
Maya duduk dibalkon kamarnya, menikmati semilir angin yang berhembus sepoi sepoi. Piyamanya berterbangan dengan indah. Ditemani indahnya cahaya rembulan.
Ia berjibaku dengan pikirannya, memahami makna dibalik ucapan Ray dan Romi. Mencoba mengalah dengan keadaan.
Ia harus ikhlas menerima kenyataan bahwa Putranya kini telah kembali kepada penciptanya.
Maya memaksa dirinya untuk tak bersikap angkuh dengan cara memaafkan segala kesalahan Raisa. Dengan satu catatan, ia tetap harus diproses secara hukum jika Raisa sembuh nantinya.
Hatinya sedikit lega, keputusan yang ia ambil sekira nya dapat mengurangi beban wanita jahat dalam hidupnya.
Terasa sebuah tangan memeluknya dari belakang, mulut kecil itu mengecup pipinya. Maya membuka mata, ternyata ia bermimpi dengan Billy. Dirinya yang tersandar disofa balkon kamar hingga terlelap.
"Sayang, apa kau juga berharap mama memaafkan wanita yang menyebabkan kematian mu sayang?" Air mata Maya jatuh seketika. Ia memeluk tubuhnya sendiri, merasakan pelukan Billy.
"Apakah kau mendatangi mama Billy? Billy... Anakku sayang... Mama sangat merindukanmu..." Maya bergumam sambil menangis.
"Aku tidak bermimpi, aku hanya memejamkan mataku sebentar... Billy memang datang padaku."
Maya menahan suaranya agar Pramana tidak bangun dan cemas dengan keadaannya. Setelah berpuas mengungkapkan kerinduan lewat kesedihannya. Maya kembali masuk kedalam kamarnya.
Ia berbaring disamping Pramana, melirik jam diatas nakas yang sudah menunjukan pukul satu dini hari. Matanya sangat mengantuk, ia memejamkan mata hingga akhirnya terlelap hingga pagi menjelang.
...****...
"Mas, hari ini aku mau kerumah sakit." Maya membuka obrolan dipagi hari.
Linda dan Laura melihat kearah Maya sambil terus menyantap makanan nya.
"Akan aku temani, setelah mengantar Obi kesekolah." Jawab Pramana tersenyum. Ia sudah bisa menerka apa keputusan istrinya.
"Kalian akan menjenguk Raisa?" Tanya Linda ingin tau.
__ADS_1
"Ya bu, aku sudah mendapatkan keputusan." Jawab Maya pada ibu mertuanya.
"Memaafkan nya?" Tanya Linda lagi penasaran.
"Billy pun demikian, aku hanya memenuhi keinginannya bu..." Jawab Maya teringat dengan kejadian semalam.
"Ibu bangga dengan mu Maya..." Linda memberikan semangat untuk menantunya tersebut.
"Karna tak ada gunanya menyimpan dendam terlalu lama bu, Billy kita tidak akan kembali lagi. Aku tak ingin mendahului sifat Tuhan, seperti perkataan Romi semalam." Sambung Maya.
Laura memberikan Maya dua jempolnya dengan mulut yang masih berisi. Pramana menggenggam tangan Maya, menyalurkan energinya untuk Maya.
"Aku mendukungmu, segala keputusan terbaik mu adalah keputusan ku juga."
Linda tersenyum melihat kemesraan anak dan menantunya.
"Pram, ibu harap masalah ini bisa selesai secepatnya. Karna ini sudah dua tahun berlalu.." Linda menghentikan ucapannya. Meneguk air putih dan mengelap mulutnya dengan tisu.
Apa ada hal yang penting bu?" Pramana memandang ibunya yang mulai terlihat serius.
"Bara akan datang bersama keluarga nya untuk melamar Laura. Ibu ingin kau mengurus nya... Ibu tak bisa mengatasi sendirian. Saat ini kau dan Maya Yang ibu andalkan."
Mata Pramana terbelalak, ia kemudian menoleh kearah Laura yang tersipu malu. Dan mengangguk senang.
"Luar biasa, kukira kalian hanya bercanda. Memang saat itu Bara pernah hilang, saat Laura lulus ia akan datang melamar. Ternyata kalian sudah menjalin hubungan cukup lama." Pramana terlihat berbinar binar.
"Pernikahan Laura awal dari kehidupan kita tanpa dendam mas." Maya kemudian berdiri dibelakang Linda.
"Soal ini ibu tenang saja. Aku akan kerah kan tenaga... Kita akan mengurusnya hingga acara itu berjalan tertib dan lancar." Linda mengalungkan tangannya kepipi Maya dan mendekatkan kepala mereka.
"Sudah... Sudah... Sudah... Aku semakin terharu!" Ucap Laura sambil mengusap matanya dengan tisu.
__ADS_1
"Aku sangat bahagia untuk mu Laura..." Laura berdiri dan menghampiri Pramana. Memeluk kakaknya dari belakang.
"Mas, mas terbaik didunia... Berkat mu aku bisa seperti ini... Makasi ya mas..." Laura mengecup kedua pipi Pramana.
Pagi itu mereka lalui dengan kebahagiaan dan gelak tawa. Obi juga ikut tersenyum mengacungkan jempolnya kearah Laura.
"Mama, siapa Billy yang mama maksud?" Tanya Obi tiba tiba membuat Maya tercengang.
"Billy... Saudara kembarmu.." jawab Pramana.
Cukuplah bocah ini tau jika dirinya kembar. Dan dia bisa memakai nama aslinya, Robbi Aji Dewanto. Tanpa embel embel nama Billy dihidupnya.
"Jika Billy masih ada, aku akan mempunyai banyak saudara..."
Pramana dan Maya mengelus kepala Obi. Mereka sepakat memakaikan nama pemberian ibu panti pada Obi. Karna Maya dan Pramana mengadopsi nya. Maka Pramana menyematkan namanya dibelakang nama Obi.
"Tentu sayang, kita kirim doa untu Billy disyurga ya... Dan ada Alara juga Altan disini... Mas Obi masih mempunyai saudara kok..." Bocah itu tersenyum memperlihatkan giginya saat Maya berkata demikian.
"Obi senang disini, punya mama, papa, oma, aunty juga adik kembar... Obi ga sendiri lagi. Seperti dipanti dulu..."
Maya tercengang, ternyata anak ini ingat dengan masa masa nya dipanti.
"Benar sayang, disini keluarga Obi sekarang.."
.
.
.
__ADS_1