
"Jadi bagaimana dengan pelaku tabrakan itu?" Tanya Ren dengan penasaran.
"Pelakunya nona Raisa Tuan... Saya sudah memastikan." Jawab orang suruhan Ren sambil menyerahkan map berwarna kuning.
"Raisa... Kau menghilangkan satu nyawa, dan bermaksud utk menghabisi mereka. Benar benar wanita gila."
Ren melihat bukti bukti yang memberatkan Raisa. Juga terdapat rekaman cctv sebagai bukti yang sangat kuat.
Ren terlihat menggelengkan kepalanya membaca dokumen itu satu persatu. Sesekali ia meraup wajahnya kasar.
Apa yang harus kulakukan?
Anak Dewa juga dibunuh oleh orang suruhan Raisa.
Apa sebaiknya ku beritahu Dewa? Tapi.. anak yang sekarang bersama mereka...
Ren terlihat berjibaku dengan pikirannya. Sesekali menelan salivanya, membayangkan seorang Raisa bisa berbuat hal sekejam ini. Apalagi menyangkut dengan seorang anak yang tak bersalah diumurnya yang masih sangat muda.
"Raisa... Kau membuat ku gila..."
Ren melemparkan dokumen itu keatas meja. Tak lama ponselnya berdering.
"Ya..."
"Ren... Apa kau tidak main kesini sekarang?" Tanya seorang gadis.
"Astaga... Maafkan aku. Aku sangat lupa." Balas Ren lembut.
"Hal apa yang membuat mu lupa? jangan merasa bersalah..." Tanya nya manja.
"Ada sesuatu yang sedang aku lakukan. Jika kau mau... Mampirlah kesini."ajak Ren dengan nada basa basi.
__ADS_1
"Kirimkan alamat mu..."
"Kau serius Dina?" Tanya Ren tak menyangka akan mendapatkan persetujuan atas permintaan nya tadi.
"Kita lihat saja." Jawab Dina sambil terkekeh.
"Akan aku share.."
Ren menutup ponselnya dan memberitahu alamatnya pada Dina.
Semenjak malam perkenalan mereka. Ren lebih sering menghabiskan waktunya ditempat pertemuan mereka. Dan selalu pulang dalam keadaan mabuk. Tapi belum ada sesuatu yang berarti terjadi diantara mereka.
Dan kali ini, Ren melupakan janjinya. Karna penyelidikan tentang kejahatan Raisa pada keluarga Pramana.
Ia sudah mengambil keputusan untuk memberitahu Pramana melalui via pos. Mengirimkan bukti bukti kejahatan Raisa. Dan itu memang harus dilakukannya, demi kemanusian.
Walaupun mereka tak mengetahui keberadaan Raisa sekarang ini. Tapi tak menghalangi untuk menemukan keberadaan Raisa.
Dia berjalan melihat siapa tamu yang datang. Disambut dengan senyuman manis Dina diseberang sana. Dengan membawa paper bag besar.
"Hi..." Sapa Dina dan langsung berjalan masuk ke rumah Ren.
"Selamat datang .." sapa Ren bingung dengan apa yang akan dia ucapkan.
Dina berdiri dibelakang Ren yang sedang menutup kembali pintu rumahnya.
"Sepi sekali..." Basa basi Dina membuka obrolan.
"Ya.. hanya kita berdua... Asisten rumah tangga ku tak menginap. Dan hanya ditemani security..." Jawab Ren sambil terkekeh.
Ia mempersilahkan Dina duduk diruang tamu yang dekat dengan dapur.
__ADS_1
"Sebaiknya aku menghidangkan ini sekarang, sebelum dingin." Ucap Dina menunjuk kearah dapur.
"Silahkan, anggap saja seperti rumah sendiri.." kata Ren seakan mengerti dengan kode yang diberikan Dina untuk kedapur.
Dina melihat dimana letak barang barang yang akan dipakainya. Dan ia membawa dua hidangan kedepan Ren.
"Apa ini?" Tanya Ren melihat makanan itu masih mengepulkan asapnya karna masih panas.
"Makan lah .. ini sangat terkenal dan viral. Aku ingin mencoba nya juga." Jawab Dina mengaduk ngaduk makanan didepannya.
"Dan... Anggur? Kau membawanya juga?" Tanya Ren menatap anggur diatas nampan beserta dua gelas cantik.
"Kita akan bersenang senang..." Jawab Dina tanpa melihat Ren.
"Lakukan sesukamu... " Jawab Ren santai.
Mereka melahap makanan yang tersedia diatas meja. Ren makan dengan lahap karna semenjak pagi belum mengisi perutnya dengan makanan padat kecuali minuman.
"Apa kelasih mu tak kan marah jika tau kau kesini...?" Tanya Ren penasaran.
"Ini sebuah rahasia..." Jawab Dina menatap Ren yang duduk disampingnya.
"I want to do it with you..." Bisik Dina menoleh pada Ren.
"Apa?"
.
.
.
__ADS_1