
"Disinilah kamu kahirnya nak. Terimakasih sudah menemani mama selama 2 tahun ini. Tuhan begitu sayang padamu sayang .. tak ingin melihat mu hidup didunia fana yang penuh dosa dan kepura puraan. Sehingga kamu tak merasakan kejamnya dunia yang sesungguhnya. Abadi lah di syurga Tuhan sayang .. sisakan tempat untuk mama dan papa disana."
Maya menyiram kuburan kecil dengan air mawar dan bunga bunga yang telah disiapkan. Tangannya menyentuh papan nisan Billy.
Hanya beberapa waktu dilalui nya hidup didunia ini. Menemani orang tua yang sangat menyayanginya. Manusia boleh berencana, tapi tetap saja, Tuhan pemilik segalanya. Dan tak ada yang dapat merubah dan bahkan sekedar menawarnya.
"Maya.. ayo kita pulang sayang... Sebentar lagi akan turun hujan. Ini juga sudah terlalu sore." Ajak Linda berdiri dibelakang Maya yang masih menatap makam Billy.
"Sebentar saja bu..." Jawab Maya tanpa menoleh.
"Nak Romi, temani mbak mu disini ya. Ibu dukuan pulang. Kepala ku rasanya sangat sakit." Ujar Linda pada Romi yang berdiri disebelah Maya.
"Aku akan disini bu. Laura temani ibu pulang. Temani beliau." Kata Romi pada Laura.
"Kalau begitu aku duluan...
Mbak... Laura duluan pulang ya... Ibu masih pusing."
Maya menanggapi dengan anggukan bisikan Laura. Sekarang tersisa Romi, Mona, Lana dan Ray. Trisno dan Mulyani juga disana, masih ingin menemani istri atasannya.
"Pulanglah... Kalian pasti lelah. Aku akan menemani Billy. Sebentar lagi ia tertidur..."
Maya mulai bicara asal. Mereka semua saling menatap. Sama sama berpikir akan membawa Maya pulang. Karna tak baik membiarkan dia lama lama disini.
"Maya... Ayo kita pulang" ajak Ray.
"Sebentar lagi Ray ... Dia masih menangis." Jawab Maya mengusap tanah makam Billy. Air matanya tak lagi mengalir.
__ADS_1
"Romi .." Ray melihat kearah Romi agar berbicara pada Maya.
"Mbak, sebentar lagi akan turun hujan. Ini juga sudah senja. Kita sudah terlalu lama disini. Sebaiknya kita pulang" ajak Romi membungkuk kan tubuhnya memegang kedua lengan Maya.
"Lepaskan Romi ..!!" Sarkas Maya dengan wajah datar.
"Tapi mbak.." Romi tetap kukuh ingin membawa Maya pulang.
"Lepaskan!!" Teriak Maya. Semua yang disana terkejut.
Maya menatap tajam kearah Romi. Lalu kembali menatap sendu makam Billy.
"Jika saja Pramana tidak lalai saat bersama Billy, semua ini takan terjadi. Kenapa bukan dia saja yang mati... Pramana harus mati! Dia telah membunuh anakku. Dia penyebabnya .."
Maya mulai meracau, bahkan menyalahkan suaminya sendiri. Ia mengingat kejadian dipesta ulang tahun. Saat Pramana lengah seseorang telah menusuk Billy.
"Billy .. bawa mama bersama mu nak...
Mama ingin memeluk mu sayang... Disana pasti gelap dan banyak cacing. Kamu pasti kedinginan sayang. Billy ..."
Maya meluapkan kesedihan yang sejak tadi ia tahan. Ia bahkan mencakar tanah makam Billy.
Melihat hal itu Romi dan Mona dengan cepat memeluknya. Air mata mereka turun melihat kesedihan seorang ibu yang sedang ditinggalkan anaknya untuk selamanya.
"Mbak... " Panggil Mona dengan suara parau.
"Billyyyyyu.... Mama ingin menemani mu sayang... Anakkuuuu...."
__ADS_1
Seketika tubuh Maya ambruk. Ia tak sadarkan diri. Ray dan Romi bergegas membawa Maya untuk naik kedalam mobil.
Hujan sudah mulai menetes. Dengan cepat Trisno memperbaiki makam Billy yang sudah dirusak oleh Maya.
"Mas... Jangan lupa papan nisannya." Mulyani memberikan papan nisan yang sempat dicabut oleh Maya tadi.
"Ya dek Yani... Ayo cepat .. sebaiknya kuta pulang. Sebentar lagi akan turun hujan deras."
Trisno dan Mulyani berlari menuju mobil mereka, karna hujan sudah mulai turun.
Mereka melajukan mobilnya menuju kediaman Maya. Diperjalanan Ray sempat menghubungi Trisno melalui panggilan telepon. Ia menyuruh Trisno untuk pulang. Dan kembali lagi saat diadakan pengajian untuk Billy dirumah Atasannya.
Maya yang masih pingsan digendong masuk kedalam kamarnya oleh Romi. Sementara itu Ray dan Lana pamit untuk pulang sebentar. Dan akan balik nanti malam.
Mona dan Laura mengantar mereka sampai kehalaman depan.
"Mas... Jangan telat ya .." bisik Mona pada kakanya Ray.
"Ya... Kami hanya berganti pakaian." Jawab Ray dan langsung melajukan Mobilnya keluar pagar rumah Maya.
.
.
.
__ADS_1