
"Saya tak bisa berkata apa apa nak Maya, bahkan jika bisa saya ingin menukar nyawa saya untuk putra anda ..
Atas nama Raisa saya memohon maaf untuk keluarga nak Maya...
Maafkan dia nak Maya, agar ia pergi dengan tenang, jika Tuhan tak memberikan kesempatan untuk menebus kesalahannya hidup didunia ini."
Maya hanya terdiam. Ia menatap pria paruh baya yang sedang memohon padanya. Mengharapkan permintaan maafnya diterima Maya.
"Saya hanya manusia biasa pak, saya bukan nabi. Saya juga merasakan sakit yang terlalu dalam. Untuk saat ini, kata maaf belum bisa kuterima dari Raisa, bahkan jika dia sadar pak. Penderitaan yang putri bapak berikan pada saya bukan hanya sekali... Bukan hanya sekali."
Maya meneteskan air matanya. Suara nya mulai pelan, menahan isakan yang bisa meledak menjadi sebuah tangisan.
"Maafkan putri saya nak Maya..." Santosio berdiri dari duduknya. Dengan kaki gemetar dan hati yang sakit bagai teriris pisau. Ia meninggalkan kediaman Maya.
Mobil Santosio, seorang ayah dari wanita yang telah menghancurkan hati harinya, telah melaju meninggalkan kediaman Pramana.
Maya terduduk sambil menunduk. Ia meneteskan air matanya. Dan tiada henti. Laura mengusap punggung Maya, demi memberikan kesabaran pada kakak iparnya itu. Sebab mereka sangat merasa kehilangan.
"Mbak... Yang sabar..." Laura tersenyum saat Maya menoleh melihatnya.
"Kau disini menemani mbak.. terimakasih Laura." Laura merangkul Maya hingga mendekat ketubuhnya. Saling memberikan kekuatan dan dukungan.
...****...
"Sayang, aku harap ini keputusan terbaik mu. Serahkan semua pada Tuhan, Yang telah mengatur segalanya."
Pramana membelai kepala Maya dengan rambut pendeknya. Melajukan mobil menuju rumah sakit.
Setelah kedatangan Santosio, Maya memutuskan untuk kembali mengunjungi Raisa.
"Mas, benarkah yang aku lakukan sekarang?" Tanya Maya sambil menggandeng Pramana berjalan menuju ruangan Raisa.
__ADS_1
"Ini yang terbaik bukan?" Pramana tersenyum dan memberikan semangat untuk Maya dalam proses tersebut.
Maya berjalan memantapkan hatinya, ia melihat Santosio dan istrinya duduk diluar ruangan Raisa. Mereka terlihat sangat senang melihat Maya mau mengunjungi putri mereka.
"Terimakasih nak Maya akhirnya mau datang.." Santosio menyambut Maya dan Pramana yang datang. Mereka membuka pintu ruangan Raisa.
Maya sedikit terkejut saat melihat kondisi Raisa yang lebih buruk dari pada terakhir kali ia datang kerumah sakit.
Maya berjalan mendekat ke tempat pembaringan Raisa. Ia mengangkat tangan dan memegang tangan Raisa yang sekarang kurus kering tak terawat.
"Raisa..."
Suara Maya seakan tersekat, tubuhnya seperti tak menerima untuk menyebut nama itu. Pramana mendekat, ia merangkul bahu Maya dari samping.
Satu tetesan air mata lolos dari mata Maya. Ia menarik nafasnya pelan dan melepasnya pelan.
"Aku... Memaafkan segala kesalahan yang pernah kau lakukan pada ku anakku dan suamiku Raisa. Pergilah dengan tenang... Aku mengiklashkan putra ku Billy..."
Santosio melihat kondisi putrinya yang tiba tiba bereaksi dengan ucapan Maya. Air matanya mengalir dikedua matanya.
Tangannya bergerak gerak seakan menunjukan Raisa akan segera sadar. Dan semua harapan Santosio dan istrinya seketika pupus.
Raisa telah pergi meninggalkan mereka untuk selama lamanya. Beberapa orang perawat dan Dokter masuk keruangan Raisa. Dan memastikan keadaan Raisa.
"Maaf Tuan... Mungkin ini jalan yang terbaik untuk putri anda."
Dokter keluar ruangan setelah mengumumkan kematian Raisa. Maya yang sempat melihat kejadian itu ikut merasakan kesedihan Santosio dan istrinya.
"Mas, mungkin jika aku tak menemui Raisa.. putri mereka akan tetap ada disini..." Isak Maya dalam lirihnya.
"Semua sudah takdir sayang... Jangan kau menyalahkan diri sendiri .."
__ADS_1
Pramana mengajak Maya keluar dari rumah sakit setelah berpamitan dengan Santosio dan istrinya.
Perjalanan mereka berakhir dititik ini, dimana takan ada lagi rasa takut dan cemas dalam hidup mereka. Dan mereka menyadari setiap perjalanan menuju keindahan, selalu akan dipenuhi rintangan dan kerikil tajam.
Dan yang terpenting dalam hidup adalah keikhlasan dalam menghadapi cobaanNya. Dan bahagia... Bahagia bersama mereka yang kau cintai.
...T H E E N D...
βΊοΈππππππ
Mohon maaf Author ucapkan atas penungguan panjang kalian... Karna ada sesuatu yang menghambat penulisan Author. Mohon dimaklumi ya..
ROMAYA... Kisah ini telah tamat. Dan Alhamdulillah Author lumayan puas dengan akhir ceritanya.
Terimakasih pada pembaca setia ROMAYA... Yang telah sudi menyimak tulisan ini dari awal hingga akhir.
Ambil pelajaran baiknya dalam kisah ini ya .. dan yang buruknya singkirkan.
Cerita ini berdasarkan kisah nyata seseorang yang tak ingin disebutkan namanya. Tanpa author kurangkan dan juga author lebihkan.
Terimakasih untuk beliau, yang sudi membagi pengalaman hidup yang pahit dan manis, yang tak semua orang bisa melewatinya.
Sampai bertemu dicerita selanjutnya... ππ
Salam cintoooooh.... πππππ
πππ₯³π₯³π₯³π₯³π₯³π₯³π₯³π₯³π₯³π₯³
Bukittinggi, 25 maret 2022
Calisa Ardi.
__ADS_1