
Maya mendapat sambutan dari tetangganya. Ia mengikuti Pramana dari belakang mendekati pintu masuk ke rumah lama Maya.
"Mas.. apa sebaiknya kita pulang saja .. kita belum tau siapa yang menghuni rumah ini sekarang. Sudah begitu bagus..."
Maya menarik tangan Pramana untuk kembali menaiki mobil mereka. Tapi sebaliknya Pramana merangkul Maya untuk mau masuk kedalam rumah itu.
"Mas .."
"Sudah.. ayo cepat Seseorang telah menunggu mu."
" Tapi mas.."
Pramana menarik tangan Maya untuk mengetuk pintu rumah. Beberapa kali ketukan, Mona membuka pintu dengan senyuman hangatnya. Ia memeluk Maya dengan mata yang berkaca kaca.
"Masuk mbak, mas... " Mona membawa Maya masuk kedalam rumahnya.
"Apa kabar kau Mona?" Maya membelai lengan Mona sambil ia tersenyum.
"Hari ini aku sangat bahagia mbak...." Mona menepukan kedua tangannya.
"Kenapa?" Maya memalingkan pandangannya ke seluruh bagian rumah yang telah disulap Mona.
"Karena... Ada kejutan untuk mbak Maya. Aku sudah merenovasi kamar mbak Maya. Pergilah ke sana. Aku akan menyiapkan makanan. Kebetulan jam makan malam."
"Sekarang ini rumah mu, kau dan Romi. Kenapa mesti ada kamar untuk mbak?"
__ADS_1
Maya terheran heran melihat senyum sumringah Mona, dan Pramana memberi kode pada Maya untuk menuruti kehendak ibuk hamil itu.
"Hmm... Kalian sudah saling mengenal?"
Maya heran melihat Mona yang sudah mengenal Pramana. Padahal ia baru sekarang membawa suaminya ke rumah keluarganya.
"Ya.. waktu itu mas Ray mengajak mas Pram kesini. Mas Pram teman kakakku mbak." Jelas Mona. Maya ber oo ria.
"Tunggu apa lagi... Ayo masuk..lihat kamar mu. Mungkin malam ini kita akan menginap disini."
Pramana tersenyum melihat raut wajah Maya yang terlihat sangat senang. Sebab walau bagaimanapun, rumah ini adalah pembelian ayah dan ibuk Maya juga Romi. Tentu saja ia sangat merindukan rumah ini. Meski sekarang sudah lebih besar dari sebelumnya.
Maya berjalan kedalam kamar.. ia menoleh kebelakang. Dalam hati bertanya tanya tentang paksaan kedua orang tadi. Mereka sangat ingin Maya masuk kedalam kamar itu.
Ada apa didalam nya?
Pelan pelan Romi berbalik dan memberikan senyuman terindahnya untuk saudari satu satunya. Mereka berpelukan. Air mata Maya mengalir membasahi wajahnya.
"Rupanya kau kejutan itu Romi!" Maya memandang adiknya dengan raut bahagia.
"Memang nya mbak ingin yang ada disini Salman khan? Hehehhee..."
Maya memukul dada Romi yang bidang, lalu kembali merangkul adiknya.
Mereka berdua berjalan keluar kamar. Pramana dan Mona menatap mereka berdua dengan tatapan bahagia.
__ADS_1
Maya memeluk Pramana, air matanya kembali jatuh. Sebuah pelukan terimakasih karena telah membantu pembebasan Romi. Mereka bisa berkumpul lagi.
"Kau menangis lagi sayang?" Pramana menunduk melihat Maya yang masih menempel di dadanya.
"Terimakasih... Aku tak tak tau bagaimana caranya kau lakukan ini. Tapi aku sangat berterima kasih padamu mas. Kau memang orang yang baik."
"Mbak tau apa yang dilakukan mas Pram? Polisi telah menangkap Tono.." Mata Romi berbinar binar menceritakan hal itu pada Maya.
Maya menatap Pramana dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
"Dia sudah di kantor polisi. Bahkan Mona sendiripun memberikan kesaksian." Jawab Pramana membenarkan ucapan Romi.
"Jadi kalian melakukan ini dibelakang ku?" Tanggapan yang tak terduga dari Maya.
"Ini semua... Kejutan untuk mu. Aku ingin kau selalu bahagia. Sudah cukup kesulitan yang kau rasakan selama ini. Jangan berpikir yang tidak tidak." Pramana mengelus Rambut istrinya.
"Tidak.. aku hanya terkejut. Syukurlah... Semua sudah terungkap sekarang.. dan aku lega..." Jawab Maya tersenyum.
"Tapi belum semuanya sayang ..."
"Apa maksudmu mas?"
.
.
__ADS_1
.
Bersambung