
"Kau pembunuh... !! Aku takan membiarkan kau hidup tenang Romi. Pembunuh!!"
Alhasil semua orang yang tinggal didekat sana mendekati mereka. Karna mendengar teriakan istri Mawarto yang mengatakan Romi sebagai Pembunuh.
Tubuh Romi berkeringat karena gugup. Ia tak menyangka bagaimana ini bisa terbongkar. Ia juga melihat Mona disana.
"Romi.. pulanglah... sebelum kau menjadi bulan bulanan warga"
Mona memberi peringatan pada Romi. Namun telat saat ibunya menyebut Romi sebagai pembunuh suaminya Mawarto.
"Tangkap dia... dia telah melenyapkan suami ku"
Tubuh istri Mawarto tiba tiba jatuh ia hilang kesadaran. Tak bisa menerima kenyataan jika suami nya telah dihabisi oleh seseorang.
Sementara itu beberapa orang membawa Romi ke pos penjagaan menunggu pihak yang berwajib datang.
Mereka menggotong istri Mawarto kerumahnya. Mona berusaha menyadarkan ibunya.
"Bunda... tolong bangun lah. Jangan begini. Bunda...."
Mata nya perlahan terbuka air mata nampak mengalir dari sana. Ia kembali teringat tentang suaminya.
"Ayah mu dibunuh Mona. Dan kau ingin menutupi semuanya?"
Mona menatap wajah sedih ibunya. Memang benar ia telah berjanji untuk tutup mulut dan berusaha menyelesaikan sendiri.
"Tapi sekarang bunda sudah membongkarnya. Semua orang akan tau apa yang ayah dan paman lakukan pada Mbak Maya. Dengan begini. Paman akan ditangkap. Dan ayah akan dikenang sebagai pemerkosa. Aku yakin bunda tau akan itu."
Mona menceritakan maksud hatinya ingin menyimpan rahasia ini kepada ibunya.
__ADS_1
"Tapi aku tak terima pembunuh itu hidup tenang..."
"Bukan hanya dia yang hidupnya akan menderita bunda, paman Tono akan ditangkap jika mbak Maya dan Romi memberikan kesaksian. Dia tidak akan dihukum lama. Dan itu tidak akan membuat ayah kembali lagi pada kita. Juga... anak mu yang akan ikut menderita... karna...."
Mona menghentikan ucapan nya. Air mata nya menetes, ia menunduk dihadapan ibunya.
"Karna apa Mona? Kenapa kau juga ikut menderita?" Istri Mawarto membentak putrinya.
"Ada benih cinta ku dengan Romi dirahim ini bunda..."
Ibunya membelalakan matanya tak percaya. Ia memukul sendiri dada nya. Menatap tak percaya pada putri semata wayangnya.
"Apa yang pria itu lakukan pada mu Monaaaa??"
"Aku melakukannya dengan suka rela Bunda. Karna aku mencintainya... dia kekasih ku."
"Cobaan apa lagi ini... aku benar benar tak tahan... lebih baik aku mati..."
Mona memohon dengan uraian air mata kepada ibunya. Tetapi wanita tua itu sama keras kepalanya dengan anak nya. Ia berjalan masuk kamar dengan menutup pintu kamar dengan keras.
Apa yang harus aku lakukan. Dengan alasan aku hamil apa bunda mau melepaskan Romi.
Semoga semua baik baik saja.
...*****...
"Jadi kau yang telah membunuh juragan Mawarto?" Salah seorang dari warga membawa Romi ke pos penjagaan.
"Ya... aku melenyapkan nya..."
__ADS_1
Dengan tegas mulut pemuda itu menjawab tanpa rasa takut. Dan Romi sudah pasrah dengan hidupnya.
Semua sudah hancur... aku selesai hari ini.
"Romi... kau tau apa yang diperbuat Mawarto kepada putri ku?"
Romi mendongakan kepalanya menatap seorang pria paruh baya didepannya. Ia dikelilingi beberapa orang dan dua hansip yang baik hati.
"Dia telah memperkosa putri ku sebanyak Tujuh kali. Kini putri ku seperti orang gila. Bahkan dengan aku ayahnya ia sangat takut."
Romi terbelalak mendengar ucapan lelaki tua itu. Ia kembali menunduk.
Jadi benar yang Mona ucapkan. Aku benar benar telah membunuh seekor binatang.
"Dan kau juga harus tau Romi, dia menggagahi istriku saat dua tahun pernikahan ku. Tapi syukurlah istriku bisa kembali normal setelah lama aku rawat dirumah sakit karna trauma."
Salah seorang lelaki dewasa juga berbicara akan keburukan Mawarto. Romi benar benar tak menyangka perbuatan Mawarto sekejam itu.
"Dan masih banyak lagi kasus yang disembunyikan warga disini mengenai sifat bejat seorang Mawarto yang seperti binatang."
"Lalu apa tujuan kalian menceritakan semua ini pada ku?"
"Kami ingin berterima kasih karna kau telah membunuh bajingan itu. Dan jika istrinya melaporkan mu. Semua akan terungkap. Dan kami tak akan membiarkan mu sendiri. Kami akan membantumu."
Semua orang disana mengangguk setuju. Romi bisa menghela nafasnya lega.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung