ROMAYA

ROMAYA
Billy Aji Dewanto


__ADS_3

Seorang ayah mungkin jarang berbicara panjang lebar bila tidak ada keperluan. Akan tetapi, walaupun terlihat tenang dan kuat, seorang ayah tetaplah manusia biasa yang memiliki kata hati yang terpendam, kata hati ini adalah harapan dan doa untuk sang buah hati tercinta.


Namun, ketika pria itu telah menjadi seorang ayah. Ia akan selalu berpikir dan berdoa semoga kelak ia bisa diberikan kesempatan melihat sang buah hati berada di atas puncak kesuksesan.


Ia selalu berharap semoga prestasi sang buah hati mampu membuat segala prestasi yang telah ia peroleh selama ini menjadi terlihat tidak ada apa-apanya.


Itulah kekalahan yang selalu dinanti-nantikan olehnya, sebuah kekalahan termanis yang bisa dialami oleh setiap ayah di dunia ini.


Seorang ayah akan selalu memberikan yang terbaik bagi buah hatinya. Tapi, inilah yang justru menjadi cambuk semangat sang ayah, ia akan selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi anaknya, lagi dan lagi, siang dan malam bahkan kadang hal ini bisa menganggu pikirannya.


Apalagi dengan keadaan Billy yang semakin membuat terenyuh hatinya. Ia berharap Billy bisa tumbuh dan berkembang menjadi putra andalannya.


"Aku kuat menahan penderitaan, tapi aku akan hancur jika melihat mu sakit sayang, dan ibumu ikut merasakannya" Gumam Pramana pada Bayi Billy.


Ia berulang kali mengecup pipi mulus Billy yang terletak didadanya. Memperhatikan tubuh mungil dan suci. Kelak akan bertumbuh menjadi pemuda tampan bertubuh kekar, yang akan membawa Pramana ketempat peristirahatan terakhirnya.


Pramana lagi lagi meneteskan air mata. Kali ini dengan tangisan yang tertahan. Perawat yamg menjaga mereka disana juga larut dalam suasana haru penuh kesedihan sang Ayah ini.


"Aku benci kekalahan, tapi aku berharap kau akan mengalahkan ku dalam meraih kesuksesan, bertahanlah putraku... Aku menunggu mu untuk itu Billy. Sehat lah sayang...


Kau harus kuat karena kaulah yang akan menggantikan ku menjaga ibumu saat aku telah tiada nanti. Jangan pergi sebelum kau mengalahkan ayah mu ini Billy.


Kumohon... Bertahanlah untuk kami..." Pinta Pramana dengan suara lirih menahan kesedihan.


Pramana mendengar helaan nafas Billy. Tangan nya bergerak seperti terkejut. Dan ia mulai membuka mulutnya seperti bayi yang sedang menguap. Pramana melihat perawat itu yang melihat juga pergerakan Billy.

__ADS_1


"Dokter... Dokter Yuni .. bayinya..."


Perawat tersebut berlari keruangan Yuni. Maya yang sedang duduk diatas kursi roda mendongakan kepalanya, karna melihat seorang perawat berlari dengan tergesa gesa dari ruangan putranya.


"Billy .. apa yang terjadi dengan putraku?" Gumam Maya.


"Lebih cepat lagi suster, bawa aku keruangan bayi ku..." Ajak Maya yang ikut mendorong kereta roda dengan tangannya.


Air matanya sudah sudah menetes tanpa ia sadari. Dan ruangan itu terasa sangat jauh.


Pramana menangis melihat bayi kecilnya bangun. Bahkan bergerak gerak seperti bayi sehat lainnya. Mulutnya menganga mencari Asi. Matanya mulai terbuka melihat kearah Pramana.


"Sayang... Aku ayahmu nak... Ayah disini bersamamu... Terimakasih kau sudah bangun sayang..."


"Sayang... Sabar nak... Sebentar lagi ibumu akan datang menyusui mu nak... Terimakasih Tuhan..."


Berulang kali Pramana menyeka air matanya yang terus menetes. Sebuah tangisan kebahagiaan.


"Mas..."


Sapa Maya yang melihat dengan wajah berbinar saat didepan pintu perawatan Billy. Ia melihat Billy yang sedang merengek karena kehausan.


"Ini sungguh keajaiban. Tuhan telah mendengar doa doa kalian..." Ucap Dokter Yuni dengan penuh haru memasuki ruangan bayi Billy.


"Dokter... Periksa putraku..." Pramana memberikan Billy untuk diperiksa.

__ADS_1


Maya berdiri dan duduk disamping sofa yang diduduki Pramana tadi. Ia tak boleh berdiri terlalu lama.


"Benar benar ajaib... Kalian harus mengadakan selamatan untuk kesembuhan bayi Billy. Dan jangan lupa mengundang saya."


Gurau Dokter Yuni sambil menggendong Billy kembali. Mengecupnya pipi merah nya sebentar. Lalu memberikannya kepangkuan Maya.


"Beri Billy Asi nyonya... Ia sangat membutuhkan itu. Setelah lama berpuasa.."


Maya memberikan Asi nya yang telah lama ia persiapkan untuk bayinya Billy.


"Minumlah sayang... agar cepat besar dan segera pulih. Ya Tuhan terimakasih.. terimakasih atas mengembalikan Billy pada kami lagi. Sembuhkan dia Tuhan... Hilangkan segala penyakitnya."


Maya meneteskan air mata melihat putranya menyusu dengan lahapnya. Pipi nya sampai kembang kempis menghisap Asi.


Putra kecil ku... Billy Aji Dewanto


Sehatlah sayang...


.


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2