
Pramana membaringkan tubuh Lana di atas tempat tidur. Ia mengambil segelas air ke dapur. Ia melihat banyak bungkus obat di dekat kulkas Lana. Ia mengambilnya dan menyimpan dalam saku jaketnya.
Ia berusaha membangunkan Lana yang tampak sangat pucat saat ini. Pramana menatap lembut Lana.
Sebenarnya apa yang terjadi dengan mu Lana? Ikhlaskan semua hubungan kita Lana. Anggap aku hanya sebagai teman mu Lana. Aku sangat
senang dengan hal itu.
Lana membuka matanya secara perlahan. Ia melihat Pramana yang tersenyum menatap nya.
"Kau sudah bangun?"
"Kau membawa ku sampai kesini?"
Pramana mengangguk dan ia segera berdiri. Memperhatikan Lana. Wanita yang selama ini menemani hari hari nya.
"Kalau begitu aku akan pulang. Jaga dirimu."
"Kau benar benar akan meninggalkan ku Pram?" Terdengar isakan dibalik suara Lana.
"Istriku menunggu ku Lana."
"Tapi kita takan bertemu lagi Pram. Temani aku hanya malam ini. Aku akan benar benar melepaskan mu. Ku mohon..."
__ADS_1
Pramana menggaruk belakang kepalanya. Bingung harus bicara apa lagi pada Lana. Saat ini Maya pasti sedang menunggu nya. Ia tak ingin membuat istrinya bersedih lagi. Atas apa yang telah ia alami.
"Lana.. dengarkan aku baik baik.. aku sudah menepati janji untuk bertemu dengan mu. Tapi jika untuk bersama mu menghabiskan malam ini, kurasa itu tak mungkin. Coba lah mengerti Lana."
Pramana terlihat frustasi untuk bicara dengan Lana. Ia langsung melangkahkan kakinya ke depan pintu kamar Lana.
"Pergilah.. jika kau ingin melihat ku mati."
Pramana menoleh kearah Lana. Ia memegang sebuah gunting dan didekatkan ke lehernya.
"Apa apaan ini Lana. Jangan bertingkah bodoh seperti ini!"
Pramana mendekati Lana dan berusaha mengambil gunting ditangan Lana. Wanita itu menangis, ia membiarkan Pramana mengambil gunting ditangannya.
Ia memperhatikan Lana yang sangat terlihat sedih. Tanpa maksud apa apa Pramana mendekati nya dan memeluk wanita itu.
Namun matanya terasa sangat mengantuk. Tubuh nya terjatuh kepangkuan Lana. Wanita itu tersenyum.
Ia membaringkan Pramana disampingnya. Dan cepat membuka bajunya yang sudah ia beri obat bius di bagian pundaknya.
Menganti dengan pakaian tidur yang terawang. Entah apa yang ada dipikiran nya saat ini. Ia kembali berbaring disebelah Pramana dan memeluknya dengan sebuah senyuman.
Siapa bilang kau bisa bahagia dengan wanita pilihanmu Pramana. Lantas selama bertahun kita bersama.. kau semudah itu mencampakkan ku. Tak semudah itu Pram... Aku Lana... Bukan perempuan desa seperti istrimu itu.
__ADS_1
Ia membelai wajah serta tubuh pria tampan yang sangat ia cintai. Lana menjadi kehilangan akal karna Pramana lebih memilih wanita lain ketimbang dirinya.
Apa kelebihan wanita desa itu dari ku? Tentu aku lebih cantik dan kaya dari nya. Lantas kenapa kau memilihnya.
Sayang .. kita akan bersenang senang malam ini. Untuk membuat sebuah ikatan yang tak pernah kau bayangkan sebelumnya. Apapun yang terjadi kau harus kumiliki. Meskipun tak ada cinta mu untuk ku Pram ..
Lana mencoba mencari ponsel Pramana di setiap saku pakaian nya. Namun nihil. Pramana tak sempat membawa ponselnya karna membantu Lana saat diparkiran tadi.
Akan ku pastikan wanita itu tak akan memaafkan mu Pram. Dia tak akan menerima mu lagi. Biarkan dia menunggumu semalaman ini. Karna tak ada yang bisa merebut mu dari ku.
Lana membuka pakaian Pramana satu persatu. Hingga yang tersisa hanya segitiga penutup senjata Pramana. Ia mengecup bibir Pramana berkali kali.
Ia mengambil sesuatu dalam nakas nya. Mengusapkan ke senjata Pramana kini mulai menegang saat ia usap dengan selembar tisue. Entah apa itu.
Dengan nafas yang yang terengah engah, Lana menggoyangkan pinggulnya setelah menancapkan ke batangan Pramana. Ia seperti orang gila yang memperkosa seorang lelaki.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1