
"Hei .. mau kalian bawa kemana teman saya?" Teriak seorang pemuda saat Raisa hampir masuk kemobil Ray.
"Siapa kau?" Tanya Ray heran.
"Aku teman Raisa... Nama ku Bayu. Lepaskan dia .." cegat Bayu yang sudah berdiri disamping Raisa.
"Apa kau mau melepaskan orang yang telah melenyapkan putramu?" Teriak Pramana dari balik mobil.
"Apa?" Tanya Bayu tak percaya.
"Dengar... Hmm Bayu. Nama mu Bayu?" Bayu mengangguk menjawab pertanyaan Ray.
"Dengar kan aku Bayu. Jika kau ingin mengikuti proses wanita gila ini. Silahkan ikut kami. Tapi jangan pernah menghalangi nya. Mengerti?"
Ray langsung mendorong Raisa untuk segera duduk dikursi belakang mobil bersama Ray. Bayu berlari kemobil nya dan mengikuti mobil Ray yang dikemudikan oleh Pramana.
Ya Tuhan... Dia membunuh seorang anak?
Mustahil... Wanita selembut Raisa?
Aku bahkan akan melamarnya hari ini...
Bayu memukul stir mobilnya berkali kali. Ia tak sabar ingin tau apa yang sebenarnya terjadi pada wanita yang selama ia kenal tak pernah kasar.
Ini hari terakhir kebebasan ku. Bagaimana pun aku lari.. Dewa akan menemukan ku. Bahkan hingga pertemuan yang tak disengaja ini. Aku sudah hancur .. sangat hancur ..!
Raisa mengusap air matanya beberapa kali. Tanpa mengeluarkan suara ataupun isakan tangis. Bersikap pasrah dengan apa yang akan ia terima.
__ADS_1
Pikiran nya sangat kalut saat memikirkan Pramana. Obsesi nya begitu kuat untuk Pramana. Ia melakukan apa saja untuk membalas semua perbuatan Pramana dan istrinya.
Jika dia tak bisa memiliki pria tampan seperti Pramana, maka takan ada wanita yang akan hidup bahagia bersanding dengan Pramana. Bahkan melenyapkan buah cinta Maya dan Pramana.
Setelah tiba di kantor polisi, bergegas Pramana memegang Raisa untuk dibawa kedalam. Disaat yang bersamaan Bayu datang dan menepikan mobilnya.
"Pak... Maaf saya ingin bertanya." Panggil Bayu pada Ray yang akan melangkah kedalam kantor polisi.
"Ya... Ternyata anda Bayu." Ray menghentikan langkahnya.
"Apa yang sebenarnya telah diperbuat Raisa.?" Selidiknya pada Ray.
"Sebaiknya kita masuk kedalam dulu. Dewa sudah menunggu ku." Jawab Pramana.
Mau tak mau Bayu mengikuti Ray kedalam. Untuk mengetahui lebih lanjut laporan yang akan dibuat Pramana atas nama Raisa.
"Belum.. tadi kami mengantri. Dan sekarang giliran kita Ray." Jawab Pramana sambil menatap sinis pada Raisa yang selalu menunduk.
"Raisa .. apa yang terjadi? Jelaskan padaku." Bisik Bayu berdiri disamping Raisa duduk.
Wanita itu hanya menggelengkan kepalanya. Air matanya terus berjatuhan. Ia sangat malu pada Bayu. Dan sebenarnya Raisa sudah membuka sedikit hatinya pada Bayu. Pemuda yang selalu membantunya.
"Jangan tanya dia sekarang... Biarkan petugas polisi yang bertanya pada nya." Ucap Pramana saat melirik sebentar kearah Bayu.
Wajahnya sudah muak melihat wajah wanita ular yang sudah melenyapkan nyawa Billy. Sementara Ray memberitahu Lana bahwa mereka sedang kekantor polisi.
Beberapa saat setelah Pramana dan Ray pergi. Maya terbangun dan terlihat baik baik saja. Ia hanya sedikit syok dengan apa yang ia lihat.
__ADS_1
Lana memberitahu Ray bahwa Maya sudah sadar. Dan mereka akan menyusulnya kekantor polisi. Tentu saja Maya tak bisa menunggu cerita Pramana yang telah menemukan Raisa. Ia tak sabar ingin segera melihat pelaku pembunuh putranya.
Dalam keheningan Ray dan Pramana bergantian melihat Raisa yang semakin gelisah. Dan Bayu masih disana menungguinya dengan duduk dikursi tunggu.
Aku tak mau disini...
Aku harus pergi dari sini...
Aku harus keluar...
Aku harus pergi...
Raisa kehilangan akal sehatnya. Ia kalut saat melihat polisi duduk dihadapannya, sedang menonton video bukti kejahatan Raisa.
Saat semuanya menjawab pertanyaan polisi. Pramana dan Ray tak menoleh kearah Raisa. Diam diam ia berdiri dan berlari keluar dari kantor polisi.
"Raisa!!!" Ray melihat Raisa berlari.
"Raisa... awaaaas...."
.
.
.
__ADS_1