
"Mas... Aku juga mencintai mu. Aku harap ini akhir dari semua ketidak tauan ku. Kuharap kita bisa saling jujur untuk kedepannya."
Maya membelai lembut pipi Pramana. Memperhatikan pria itu dengan jeli. Melihat kesungguhannya.
"Sayang. . aku berbuat begini karena ingin merubah segalanya. Aku gelisah karna telah menutupi sesuatu dari mu. Namun kini hatiku sudah tenang. . Aku janji .. jangan ada dusta diantara kita."
Maya terkekeh mendengar Pramana yang menirukan sebuah lagu. Mereka kembali berpelukan.
"Hei... Mona dan Romi menunggu kita diluar. Mereka bahkan belum makan... Ayo kita keluar sayang."
Pramana segera berdiri untuk membuka pintu kamarnya. Namun Maya menariknya. Hingga langkah kaki nya terhenti. Ia tersenyum tanpa menoleh pada Maya.
Lakukanlah apa yang kau inginkan sayang... Aku sepenuhnya milik mu..
Maya mendekat pada Pramana memeluk pria itu dari belakang. Meraba raba dada bidang Pramana.
"Ayo makan... Aku sangat lapar"
Maya tiba tiba berjalan duluan untuk keluar dari kamar. Ia menyembunyikan kan senyumannya. Sementara Pramana menghela nafasnya. Ia berharap sesuatu yang panas akan terjadi. Ternyata tidak.
Mereka melanjutkan rencana makan malam di rumah itu. Hingga pada akhirnya Maya pamit undur diri.
"Mbak nginap disini saja mbak... Besok baru pulang. Kapan lagi kita bisa ngumpul begini."
Mona merengek pada Maya agar iparnya mau bermalam disini. Walaupun tidak tega tapi Maya harus pulang mengingat ia harus menyelesaikan pesanan baju.
__ADS_1
Dengan berat hati Romi dan Mona mengantar kan Maya dan Pramana sampai mobil mereka melaju meninggalkan kampung Rengger.
Terimakasih Tuhan, aku telah dipertemukan dengan pria yang baik dan tulus mencintaiku. Semoga cinta ini sejatinya hati yang saling terikat. Hingga nanti menua bersama, menghembuskan nafas dan berjumpa lagi dikeabadianMU.
Maya menoleh memandang Pramana. Malam ini mereka lalui sangat lambat. Pramana juga membawa Maya ketepi pantai. Menikmati ciptaanNYA dengan seorang yang sangat dikasihi begitu indah.
Mereka berjalan berdua bergandengan tangan. Saling memandang meyakinkan hati bahwa kau yang dihadapan ku jodoh yang dikirimkan Tuhan.
"Sayang .. ini sudah sangat larut. Apa kita menginap saja di penginapan dekat sini. Aku sangat lelah ..."
Pramana membelai lembut rambut Maya yang duduk bersandar di dadanya. Menikmati irama ombak laut malam ini.
"Mas benaran lelah...?" Pramana mengangguk kecil.
"Baiklah... Ayo kita ke sana. Aku ingin merebahkan tubuhku."
Mereka berdua berjalan ke penginapan terdekat dari pantai. Pramana langsung berbaring diranjang ketika masuk kemar yang mereka sewa. Matanya terpejam sebelah tangannya menutupi keningnya.
Mas Pram sangat lelah sekali, sampai lupa membuka sepatu..
Maya mendekati Pramana melepaskan sepatu suaminya. Ia tersenyum memandang wajah tampan sang pemilik hatinya.
Pramana menarik tubuh istrinya saat Maya akan berdiri. Maya langsung berada dipelukan Pramana. Tanpa basa basi Pramana langsung melahap bibir ranun Maya yang membuat nya geram sejak dirumah Romi.
Mata Maya terbelalak ia menepuk lengan Pramana yang memegang pundaknya. Karna ia menekan kepala Maya kearahnya agar wanita itu tak bisa memberontak.
__ADS_1
"Mmmm..mas..."
Pramana segera melepaskan ciuman nya. Maya terlihat cemberut.
"Ada apa sayang ..?"
"Kau tak lihat leher ku sakit dengan arah kesana. Bisa bisa nanti patah."
"Ahahahaa... Maafkan aku..."
Maya membalikan tubuhnya baik baik menghadap suaminya, menatapnya dengan mulut cemberut.
"Apa sekarang sudah pas?" Pramana menggoda Maya. Hingga wajah cantik itu memerah.
"Apa perlu ditanyakan lagi?" Maya mencubit pipi Pramana.
"Tentu saja tidak perlu .. ayo .."
.
.
.
Bersambung
__ADS_1