ROMAYA

ROMAYA
Tertangkapnya Tono


__ADS_3

Mereka berulang kali melakukan penyatuan didalam kamar kecil diklub tersebut.


Dua orang laki laki tiba tiba mendobrak pintu kamar mereka. Tono masih menyelesaikan kegiatannya. Sementara Alin sudah berteriak memukul dada Tono karna melihat beberapa orang polisi memasuki kamar mereka.


Tono memompa Alin sampai mendapatkan pelepasan, dan saat itu juga Tono ditarik paksa oleh petugas kepolisian. Sehingga membuat cairan yang keluar berserakan kemana mana.


Alin berteriak dengan cepat memungut pakaiannya dan berlari keluar mengenakan selimut yang membungkus tubuhnya.


Dengan tak tau malu Tono masih memejamkan matanya merasakan kenikmatan Alin dengan tubuh yang bergetar getar.


"Dasar tak tau malu...!!"


Salah seorang dari petugas polisi melempar celana Tono kehadapannya. Dengan cepat Tono memakai celananya.


Seakan baru tersadar dari koma, Tono terkejut melihat banyak petugas polisi. Ia langsung melangkahkan kakinya hendak berlari.


Namun naas, kaki yang sudah lelah dipakai untuk bercinta beberapa jam dengan Alin ternyata sudah sangat lemas. Ia terjatuh ketika melewati pintu.


"Saudara Tono anda ditangkap karna tuduhan pelecehan dan pemerkosaan pada wanita dikampung Rengger. Kami membawa surat penangkapan untuk anda.


Mata Tono terbelalak melihat surat yang dilihatkan polisi padanya. Dengan sigap petugas kepolisian memborgol tangan Tono dan menyeretnya dari ruangan klub remang remang.


Tubuhnya yang sedang berbuat dosa dan sangat kacau masuk kedalam sel penjara sementara.


"Izinkan saya menelpon pengacara saya..."


Tono menghubungi pengacara setelah mendapat izin dari petugas kepolisian.


Dengam raut muka masam dan kesal ia masuk kembali kedalam sel.

__ADS_1


"Pak.. bisakah saya katoilet sebentar, untuk membersihkan ini.." Tono menunjuk kebawahnya melihatkan celananya yang masih banyak cairan berserakan.


"Kau ini... menyusahkan...!"


Petugas tetap membawanya kekamar mandi. Tono keluar dengan keadaan sudah mandi dan celananya yang basah, tanpa mengenakan pakaian.


Ia kembali digiring kedalam sel. Menahan rasa dingin karna tubuhnya yang basah. Ia mengumpat dalam hati.


Kurang ajar! Siapa yang berani melaporkan ku... apa orang orang Rengger sekarang sudah berani melawanku? Aku akan membalas kalian nanti. Tunggu saja...


Sialan kenapa pengacara ku lama sekali. Aku sudah tak tahan kedinginan seperti ini.


Sial...


...***...


"Kau membawa ku kesini mas?"


"Ayo turun..." Pramana tersenyum lalu turun dari mobil mereka.


Maya menguatkan dirinya untuk bisa kembali menginjakan kakinya kekampung Rengger. Kampung kelahiran dan kampung yang telah menjadi saksi bisu saat ia dilecehkan.


"Ayo sayang..."


Pramana sudah membukakan pintu mobil Maya. Namun istrinya masih saja berdiam diri duduk disana sambil terus memperhatikan disekelilingnya.


Ia melihat beberapa orang ibu ibu yang sedang diwarung juga melihat kearah mobil mereka.


Maya melangkahkan kakinya turun dari mobil. Pramana menutup pintu mobilnya. Ia merangkul Maya yang terlihat gugup agar sedikit lebih santai.

__ADS_1


"Astaga... Maya... " seorang ibu yang ternyata pemilik warung itu berlari mendekati Maya. Ia memeluk Maya.


"Apa kabar buk Sri?" Dengan senyuman Maya menyapa tetangganya.


"Maya... benaran kamu toh.. walaaah... aku senang sekali.. syukurlah kau baik baik saja. Sejak kau menghilang kami pikir kau...


Tapi.. sudahlah... ternyata kau masih sehat."


Maya hanya tersenyum melihat sambutan tetangganya yang diikuti beberapa orang dibelakang buk Sri.


"Iya buk Sri, terimakasih sudah mencemaskan saya."


Sementara dari dalam rumah Romi dan Mona melihat kedatangan Maya dan suaminya. Tak sabar mereka berjalan kedepan pintu.


"Mas jangan ikut keluar, biar aku saja. Tunggu saja didalam kamar mbak Maya.. buat kejutan untuk mbak Maya."


"Sayang... aku ikut juga keluar ya..."


"Nanti orang kampung ini melihat mu. Ingat pesan mas Pram..."


Romi mengecup kening Mona dan berjalan kedalam kamar Maya. Dengan wajah yang selalu tersenyum. Romi berharap benar benar akan merasakan kebebasan sesungguhnya.


.


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2