
Maya merutuki lelaki tua didepannya. Namun wajah lelaki itu hanya memberikan sebuah senyuman jahat.
Air mata nya mengalir dan ia juga memejamkan matanya merasakan kenikmatan yang disuguhkan. Benar benar hal yang bertolak belakang.
"Aaah... benar benar berbeda memasuki nya saat kau sadar seperti sekarang. Suara mu sangat membuat ku semakin bernafsu Maya... aaaakkhhhh benar benar sempit."
Mawarto memompa Maya. Kali ini ia tak berlama lama karna tak banyak mendapat perlawanan dari Maya. Ia bisa melihat air mata Maya yang sejak tadi tumpah. Bahkan disaat ia digagahi Tono.
Beberapa kali memompa Mawarto mendapatkan pelepasan ia mengeluarkan senjatanya dan menikmati ******* nya.
Kemudian ia berdiri mengelap senjatanya dengan sembarang kain. Ia merapikan kembali pakaian nya. Melempar Maya dengan beberapa uang ratusan ribu.
"Dek Maya yang nikmat, hutang mu sudah Lunas. Karna aku mendapatkan banyak uang dari pria yang menggagahi mu tadi. Dan ini bagianmu. Lain kali aku kesini lagi. Tentu saja dengan orang yang berbeda. Ahahahaha..."
Mawarto keluar dari ruangan itu. Ia merasa puas akan segala ide liciknya. Ia duduk dengan meneguk segelas air menunggu Tono selesai dari kamar mandi.
"Bagaimana mas? Kita pulang sekarang?" Tanya Tono yang sudah nampak segar selesai membersihkan diri.
"Tentu saja. Tapi bayar dulu bakso spesialmu... hahaha.." Mawarto berdiri keluar pintu kedai bakso.
Tono mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu yang diikat meletakan nya diatas meja. Dan menyusul Mawarto keluar.
Diluar ia melihat orang orang nya sedang memukul Romi adik Maya. Kedua tangannya terikat. Wajah nya babak belur karena pukulan yang diberikan orang Mawarto.
__ADS_1
"Dasar tua bangka bangsat kau!! Kalian apakan kakak ku an..jing!"
Romi menggila setelah melihat Mawarto keluar dengan lelaki lain dari dalam kedai bakso Maya.
"Kami hanya menyicipi bakso spesial milik kakak mu Romi. Hahaha...."
Mawarto berjalan masuk kemobil tak menghiraukan Romi yang masih saja meneriaki nya dengan makian dan cacian.
Setelah mobil itu pergi. Orang nya Mawarto meninggalkan tempat itu dan melepaskan Romi. Dengan cepat Romi berlari kedalam kedai mencari sesuatu yang bisa melepaskan ikatan ditangannya.
"Mbak... mbak Mayaa...!"
Kemudian berteriak memanggil Maya. Ia mencari diseluruh ruang kedai bakso. Juga melihat kekamar mandi.
Dengan sigap Romi melihat keasal suara, menemukan Maya duduk tersandar tanpa pakaian. Ia berbalik mengambil kain gorden penutup jendela kedai tersebut.
Sambil memejamkan mata ia menutupi tubuh Maya yang polos. Ia memeluk kakaknya dengan tangisan penuh penyesalan.
"Maafkan aku mbak.. harusnya aku tidak pulang, jika aku tetap disini mereka akan mengurungkan niatnya..."
Romi merutuki dirinya sendiri. Menyalahkan dirinya dengan apa yang telah terjadi pada Maya.
"Romi..." Maya melihat adiknya. Ia melihat wajah tampan adiknya banyak luka lebam.
__ADS_1
"Aku sudah sampai disini saat mereka menutup kedai mu mbak, karna aku hanya sendirian.
Mereka menyiksaku. Hingga aku melihat situa bangka Mawarto keluar dari sini... aku akan buat perhitungan dengan nya. Tua bangka keparat!" Romi nampak sangat Murka.
Ia membantu Maya berdiri dan membawanya kekamar mandi. Ia tak tega melihat kakak satu satunya diperlakukan seperti binatang. Ia melihat banyak uang berserakan dilantai.
"Bersihkan tubuh mbak dulu. Setelah itu kita pulang.."
Romi membantu Maya masuk kekamar mandi kemudian keluar agar Maya bisa leluasa membersihkan diri.
Maya melihat tubuhnya penuh dengan lendir yang menjijikan. Air mata nya seakan kering tak bisa merasakan kesedihan lagi.
Ia benar benar jijik dengan dirinya yang liar melayani kedua lelaki bejat tadi. Ia bahkan tak tau apa yang mereka lakukan hingga ia bisa berbuat demikian.
"Mawarto.. aku akan membunuhmu... kau harus mati ditangan ku!"
Maya bergumam sambil membersihkan tubuhnya dengan sabun. Berkali kali ia membilas dan mencuci lagi dengan sabun. Hingga kulitnya tampak memerah.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung