
Kemungkinan terburuk selalu muncul dikepalanya.
Dan tak mungkin itu akan terjadi...
Aku akan berdiri didepan menunggu pelakor itu datang saat merebut suamiku...
Perlahan penglihatan Maya kabur dan ia terjatuh kesamping tempat tidur.
"Maya...."
Pramana sangat terkejut melihat Maya yang tiba tiba pingsan. Ia tak menyangka fisik Maya yang tadinya sehat akan lemah seperti ini setelah mendengar cerita darinya.
"Sayang .. bangunlah..."
Ia membaringkan tubuh Maya dan menyelimutinya. Lalu menghubungi Dokter keluarga nya untuk datang ke butik Maya untuk memeriksa keadaan istrinya.
Pramana keluar memanggil Mulyani yang sedang tak sibuk. Dengan tergesa gesa Mulyani masuk kedalam ruangan Maya karna melihat wajah Pramana yang terlihat cemas.
"Ya pak..."
"Kau ambilkan segelas minum untuk Maya. Ia pingsan didalam. Juga minta security menunggu dokter Alisa dibawah. Dan segera bawa kemari."
Titah Pramana pada Mulyani.
Mulyani melirik sebentar keadaan Maya yang terbaring diam diatas ranjang. Lalu segera keluar.
"Sayang... Apakah Raisa membuat mu lemah?
Tidak Maya... Aku takan kepelukan wanita manapun. Aku hanya menginginkan mu menjadi istriku seutuhnya... Hingga kita mati nanti. Hanya ajal yang akan memisahkan kita."
Ia memberi minyak kayu putih yang di ambil dalam laci nakas disebelah ranjang Maya.
Tak lama kemudian Mulyani masuk kedalam ruangan kantor Maya dengan seorang dokter disebelahnya.
__ADS_1
"Ada apa Dewa?" Alisa langsung masuk kedalam ruangan pribadi Maya.
"Alisa untunglah kau cepat datang, istri ku tiba tiba pingsan. Aku sangat cemas."
Pramana berdiri dibelakang Alisa yang sedang memeriksa Maya. Sementara Mulyani masih berdiri didekat ambang pintu bersiap siap sewaktu waktu Pramana akan membutuhkannya.
"Apa kau melakukan kekerasan pada istrimu ini?" Alisa terlihat sedikit menggoda sahabatnya.
"Seriuslah Dokter Alisa... " Pramana merasa tak tepat dengan candaan yang ditimpa Alisa padanya.
"Istri mu tak apa apa... Mungkin hanya kelelahan.. dan banyak pikiran" jelas Dokter Alisa menyimpan kembali peralatan nya.
"Syukurlah... Kapan dia akan sadar...?" Selidik Pramana.
"Sebentar lagi."
Alisa berdiri dan keluar ruangan pribadi Maya. Ia menunggu Pramana dengan berdiri didekat pintu. Sementara Mulyani berjalan kembali ketempat nya. Karna merasa tak dibutuhkan lagi.
"Terimakasih Alisa... Untung kau bisa cepat kesini"
"Bagaimana Adi? Apa dia bisa mendapatkan haknya kembali?" Tanya Pramana santai, bertanya tentang suami Alisa.
"Ya .. setelah banyak perjuangan mas Adi kembali menjadi Direktur diperusahaan ayah kandungnya." Jelas Alisa sambil tersenyum.
"Syukurlah... Aku turut bahagia. Perjuangan kalian juga cukup sulit. Aku bisa merasakan itu." Puji Pramana pada Alisa dan suaminya.
"Terimakasih Dewa.. kalau begitu aku pamit dulu.."
Alisa berjalan menuju pintu, tapi tiba tiba berhenti dan berbalik menghadap Pramana.
"Dewa... Sebaiknya kau bawa istrimu kerumah sakit untuk diperiksa lebih lanjut. Aku mengkhawatirkan sesuatu." Jelasnya.
"Kenapa? Bukankah kau bilang dia baik baik saja?" Pramana menjadi bingung dengan penjelasan Alisa sebelumnya.
__ADS_1
"Benar... Kau turuti saja perkataan ku.
Dan ini... " Alisa memberikan sebuah kartu nama pada Pramana.
"Dokter Asti Suteja.." Pramana membaca kartu namanya.
"Ya . Dokter Asti akan memeriksa keadaan istrimu lebih lanjut." Jelas Alisa tersenyum.
"Kenapa bukan kau saja Alisa?"
"Karna itu bukan keahlian ku...
Baiklah aku pamit.."
Alisa langsung keluar tanpa menunggu jawaban Pramana yang masih bingung didepan pintu.
Bukan kah dokter sama saja?
Apakah harus memiliki keahlian khusus?
Atau.. mungkinkah Maya mengidap suatu penyakit berbahaya?
Makanya Alisa tak sanggup menanganinya.
Ya Tuhan .. ujian atau anugrah kah yang aku terima??
Pramana menutup pintu, menyimpan kartu nama tadi kedalam dompetnya. Dan kembali menemani Maya.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung