamil Meko, putra pertama mereka. Mbok En yang sudah menjadi janda diterima bekerja disana oleh Ayudia karna menolong nya kecopetan saat dipasar.
Karna kasihan dengan mbok En yang jadi buruh cuci, mencari pelanggan kesana kemari. Akhirnya mbok En dibawa kerumahnya menjadi ahli masak. Sedang kan ahli cuci dan beres beres rumah diserahkan pada bik Nam.
Mbok En memperlakukan Lulu seperti cucunya sendiri. Dari bayi mbok En ikut merawat Lulu. Apalagi disaat Ayudia terbaring 2 tahun dirumah sakit. Lulu sudah diurus mbok En. Makanya hubungan mereka dekat.
"Mbok... aku buka praktek jahit disini? Mbok ada ada aja. Aku mau kekamar ya mbok. Lebih baik mbok istirahat. Udah malam lho... capek kan.. ntar mbok sakit. Aku siapa yang jaga?"
Lulu menatap hangat wajah wanita tua disebelahnya. Ia memberi ciuman hangat dipipi pengasuhnya.
"Mbok wangi sekali... seperti Peggy"
Mbok En terdiam menatap nona mudanya berjalan kearah kamar nya. Tanpa sadar air mata mbok En mengalir membasahi pipinya yang tak lagi mulus.
Non... simbok sayang sekali dengan non Lulu. Mbok akan selalu disini sampai mbok mati non. Mbok udah berjanji pada nyonya Ayudia akan merawat non Lulu dengan baik selayaknya keluarga sendiri...
Mbok En berjalan kearah kamarnya. Ia merasa kasihan dengan Lulu. Kehilangan ibu dan juga tak mendapat perhatian dari ayah mereka.
...***...
"Aahhhhh... aku lelah sekali. Selalu berjalan kaki. Lama lama betis ku bisa membesar."
Lulu begumam menatap langit dari jendela kamarnya. Ia melihat bintang yang masih nampak sinarnya diantara lampu lampu kota yang masih terang menyala.
"Bunda... hari ini aku mendapat nilai bagus. Aku akan lebih giat lagi bunda. Tadi aku mampir kerumah Nadifa, dia punya cerita horor yang bagus. Aku membaca nya disana... ga tau nya udah malam aja."
Lulu seolah olah sedang berbicara pada bundanya sambil menatap bintang dilangit memeluk boneka beruang berwarna pink yang besarnya hampir sama dengannya diberi nama Peggy.
"Lain kali kamu jangan seperti itu lagi ya. Kamu boleh melakukan apa yang kamu sukai Lulu. Tapi selalu ingat waktu. Belajarlah disiplin. Sebentar lagi kamu akan menginjak jenjang SMA. Semua harus tepat pada waktu nya Lulu."
Lulu bicara menirukan gaya bundanya dengan menggerak gerakan Peggy menghadap padanya. Ia tertawa kecil sambil menggeleng gelengkan kepalanya.
"Baik bunda. Aku minta maaf... aku akan menjadi anak yang baik. Supaya bunda ga nyesal melahirkan aku." Suaranya lirih.
Dia memeluk erat Peggy bonekanya. Bulir bulir indah bening menetes dari sudut matanya. Lulu terduduk dibawah jendela. Ia semakin mengeratkan pelukannya pada boneka.
"Bunda... Lulu kangen. . Hiks..hiks... kenapa sih bunda ninggalin Lulu. Kenapa ga dibawa aja. Biar bunda ada yang nemani. Ga enak sendirian bunda... Lulu kesepian, sendiri sekarang. Bunda.... Lulu Kangeen..."
Tangisan gadis belia itu pecah didalam pelukan bonekanya. Ia melepaskan segala kesedihannya dimalam itu. Tanpa sadar seseorang mendengar dari balik pintu kamarnya. Ikut merasakan kesedihan yang Lulu rasakan.
"Bunda aku juga kangen...."
.
.
.
Bersambung.
kepoin kuy...
salam cintoh
Calisa Ardi
__ADS_1