ROMAYA

ROMAYA
Tidak akan tergoda


__ADS_3

"Aku serius... Tapi .. kau harus pertemukan aku dengan ibu dan adikmu hari ini juga..." Permintaan Maya mantap menatap suaminya penuh arti.


"Baiklah .." jawab Pramana sambil menatap Maya sesaat.


"Kalau begitu aku akan bersiap siap setelah membereskan ini." Maya tampak sumringah.


"Sayang .. kau tampak senang. Apa kau tak gugup?"


"Aku sangat senang... aku bisa memaanggil ibu lagi dari mertuaku.."


Pramana terdiam mendengar perkataan Maya. Ia mengelus kepala istrinya dan mengecup kening Maya.


"Aku mencintai mu sayang .."


"Aku lebih mencintai mas..." Maya menoleh dengan senyuman termanis yang ia punya.


"Tadi aku menerima pekerja baru untuk membantu ku menjahit mas .. Dia Mulyani anaknya buk Iroh yang baru meninggal minggu lalu. Kasian... Dia ingin kuliah.. tapi kasian dengan bapaknya yang sudah renta mencari uang.


Aku boleh membawanya sebagai pekerja ku?"


"Jika kamu butuh boleh boleh saja. Tapi pendapat ku.. jangan dibawa kerumah kita ya. Dia bisa iri melihat kemesraan kita. Bisa bisa ia jatuh hati padaku.."

__ADS_1


Pramana mengedipkan sebelah matanya pada Maya. Sambil berjalan kedepan ruang tamu.


Maya terpaku mendengar Pramana bicara. Memang benar semua yang suaminya bilang. Memasukan wanita lain kedalam rumah sendiri sama saja membuat api unggun dalam rumah tangga. Yang sewaktu waktu bisa membakar kita.


"Aku jadi ngeri membayangkan itu terjadi .. Mulyani gadis yang baik kok Mas .."


Maya menyusul suami nya yang sedang duduk diruang tamu. Sementara ia mengambil sebuah baju yang selesai ia jahit kemaren yang sudah ia niatkan untuk dipakai saat bertemu keluarga Pramana.


Tak lupa memasukan kedalam tas dua stel pakaian yang sudah lengkap ia beri merk Romaya. Baju yang mulai digemari banyak kalangan.


"Semua orang baik sayang .. hanya waktu yang membuat perubahan pada pikiran sehatnya.


Makanya... Aku tak mau bermesraan didepan umum dengan mu. Karna siapa saja bisa melihat karna mereka punya mata. Siapa saja merasa ingin berada diposisi kita. Tak menutup kemungkinan mereka bisa menyingkirkan seseorang yang terasa menghalangi keinginan terbesar nya.


Sebab kadang kadang lelaki yang setia bisa menjadi khilaf karna sosok wanita seperti ini. Disanalah adanya pelakor, karna lelaki itu merespon nya. Jadi dengan adanya feedback.. semua bisa terjadi diluar kendali seseorang..........."


Maya menghentikan perkataan Pramana yang panjang lebar dengan sebuah ciuman yang langsung dibalas oleh Pramana. Buru buru Maya melepaskan nya. Sebelum terjadi hal hal yang mereka inginkan 🤭.


"Cukup... Cukup... Aku akan mencari cara untuk mengatasinya. Jika kita pindah rumah .. tempat ini akan aku jadikan usaha produksi. Boleh kan mas?"


"Tentu saja boleh...

__ADS_1


Ayo kita teruskan lagi.. ciuman tadi terputus.." Pramana merentangkan tangannya menunggu Maya.


"Aku akan ganti baju untuk segera menemui keluarga mu .."


Maya langsung masuk kedalam kamar. Ia menggeleng kan kepalanya melihat tingkah Pramana yang dulu nya abstrak, sekarang satu persatu terlihat lebih jelas baginya.


Maya... Maya... Kecuali aku yang takan tergoda pada perempuan manapun. Bahkan ia telah menduduki Jonoku... Aku takan tergoda untuk berpaling darimu.... Naah... Itu kalimat akhirnya. Seharusnya kau dengar sampai disana sayang...


"Mas ayo cepat ganti pakaian... Kenapa masih duduk disana."


Lamunan Pramana dikejutkan oleh teriakan Maya dari dalam kamar.


"Iya... Sayang ku .. sebentar."


Pramana mematikan rokoknya lalu berjalan masuk kedalam kamar. Bersiap siap untuk pergi kerumah orang tuanya membawa Maya untuk dikenalkan pada ibunya.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2