
Maya dan Pramana benar benar menempati rumah baru mereka. Beberapa bulan telah berlalu. Kehidupan mereka menjadi lebih baik.
Butik yang Maya kelola sudah lebih baik. Mereka sudah banyak mendapat pesanan. Bahkan ini Maya memberanikan diri untuk mendesain pakaian pengantin.
Ia banyak menerima karyawan untuk membantu menjahit di butiknya. Tentu saja mereka yang sudah sangat ahli dalam pekerjaannya, agar setiap barang yang diproduksi tetap terjaga kualitas dan tidak mengecewakan.
Semua berkumpul saat menghadiri pernikahan Lana dan Rayyan. Tak sengaja mereka menjadi sebuah keluarga besar.
Bagi Maya masa lalu bukanlah sebagai penghalang terjalin nya sebuah keluarga. Apalagi sekarang mereka telah sama sama membuka hati dan menerima masing masing kehidupannya.
Ia telah bisa berdamai dengan Ray dan Lana yang sudah meminta maaf atas kesalahan mereka selama ini pada nya dan Pramana.
Mereka sama sama berjanji untuk membuang jauh masa lalu yang kelam untuk membuka lembaran baru dimasa depan.
Kali ini mereka menunggu kelahiran Mona, adik Rayyan. Telah memasuki usia kandungan 9 bulan. Semua sangat antusias menyambut kelahiran ponakan pertama mereka.
Terutama bagi Romi, ia mempersiapkan diri untuk menjadi seorang ayah. Walaupun umur mereka masih sangat muda. Tapi ia telah siap untuk menjadi orang tua bersama Mona, istrinya.
Pagi ini seperti biasa Maya berangkat ke butiknya bersama Pramana seperti biasanya.
"Bu... Aku pamit mau berangkat ya bu.."
Maya pamit pada ibu mertuanya yang sudah seminggu menginap dirumah mereka. Maya sering meminta mertua nya untuk tinggal dirumah mereka. karna saat ini Linda hanya sendirian dirumah. Karna Laura adik Pramana sedang kuliah diluar negeri.
"Ya nak.. kamu hati hati. Bareng Pramana kan?"
__ADS_1
"bu.. aku juga pamit... hati hati dirumah." Pramana mengecup punggung tangan ibunya, begitu pun Maya.
Maya hanya menjawab dengan anggukan. Setelah berpamitan ia dan Pramana berjalan kedepan rumah. Tiba tiba ponsel Maya berdering.
"Romi... Apa Mona sudah melahirkan ya?"
Gumam Maya melihat siapa yang meneleponnya. Buru buru ia geser tanda hijau kesamping lalu mengangkatnya.
"Ya Romi... Ada apa?"
"Mbak... Bantuin aku mbak... Mona daei tadi kesakitan terus, katanya perutnya mulas. Aku gimana ini mbak? Tak mengerti.. bia bisa kesini sekarang?"
Terdengar kepanikan dari suara Romi. Iya tak mengerti apa yang telah dialami oleh Mona istrinya.
"Benarkah Mbak tapi ini bukan waktunya dokter memperkirakan beberapa hari lagi kenapa dia mau melahirkan sekarang?"
"Dokter kan bisa saja memprediksi kapan orang melahirkan tapi tetap saja Romi yang punya kuasa untuk menentukan segalanya tetap Tuhan, bukan manusia."
"Bener Mbak, aku mohon cepatlah segera ke sini Mbak, aku tak tahan melihat Maya, dia sejak tadi kesakitan bahkan... sampai menangis."
"Sabarlah mbak akan bilang mas Pram dulu.. kau jaga saja istrimu Romi..."
Maya memutuskan sambungan teleponnya. Ia segera masuk mobil, karna Pramana sudah menunggu nya sejak tadi.
"Dari siapa sayang?" Tanya Pramana serius melihat Maya.
__ADS_1
"Romi mas.. katanya Mona kesakitan sejak tadi. Perutnya mulas. Mungkin dia mau melahirkan... Ayo kita kesana mas." kata Maya Menjelaskan.
"Melahirkan? Waah .. ponakan ku akan keluar ternyata. Aku akan hubungi Ray... Supaya dia juga bisa kerumah sakit." Jawab Pramana yang langsung terlihat bahagia.
Pramana langsung mencari nomor Ray untuk menghubunginya dan menyuruh kerumah Mona.
Sementara Maya terlihat sedih atas kebahagiaan yang terpancar dari wajah suaminya. Ia memahami jika Pramana pasti juga berharap untuk memiliki seorang anak dalam rumah tangga mereka.
Tapi Tuhan belum mau mempercayakan seorang buah hati pada mereka.
"Mas... Kamu terlihat sangat bahagia..." Tanya Maya menyelidiki.
"Tentu saja... Ada bayi yang sangat mungil yang akan hadir ditengah tengah keluarga kita bukan... Bukankah kau juga senang sayang?" Jawab Pramana biasa.
"Benar... Tapi .. kurasa. Kita juga ingin memliki seorang anak. Apa kau kecewa pada ku mas?" Maya terlihat gusar.
"Kecewa? Karena apa sayang?"
.
.
.
Bersambung
__ADS_1