
Maya ikut tercengang melihat perubahan tingkah dan wajah Ray setelah melihat isi file. Dan Ray membaca pesan dari Ren.
'Dewa, sekarang aku tak lagi bersama Raisa, dia sudah pergi mencari kehidupan nya sendiri. Dan aku tak tau itu kemana. Semoga kau bisa menemukan keadilan untuk pembunuh putra mu. Jika kau butuh bantuan, hubungi aku. Aku selalu berada dipihak mu. Untuk sementara hanya ini yang bisa ku bantu.'
"Ada apa Ray?" Tanya Maya tak sabaran.
"Kau tak akan percaya ini Maya..."
Maya menyaksikan semua tragedi tentang peristiwa yang menimpa putranya dan suaminya. Mata nya memerah penuh amarah. Tubuhnya bergetar, bahkan air mata mengalir dari mata nya tak ia rasakan lagi.
"Raisa .. aku akan membalas mu. Demi keadilan putra ku." Lirih Maya mengusap air matanya.
"Kita harus temukan dia Maya.." ucap Lana.
"Aku akan menuntut nya dengan hukuman yang seberat beratnya." Tegas Maya penuh amarah.
Kemarahan begitu menguasai diri Maya saat ini, tanpa sepengetahuan Pramana. Bagaimana ia akan menghadapi suaminya kelak saat tau kebenaran yang telah mereka tutupi selama ini.
Dendam takan mengubah sesuatu yang telah terjadi. Tak akan mengembalikan orang yang disayangi hidup kembali. Atau mengembalikan keadaan seperti semula.
Semua sudah menjadi takdir, atas apa yang telah menimpa keluarga Maya. Terlebih putra mereka satu satunya telah terbunuh oleh seorang perempuan yang sangat mengharapkan cinta suaminya.
Tubuh yang tadinya selalu terlihat tegar, kini terbaring rapuh disisi Lana. Pasangan suami istri itu memanggil manggil Maya. Namun kesadaran telah hilang dari dirinya.
Beberapa jam kemudian, Maya telah berada dirumah sakit. Disana telah ada Pramana yang terlihat cemas.
__ADS_1
"Apa yang terjadi dengan Maya Ray?" Tanya Pramana penasaran.
"Sayang .. bisakah kau jaga Maya sebentar. Aku akan bicara dengan Dewa..."
Lana mengangguk setuju pada ucapan. Ia masuk keruangan Maya yang masih terbaring. Sambil menunggu hasil pemeriksaan Dokter.
"Ada apa Ray?" Tanya Pramana tak sabar mendengar cerita dari sahabatnya itu.
"Sebaiknya kita kemobil ku Dewa... Disana kau bisa menyaksikan sendiri."
Ray memalingkan wajah nya dari Pramana. Demi menghindari serbuan pertanyaan dari Pramana.
Apa maksudnya semua ini?
Apa ada hubungan dengan keadaan Ku dulu?
"Kenapa ponsel Maya...." Tanya Pramana heran.
"Kau lupa... Maya bersama kami?"
"Astaga..." Pramana berusaha tersenyum.
"Perhatikan ini Dewa.."
Ray memperhatikan mimik wajah Pramana yang lama kelamaan berubah. Bahkan tangan nya bergetar menahan amarah.
__ADS_1
Ray menurunkan kaca jendela mobilnya, memberikan sedikit udara pada parau paru Pramana.
"Raisa... Memang dia dalangnya." Gumamnya mematikan rekaman itu.
"Dan kau baca pesan dari Ren... Aku baru tau, jika Ren dan Raisa sudah tak bersama lagi."
Pramana sangat penasaran mendengar ucapan Ray barusan. Ia membaca pesan yang disampaikan untuknya.
"Kenapa Maya tak memberitahukan ku?" Tanya nya sedikit kesal pada istrinya. Karna lebih percaya diskusi pada orang lain.
"Saat file ini dikirim, kau masih dalam keadaan pemulihan Dewa. Dan Maya tak mau mengambil resiko memperburuk kesehatan mu. Mengerti sajalah Dewa.
Apapun yang istrimu lakukan, selalu ada alasan dibaliknya..."
Pramana terdiam mendengar perkataan Ray. Ia memang dalam keadaan baru pulih dari koma. Dalam hati ia berniat takan menyalahkan Maya atas apa yang terjadi.
"Tapi Ray... Bukan kah aku dan Billy akhirnya selamat? Namun demikian aku akan tetap mencari keberadaan Raisa." Ujar Pramana.
"Benar Dewa... Tapi kehidupan itu hanya berlaku untukmu. Bukan Billy." Jawab Ray mencoba memberi tau sesuatu.
"Apa maksud perkataan mu Ray?"
.
.
__ADS_1
.