
"Kenapa telat pulang?"
Maya langsung memberikan pertanyaan yang sangat tak diharapkan Pramana. Ia menjauhkan tubuhnya dari Maya yang kini duduk menatapnya. Menanti sebuah jawaban.
"Mas .. apa kau mendengar ku?"
Pramana tetap diam. Ia berdiri dan keluar dari kamar. Dengan penuh penasaran Maya mengikuti nya keluar.
Suaminya tak jua mengeluarkan sepatah kata. Maya duduk disebelah Pramana, masih dengan pakaian seksi yang tak ia sadari.
"Seharusnya kau sejak tadi sampai dirumah. Aku melihatmu akan segera pergi dari nya. Makanya aku duluan pulang. Untuk menunggu mu."
Penjelasan Maya membuat Pramana sedikit berpikir. Jika istrinya ternyata mengikuti nya bertemu Lana.
Jadi... Saat aku menolak Lana. maya ada disana... Rupanya ia ingin membuktikan sendiri kesetiaan ku.
"Apa yang kau lihat tadi, tak sesuai dengan apa yang akan terjadi selanjutnya sayang. Aku terjebak bersama wanita gila itu."
Maya mengernyitkan kan keningnya. Ia melihat Pramana dalam dalam yang sedang menyesap sebatang rokok. Mencari sebuah kejujuran.
"Apa maksud mas ..?"
Pramana melihat istrinya. Berpikir akankah ia harus bercerita dengan jujur atau menutupi semua. Tapi Maya akan tau juga kebenaran nya suatu saat nanti.
"Wanita itu melakukan berbagai cara agar aku bisa menemani nya malam ini. Itu takan mungkin terjadi dalam kesadaran ku. Ia membius ku sayang..."
__ADS_1
"Lalu... Apa yang terjadi?"
"Dia melakukan hubungan terlarang itu padaku saat aku tak sadarkan diri. Dan ketika sadar aku langsung keluar dari tempatnya. Dia benar benar wanita gila.."
Maya terdiam mendengar pengakuan Pramana. Jujur ia memang senang dengan kejujuran Pramana. Namun cerita dibalik kejujuran itu sangat membuatnya sakit hati.
Maya mendengkus kesal. Pramana melihat itu. Dia diam seribu bahasa. Berhati hati dengan ucapan nya saat Maya bertanya.
"Kau benar benar tidak sadar ia melakukan nya?" Maya menyipitkan matanya memandang Pramana.
"Aku benar benar tak sadar sayang. Aku bangun ketika seluruh tubuhku polos...."
Pramana menghentikan perkataan nya. Karna melihat raut wajah Maya yang semakin menakutkan.
Sialan... Seharusnya aku tak perlu mengatakan ini. Ia pasti sangat sakit hati. Astaga... Apa yang harus kulakukan...
"Maaf sayang .. aku hanya mencoba jujur padamu. Agar tak ada yang aku sembunyikan. Tapi percayalah aku tak merasakan apa apa padanya. Entah bagaimana ia bisa membuat si Jono berdiri diluar kemauan ku... Aku tak mengerti..."
Pramana benar benar bicara dari hatinya. Tanpa buat buatan. Ia juga tak mengerti bagaimana semua ini terjadi begitu cepat.
"Semua sudah pada tempatnya mas... Terimakasih sudah jujur padaku. Sebaiknya kau bersihkan tubuh mu!"
Maya berdiri dan masuk lagi kedalam kamar. Ia tak perduli saat Pramana memanggilnya.
"Aku sudah mandi sayang... Saat baru pulang tadi. Baru aku berbaring disebelahmu."
__ADS_1
Pramana mengikuti Maya sampai kekamar. Ia melihat Maya yang terdiam duduk ditepi ranjang.
Mendekati wanitanya, memberikan pernyataan yang sangat masuk akal. Melakukan segala macam cara untuk membuat istrinya bisa Luluh kembali.
"Aku tak punya hak menghakimi mu mas.. aku pernah diposisi mu. Dan itu terasa sangat menjijikkan. Tidurlah... Aku mengantuk."
Maya merebahkan tubuhnya disisi Pramana yang masih duduk. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Maya.. maafkan aku..."
Pramana memeluk Maya dari belakang. Mengecup kembali punggung Maya yang putih mulus bak model iklan sabun ternama di nusantara.
"Sudahlah... Aku tak ingin membahasnya lagi. Syukurlah kau tak sempat berhasrat ingin menyudahinya."
"Sayang .. aku hanya berhasrat dengan mu .. apalagi .. baju tidur mu saat ini sangat seksi."
Pramana mencoba menggoda Maya. Sebuah senyuman Tersungging dibibir Maya. Ia tak sadar jika telah memakai pakaian tidur yang transparan saat bicara serius diruang tamu.
Wajahnya tiba tiba memerah. Ia menundukan wajahnya padahal Pramana tak mengetahui jika ia sedang berada dalam mode malu.
"Kenapa menunduk?"
.
.
__ADS_1
.
Bersambung