ROMAYA

ROMAYA
Saling menerima


__ADS_3

Gelap sudah menyelimuti kampung Rengger. Penerangan dari rumah rumah warga menerangi jalanan secara temaram.


Matanya masih basah mengingat pengakuan sang suami. Hatinya begitu sakit. Tapi tak bisa ia pungkiri jika sangat mencintai Pramana.


Maya terduduk lesu dipinggir ranjang, sesekali menyeka air matanya. Ia mencoba tegar agar kuat menghadapi kenyataan.


Tak ada salahnya jika ia bisa menerima kembali Pramana. Toh mereka juga sama sama mencintai. Ia menyadari untuk memulai awal yang baru mestilah saling berterus terang.


Air matanya kembali mengalir membasahi pipinya. Maya melepaskan segala kesedihannya. Mencoba melakukan apa yang pernah ia janjikan dengan dirinya sendiri.


Pramana juga tak memikirkan masa lalunya yang kelam dan hina. Ia merasa terlalu egois hanya karena pengakuan suaminya mereka akan berpisah. Hidupnya akan kembali hancur jika itu terjadi.


Tok


Tok


Tok


Pintu kamar diketok dari luar. Maya hanya melihat dari dalam. Ia tak berniat sedikitpun untuk membuka kan pintu. Ia yakin itu adalah Pramana.


"Sayang... Boleh aku masuk..."

__ADS_1


Terdengar suara Pramana dari luar. Ia kembali melihat pintu yang diketok tadi. Berjanji pada dirinya bahwa semua akan baik baik saja.


Jika Pramana kembali memintanya untuk hidup bersama. Dia akan menerima dengan tulus. Dan melupakan semua yang pernah terjadi.


Sebagaimana Pramana bisa melupakan masa lalunya. Yang terpenting sekarang adalah masa depannya. Sudah cukup Maya berjibaku dengan dirinya. Ia berdiri, perlahan berjalan mendekati pintu menelan salivanya.


Pintu terbuka. Maya melihat senyuman dari pria yang sangat ia cintai. Tapi Maya tetap tak mengacuhkannya. Ia berjalan masuk kedalam kamar dan duduk dibibir ranjang.


Melihat suasana hati istrinya yang masih gusar. Pramana masuk kedalam kamar. Ia mengunci pintu dari luar.


"Semoga saja mereka berbaikan lagi ya mas .." Mona menggenggam jemari Romi.


"Semoga saja sayang .. mas Pram pria yang baik.."


Sementara' didalam kamar, sepasang manusia tengah duduk bersebelahan tanpa suara. Pramana membelai rambut Maya. Ia menempelkan dahinya ke kepala Maya.


*Sayang berikan aku kesempatan lagi. Kita mulai dari awal... Mari lupakan semua yang telah terjadi. Bagiku kau wanita yang dikirim Tuhan untuk bisa membuat diri ku merasa pantas menjadi seorang pria. Aku mencintai Maya, jangan hukum aku seperti ini sayang .."


Jantung Maya berdetak kencang mendengar ucapan Pramana. Ia sudah membulatkan tekadnya. Mengambil keputusan untuk memulai dari awal dengan Pramana.


Ia menoleh memandang Pramana dengan tatapan hangat. Pramana juga memperhatikan istrinya. Ia tak bisa membayangkan jika Maya akan minta berpisah dengannya.

__ADS_1


Tanpa Pramana sadari Maya mendekatkan wajahnya hingga bibir mereka menyatu. Maya memberikan kecupan hangat. Hingga membuat Pramana memeluknya.


Pertanda apa ini .. apa yang Maya tengah pikirkan....


Maya membalas memeluk Pramana. Pramana masih tak bisa menyimpulkan tingkah Maya. Ia kembali melihat Pramana dengan sebuah senyuman. Maya kembali melancarkan sebuah ciuman hangat untuk Pramana.


Kini hati Pria itu dilanda bahagia, bagai bunga bunga yang bertebaran diatasnya. Ia tahu bahwa Maya pasti akan memberikan kesempatan lagi. Karena baru saja di atas mobil Maya mengutarakan perasaannya.


Pramana membalas ciuman Maya dengan melu..mat bibir ranun istrinya. Hingga nafas mereka mulai berpacu. Dengan lembut Pramana mengangkat wajah istrinya dengan menangkup pipinya.


"Terima kasih sayang .. aku mencintai mu."


Mereka kembali berpelukan. Melepaskan kerinduan. Kerinduan bukan karna mereka berjauhan tapi karena Maya dan Pramana bisa saling menerima. Hingga mereka seperti pasangan yang baru saling menyatu.


"Mas... Aku juga mencintai mu. Aku harap ini akhir dari semua ketidak tauan ku. Kuharap kita bisa saling jujur untuk kedepannya."


.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2