ROMAYA

ROMAYA
Sebuah hadiah


__ADS_3

"Tapi Jini ku belum kuat menerima serangan dari Jono. Jangan alihkan pembicaraan. Kau selalu ingin melakukannya."


Pramana tertawa terbahak bahak mendengar jawaban Maya.


"Sejak kapan dia bernama Jini?" Masih dengan tawanya.


"Semenjak ada Jono .." Maya juga ikut tertawa karna pembicaraan mereka yang tak masuk akal.


Pramana menghentikan mobilnya disebuah mall didaerah itu. Wajah nya begitu sumringah karna membayangkan bagaimana Maya akan menerima yang telah ia persiapkan.


"Kenapa mengajak ku kesini mas?"


Maya ikut turun dari mobil melihat Pramana langsung turun dari mobilnya. Langsung berdiri disamping suaminya.


"Ayo .."


Mereka berjalan masuk kedalam mall tersebut. Seorang pria menghampiri mereka.


"Selamat siang Tuan, nyonya Dewanto. Silahkan ikuti saya .."


Dengan wajah penasaran Maya mengikuti lelaki tadi.


"Sayang .. kau ratu disini..."


Pramana mengedipkan sebelah matanya. Maya tersenyum mendengar ucapan suaminya. Dan terus berjalan menggandeng suaminya.


"Mas ada ada saja..."


Setelah sampai pada sebuah pintu. Sepertinya itu kantor. Mereka masuk dan duduk diatas sofa.


"Selamat datang Tuan dan Nyonya Dewanto. Maaf Tuan, kami hanya menyambut kalian seperti ini. Karna Trisno begitu mendadak memberi tahu semua ini."


Sambutan salah seorang lelaki paruh baya yang sudah berada didalam kantor tersebut pada Pramana dan Maya.

__ADS_1


*Iya... Pak Gun saya hanya ingin sesuatu yang berbeda untuk sebuah hadiah. Maafkan saya sudah merepotkan anda."


Pramana menoleh kearah Maya yang tampak tak mengerti semua yang sudah dilakukan Pramana.


"Tidak masalah Tuan. Kenapa saya merasa direpotkan oleh Dirut perusahaan ini."


Apa?


Direktur utama?


Suami ku?


Aku tak percaya...


"Apa ibu sudah datang?" Pramana menoleh kearah Trisno.


"Sudah Tuan, mereka menunggu diruangan anda."


"Baiklah.. jika begitu apa kita sudah bisa mulai sekarang?" Semua yang hadir mengangguk setuju.


Lelaki paruh baya yang dipanggil Pramana pak Gun berjalan didepan. Sementara Pramana dan Maya mengikuti dari belakang.


Maya sejak tadi hanya mengamati apa tindak tanduk mereka semua. Dia pikir Pramana hanya membawa nya kesini untuk urusan pekerjaan. Makanya dia tak berani bersuara bahkan sekedar untuk bertanya pada Pramana.


"Sayang .. bersiaplah..."


"Aku? Kenapa?"


"Lihatlah..."


Mereka masuk kedalam sebuah ruangan yang sangat luas. Bahkan terdapat banyak patung patung yang masih bersegel. Rak kaca dengan hiasan mewah. Menambah asri ruangan itu.


Maya memperhatikan dinding disamping kiri ruangan itu. Terdapat seperti aquarium berukuran luas disertai bermacam hewan dan tumbuhan laut didalamnya.

__ADS_1


Wah .. ini mewah sekali... Sangat unik


Ini seperti toko atau butik?


Jika saja aku bisa mengisi tempat ini dengan karya ku.. semua akan terlihat elegan dan indah..


Disudut kanan ruangan itu terdapat sebuah taman mini yang dilengkapi dengan bunga bunga yang indah. Disertai air mancur yang terus mengalir. Semua berwarna putih.


Cantik sekali... Tempat apa ini sebenarnya?


"Disini juga ada ruangan pribadi Tuan.. silahkan"


Pramana dan Maya masuk kedalam mengikuti pak Gun. Ruangan ini dilengkapi dengan sebuah lemari kaca yang panjang dan tinggi. Sebua meja kaca disudutnya. Juga sepasang sofa berwarna merah.


"Ini seperti kantor ya mas?"


"Mungkin..." Pramana tersenyum melihat aura kagum pada wajah Maya.


"Dan disini ruang istirahatnya Nyonya. Anda hanya menggeser patung ini.. maka..."


Pak Gun membuat Maya terkagum kagum. Ia melihat sebuah kamar lengkap dengan isinya.


"Dan Dimana ruangan produksinya pak Gun?"


Pak Gun berjalan keluar dari ruangan kantor tersebut. Ia berjalan dibawah tanaman mati yang menggantung.


"Disini Tuan. Saya hanya meletakan 4 buah mesin jahit lengkap. Disebelah kiri ada 2 toilet."


.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2