
Malam begitu terasa sepi, Maya masih membuka matanya menunggu kedatangan Pramana. Hati nya cemas bercampur marah pada suami.
Entah apa yang dia kerjakan diluar sana .. mas... Ada apa dengan mu .. ditelepon kok sudah sekali.
Maya terus menggerutu dalam hatinya. Ia melihat ponselnya beberapa kali. Lalu meletakan kembali ke atas nakas.
Kali Maya seakan menyerah. Malam semakin larut, perlahan kelopak matanya mulai menyatu. Dengan pikiran pada Pramana ia masuk kealam mimpinya.
Sementara Pramana sedang melajukan mobilnya menembus jalan raya yang sudah sangat sepi. Ia ingin segera bertemu dengan Maya setelah melihat puluhan panggilan tak terjawab dari istrinya.
Ia menghela nafas lega setelah mematikan mobil dihalaman rumah mereka. Pramana bergegas turun dari mobil. Ia melihat lampu rumah yang sudah padam.
Apa Maya sudah tidur ya? Atau ketiduran?
Beruntung Pramana membawa kunci cadangan. Dengan pelan ia membuka pintu rumahnya dan masuk tanpa bersuara.
Pandangannya langsung mengarah kepintu kamar yang sudah tertutup.
Semoga pintunya tidak dikunci Maya. Kurasa ia sangat marah kali ini.
Pramana melihat jam ditangannya yang sudah masuk pukul 2 dini hari. Ia membuka pintu kamar yang ternyata tidak dikunci Maya. Ia tersenyum melihat Maya yang sudah memejamkan mata.
Sebelum berganti pakaian Pramana mengambil setelan tidurnya dan kekamar mandi membersihkan tubuhnya dari noda yang ditinggalkan Lana. Ia sangat jijik ketika mengingat kejadian di apartemen Lana.
Dasar wanita gila .. murahan.. tak tau malu!!
Ia menggerutu dalam hati memakai kan sabun mandi ketubuhnya. Berkali kali ia mengulangi karna merasa belum bersih.
__ADS_1
"Aaah... Dingin sekali mandi tengah malam seperti ini."
Pramana selesai mengganti bajunya dikamar kedua tempat Maya dulu menginap saat pertama kali kerumahnya.
Ia kembali kedapur membuat secangkir kopi yang diberi tambahan susu. Sangat tepat untuk menghangat kan tubuhnya setelah mandi ditengah malam ini.
Matanya kembali melirik kepintu kamar, sambil menyesap sebatang rokok, Pramana berpikir untuk membicarakan ini pada maya. Ia harus jujur atau berbohong demi kebaikan hubungan mereka.
Pramana berjibaku dengan pikirannya sendiri. Menelan salivanya, membayangkan Maya yang marah setelah mendengar ceritanya dengan Lana.
"Aku akan ikuti alurnya.. kenapa mesti Pusing mikirin ini."
Ia berjalan masuk kedalam kamar. Langsung membuka selimut untuk menutupi tubuhnya yang kedinginan. Namun ada sesuatu disana.
Maya mengenakan baju tidur yang sangat seksi tersembunyi dibalik selimut. Pramana yang sudah mengantuk, pikirannya kini sedang travelling kemana mana.
Melihat tubuh molek istrinya. Pramana berubah pikiran. Ia memeluk Maya yang membelakanginya. Tak ada respon dari istrinya.
Aku sangat ingin melakukan nya .. melihat mu cantik begini sayang .. bangun lah Maya.
Pramana mengecup punggung Maya Maya yang terbuka dari belakang. Sehingga tubuh wanita itu menggeliat pelan. Pramana tersenyum dengan seringainya melancarkan aksi untuk bercinta dengan maya.
"Sayang .. aku pulang.."
Pramana berbisik sangat dekat dengan telinga Maya. Sehingga Maya langsung membuka matanya karna merasa kan ada sosok dibelakangnya.
Maya membalikan tubuhnya melihat kearah suaminya. Ia mengernyitkan keningnya. Dan hendak berbalik lagi membelakangi Pramana.
__ADS_1
"Sayang..."
Pramana menahan tubuh Maya dan langsung menyatukan kedua bibir mereka. Merasa Maya tak merespon.
Pramana membelai bagian Maya yang sedikit terbuka. Sehingga mulut istrinya terbuka karna terkejut dengan rasa geli akibat sentuhan tangan Pramana.
Ia langsung melu..mat bibir istrinya dan melilit lidahnya. Mengisi setiap ruangan dimulut Maya.
Maya tetap diam, ia melihat dengan marah wajah Pramana. Dan dia menyadari itu, Pramana langsung melepaskan ciuman yang tanpa balasan itu.
"Kenapa telat pulang?"
.
.
.
Bersambung
Maaf para pembaca Romaya,,
belakangan ini author sangat sibuk sekali. Jadi ga bisa up banyak banyak. Seperti sekarang aku nulis dinihari. Karena itu lah waktu yang bisa buat author fokus menulis.
Cukup satu bab per hari ya der ..
jangan maraaah ..
__ADS_1
salam cintooohh.
Calisa ardi