
"Billy jangan lari lari... Mama capek sayang .." Maya mengejar Billy yang sedang berlarian ditaman samping rumahnya.
Padahal ini hari ke enam bocah itu tinggal dikediaman Maya. Namun Maya tetap mengakui anak itu sebagai putranya.
Beberapa hari yang lalu, Romi dan Ray mencari seorang anak lelaki ke panti asuhan.
Mereka membawa foto mendiang Billy dan mencari anak laki laki semirip mungkin dengan Billy. Setelah menapaki kaki mereka dibeberapa rumah Panti Asuhan. Akhirnya mereka menemukan anak lelaki yang mereka inginkan.
"Mas .. lihat itu. Seperti pinang dibelah dua..." Tunjuk Romi pada seorang anak yang sedang duduk dipangku ibu panti.
"Benar... Aku seperti melihat Billy. Walaupun matanya berbeda." Jawab Ray mengangguk pada Romi dengan berbisik.
"Siapa nama anak ini buk?" Ray bertanya pada ibu panti yang sedang memangku anak itu. Sambil membelai kepalanya.
"Nama nya Robi pak.." jawab nya senang. Lalu dia diam sebentar. Mengecup pipi lembut Robi.
"Robi anak yang patuh, kami akan membesarkan sendiri anak ini. Kebetulan yang memiliki panti sudah bertahun tahun tidak mempunyai anak. Mereka bermaksud akan mengadopsi Robi dalam waktu dekat ini.. jadi Robi tidak kami adopsikan pada orang lain." Sambung ibu itu lagi sambil tersenyum ramah.
Ray dan Romi saling menatap. Tersirat rasa kecewa diwajah mereka.
__ADS_1
"Ibu bisa lihat foto ini?" Ray menyodorkan foto mendiang Billy pada ibu panti.
"Sangat persis dengan Robi... Hanya mata mereka berbeda. Rambutnya, hidungnya, kulit putih bersihnya, bibirnya." Kagum ibu itu melihat foto Billy.
"Benar... Namanya Billy... Dan dia baru 6 hari meninggal karena ditusuk orang tak dikenal." Jelas Romi dengan penuh kesedihan. Mengingat ponakan tersayangnya.
"Saya turut berduka cita pak..." Jawab ibu itu dengan wajah ikut merasakan kesedihan mereka.
"Saudari kami Maya... Menjadi tidak sehat dengan kehilangan putra nya. Sementara suaminya masih terbaring lemah dirumah sakit. Sudah seminggu koma. Jadi kami mohon pada ibu, berikan Robi pada kami, untuk menjadi obat bagi saudari kami buk... Kami sangat memohon." Mohon Ray pada ibu tersebut.
"Kami sudah masuk 24 panti asuhan dari luar kota bahkan ke daerah ini. Dan Tuhan masih memberikan kami jalan untuk bosa dipertemukan dengan Robi." Bantu Romi membujuk ibu tersebut.
"Ternyata begitu ya ..
"Apa tidak bisa hari ini buk? Kesini sangat jauh... Jika kami pulang dulu. Ini sudah hari ketiga kami tidak pulang kerumah." Tanya Romi penasaran.
Ibu itu melihat mereka berdua. Lalu menurunkan Robi dari pangkuannya. Bocah laki laki itu duduk dengan tenang diatas sofa. Ia memegang sebuah mobil mainan berupa bus berwarna kuning. Robi asyik memainkan mobil tersebut, namun sesekali menatap Romi dan Ray.
"Robi .. sini duduk sama om." Ajak Ray memanggil Robi.
__ADS_1
Anak itu mengangguk dan turun sari sofa, berpindah tempat kepangkuan Ray.
"Robi anak pintar ya..." puji Romi dari samping membelai kepala Robi.
"Kamu mau ketemu mama ga? Mama udah kangen sama kamu. Tiap hari mama nangis manggil kamu." Ray mencoba membujuk bocah yang bernama Robi tersebut.
"Au om... mama... Mama..." Jawab Robi senang.
"Nanti kita pulang ya... Nak." Romi mengecup kepala Robi yang wangi.
Ya Tuhan... Berpihak lah pada kami...
.
.
.
__ADS_1
Dukung Author dengan Like and Vote. Sebagai vitamin biat Author ..
makasi sebelumnya. 😘😘😘