
Maya berjalan menuju rumah tahanan setelah turun dari angkutan umum. Ia berniat hendak mengunjungi Romi. Sudah beberapa bulan ini mereka tidak bertemu.
Ia menunggu lama diruang tunggu karna banyak tempat yang terisi. Sehingga ada antrian untuk Maya. Tak sabar ia ingin bertemu dengan Romi. Memeluk saudara dan keluarga satu satunya yang ia miliki.
"Nyonya Maya... silahkan tunggu disini. Kami akan memanggil saudara anda."
Maya akhirnya bisa duduk ditempat mereka akan bertemu. Sementara menunggu Romi datang, Maya mengeluarkan beberapa makanan kesukaan Romi untuk dimakan bersama.
Ia menoleh kiri dan kanan beberapa keluarga tengah tertawa, meskipun salah satu keluarga mereka ditahan karna melakukan tindakan kriminal.
Tapi senyuman mereka merupakan dukungan dan sebuah semangat langsung untuk orang yang dijenguk. Karna mereka harus kuat dibalik jeruji besi. Untuk memperbaiki dirinya menjadi lebih baik lagi disaat mereka bebas.
Maya melihat seorang pemuda dibawa oleh dua orang petugas. Ia berdiri didepan Maya. Romi mendekati Maya yang telah dulu merangkulnya.
"Romi.... adik ku sayang..."
Maya meneteskan air matanya. Kemudian duduk disebelah Romi yang juga ikut menangis.
"Mbak kemana saja...? Aku kangen sama mbak..." Romi menyandarkan kepalanya ke bahu Maya.
"Kamu bukan anak kecil lagi.. sudah berat, jangan begini mbak sedih..." Maya memukul pelan kening Romi.
"Apaan mbak, baru ketemu adiknya udah dipukul pukul."
__ADS_1
"Udah.. nanti bicaranya. Kita makan bersama. Mbak kangen makan cumi. Jadi ingat kamu. Mbak yang masak sendiri. Kamu coba ya.."
Romi melihat kakaknya yang kini terlihat bahagia. Banyak pertanyaan dikepalanya yang ingin ia tanyakan pada Maya. Tapi ia tahan.
"Nanti mbak cerita semua... ayo makan.."
Maya seperti mengerti dengan tatapan adiknya. Ia memberikan sepiring nasi berisi masakan cumi yang sudah diolah Maya dengan lezat.
Romi melahap masakan kakaknya yang sudah lama tak dirasakannya. Ia mengangguk angguk karena masakan Maya memang enak.
"Romi... maaf mbak tak pernah kesini sejak hakim memvonis hukumanmu. Pikiran mbak saat itu buntu. Tapi ada seorang pria yang membantu mbak. Hingga mbak bisa seperti sekarang ini."
Maya membuka obrolan pertama. Maya menyantap makanan didepannya. Sementara Romi menatap kakaknya tak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Hmmm.. mbak mencoba bunuh diri di stasiun kereta api.."
"Apa??"
Romi membelalakan mata saking kagetnya. Pengunjung Rutan ikut menoleh kearah mereka. Karna suara Romi yang keras.
"Pelankan suara mu Romi!" Maya berbisik melihat kearah Romi.
"Apa mbak pikir itu jalan satu satu nya menyelesaikan masalah? Terus.. aku siapanya mbak? Mbak tidak mengingat ku lagi. Aku masih adik kandung mbak. Jangan berbuat itu lagi. Aku tak suka mendengarnya."
__ADS_1
Romi meletakan sendok nya, ia seperti kehilangan selera makan setelah mendengar cerita Maya. Ia benar benar tak menyangka jika seorang Maya pernah memilih jalan yang salah.
"Ayo makan lagi... cuminya enak bukan.. ayo tambah lagi."
Romi mengaduk aduk makanan dipiring nya. Maya menambahkan beberapa potong cumi kepiring Romi.
"Lalu apa yang terjadi?"
Romi tetap bertanya dengan kelanjutan cerita kakaknya. Karna ia masih sangat bersyukur bisa bertemu lagi dengan Maya.
"Aku dibawa pria itu tinggal dirumahnya. Namanya Pramana Dewanto. Ia juga seorang bujangan. Untuk menghindari fitnah dikampungnya. Mas Pram menikahi mbak secara hukum dan agama. Bahkan setelah mendengar semua kisah kita.."
Maya terlihat bahagia menceritakan semua pada Romi. Dan ia sedang diperhatikan oleh Romi.
"Jadi mbak sudah menikah?"
Romi nampak tersenyum. Ia kembali senang karna kakaknya masih diberikan kesempatan untuk hidup bahagia. Dan pria yang mau menerima Maya apa adanya.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung