
"Romi..."
Seseorang memanggil Romi dari arah belakang mereka. Mereka serentak menoleh. Disana Mona sedang berdiri menunggu Romi menghampirinya.
"Temani dia.. mbak akan pulang sendiri. Ini juga belum terlalu malam."
Maya memberikan sebuah senyuman saat Mona menyapanya dengan sebuah senyuman.
Gadis ini masih bisa tersenyum pada ku dan Romi. Setelah apa yang terjadi pada ayahnya. Semoga tak ada yang menghalangi perjalanan mereka.
"Benar mbak ga apa apa sendirian pulang? Bagaimana jika aku antar dulu."
Romi cemas membiarkan Maya pulang sendirian. Ia takut kakaknya akan berbuat hal yang aneh aneh.
"Mbak bisa sendiri.. pergilah."
Karna melihat percakapan kedua kakak adik itu. Mona menghampiri mereka lebih dekat.
"Ada apa Romi?" Mona bertanya setelah berdiri disamping Romi.
"Kau tak keberatan jika kita antar Mbak Maya pulang kerumah dulu?" Maya memegang lengan Mona.
"Tak apa.. tak baik juga wanita berjalan seorang diri malam begini bukan?"
Maya tersenyum melihat kebaikan hati gadis cantik didepannya. Perasaan bersalah nya semakin mendalam.
Tak sengaja ia meneteskan air matanya. Kemudian membalikan tubuhnya untuk melangkah kedepan.
"Baiklah jika kalian memaksa..."
__ADS_1
Mereka mengantar Maya sampai kerumah. Kemudian Romi kembali pergi mengajak Mona kesuatu tempat.
"Kita mau kemana?" Mona menggandeng tangan Romi mengikuti arah perjalanan nya.
"Tempat dimana aku sering menghabiskan waktu sendiri ketika sedang sulit. Atau sedang sedih seperti hati mu saat sekarang ini. Sebuah tempat yang sangat rahasia"
Mona mengeratkan pegangan nya pada tangan Romi. Ia berjalan, mengikuti dan mempercayakan semua pada kekasih hatinya.
"Nah disini tempatnya..."
Mona melihat disekelilingnya hanya ada pohon pohon besar dan lapangan luas didepannya.
"Tempat ini bukankah yang biasa kita lewati saat pergi kesekolah Romi. Apa kita mau berdiri disini dimalam gelap gulita seperti ini?"
Romi mengajak Mona mendekati salah satu pohon yang lumayan besar. Ia menyalakan senter kecil yang diambil dari sakunya.
"Apa kau bisa naik keatas sana?"
"Tinggi sekali... bagaimana kita bisa naik Romi?"
"Bersiaplah..."
Dengan menggunakan sebuah tali besar yang ia ambil dari balik ranting kayu, tali itu sudah diberi simpul.
Romi membantu Mona naik keatas pohon yang sudah ia sulap menjadi sebuah ruangan ditengah rimbunnya pepohonan itu.
Bahkan jika pun seseorang melihat dari bawah tak akan menemukan sebuah tempat rahasia yang diolah Romi sedemikian rupa.
Mona membelalak an matanya takjub dengan ruangan pribadi Romi. Ia menyalakan sebuah lilin yang sudah tersedia didalam sana.
__ADS_1
"Ini sangat bagus... aku setiap hari melewati ini. Tapi tak pernah tau ada yang seperti ini disini."
Mona sedikit membungkuk karna ruangan itu tak setinggi dirinya. Romi membersihkan tempat untuk Mona.
Ia menggelar sebuah tikar kecil dan memberikan sebuah selimut untuk menghangatkan Mona. Karna diatas sini lumayan terasa dingin.
"Terima kasih... selamat datang di Siklus, aku membuatnya sudah sejak SMP sayang. Hanya aku yang tau dan kau orang kedua." Romi membelai kepala Mona.
"Uhumm... ini sangat bagus. Juga sedikit luas. Muat untuk Tujuh orang. Menurut perkiraan ku..." Mona menelusuri tiap ruangan yang temaram cahaya lilin.
Dan sepasang mata Dihadapannya yang menatapnya dengan hangat. Dibalik cahaya lilin yang hanya menampakan garis garis wajah mereka, pandangan itu bertemu.
Menimbulkan desiran yang aneh didada mereka. Romi menetralisirkan dirinya agar tak berbuat yang aneh aneh.
"Bagaimana dengan prosesi pemakaman ayah mu?" Tanya Romi mengalihkan.
"Berjalan lancar..." jawab Mona.
"Bagaimana perasaan mu sekarang Mona? Setelah tak memiliki ayah"
Mona menarik nafasnya dan melepaskan nya pelan. Ia menatap wajah tampan miliknya yang masih menatapnya dibalik cahaya redup lilin.
"Sejujurnya... sekarang perasaan ku lebih baik. Keluarga besar ku datang mereka memberikan semangat untuk aku dan bunda. Dan sekarang aku bersama mu. Jadi mungkin rasa sedih ini takan berlangsung lama."
"Kenapa bisa seperti itu? Ini hari pertama kepergian ayah mu.."
.
.
__ADS_1
.
Bersambung