
Semenjak kepulangan Pramana, kehidupan Maya lebih baik lagi. Dengan segala cara ia menutupi semua kecurigaan Pramana pada Billy. Dengan alasan kecelakaan pada Billy sedikit merubah bentuk wajahnya.
Sore itu saat Pramana sedang duduk dibalkon kamarnya, ditemani secangkir kopi hitam. Ia mencoba mengingat lagi musibah yang menimpanya. Semilir angin berhembus mengusap lembut wajah tampannya. Tak sabar menunggu kabar yang akan merubah hidupnya.
"Mas.." panggil Maya dari dalam kamar.
Pramana melihat kearah Maya yang berjalan menghampiri nya. Dengan senyuman ia melebarkan sebelah tangan nya dan mengajak Maya duduk dipangkuannya.
"Mas .. hasilnya positif..."
Binar mata Maya menambah semangat mereka untuk kembali menikmati hidup yang telah Tuhan berikan padanya.
"Benarkah? Sebaiknya kita periksa kedokter sayang .." sahut Pramana sambil memeluk pinggang Maya.
Maya berdiri dan duduk didepan Pramana dengan mata yang berkaca kaca. Ia menggenggam tangan pria tampan yang telah menjaga keluarga mereka.
"Aku sudah telah sebulan mas .. berarti ini sudah memasuki usia dua bulan." Jelas Maya memastikan.
"Billy pasti senang akan mendapatkan adik..."
Pramana mengecup kening Maya dengan mesra. Sore itu menjadi saksi, awal kebahagian mereka. Walaupun Billy sudah tak ada didunia itu, Robi ibarat kembaran yang menyisakan kenangan tentang Billy bagi kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Aku sangat bersyukur dengan anugrah yang Tuhan berikan pada kita sayang... Aku berharap kita tak mendapatkan musibah lagi..." Doa Pramana penuh harap dan terlihat sedikit cemas.
Maya memeluk lengan suaminya dan bermanja menikmati matahari yang akan segera kembali keperaduannya.
"Mama..." Billy datang dari kamar berlari menghampiri mereka berdua.
"Jagoan papa... " Pramana menyambut putra nya dengan kebahagian. Ia memeluk dan mencium pipi seperti bakpao Billy.
"Obi... Sebentar lagi mau punya adik ya sayang..." Pramana langsung memberi kabar pada putranya.
"Adik Obi? Mana pa?" Bocah itu antusias menanggapi perkataan Pramana.
"Ini... Masih didalam perut mama..." Jawab Pramana menunjuk keperut Maya yang masih terlihat datar.
"Tentu saja sayang... Obi dulunya ada didalam perut mama juga... Pintar jagoan papa..."
Bocah itu langsung memeluk Pramana. Mungkin karma usia nya yang masih terlalu muda, Robi tak mengingat sesuatu hal tentang dirinya. Karna Maya Selalu berkata, bahwa dia adalah anak mama Maya dan papa Pramana. Dan ucapan itu menjadi sugesti pada Robi, bahwa dirinya adalah Billy Aji Dewanto, Bukan Robi.
Maya terharu mendengar pertanyaan yang dilontarkan Billy pada Pramana. Sungguh malang nasib seorang anak lelaki yang tak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu. Dan ia pun bernasib sama malangnya, karna telah kehilangan seorang putra yang mereka jaga mati matian.
"Sini sayang mama..." Maya memeluk hangat Billy. Tanpa sadar air matanya pun menetes. Membuat Pramana ikut merasakan haru disore itu.
__ADS_1
"Kau takan kehilangan putra kita sayang... Jangan menangis seperti itu." Bujuk Pramana mengelus rambut Maya.
"Aku takut mas, sayang ku akan berkurang pada Billy saat adiknya lahir..." Maya memberikan alasan yang masuk akal pada Pramana.
Sebab tak mungkin baginya menceritakan segalanya disaat sekarang ini. Biarlah waktu yang akan memberi tau Pramana tentang kebenaran yang tertutup darinya.
"Aku yakin kau pasti akan bisa bersikap adil pada anak anak kita Maya. Jangan pikirkan sesuatu yang belum jelas." ucap Pramana memberikan Semangat pada istrinya yang sedang mengandung untuk kedua kalinya.
Maafkan aku mas, aku terpaksa mengambil alih semua tentang putra kita dan tentang dirimu...
Dan kiriman dokumen yang dikirim oleh temanmu.. aku akan membuka nya jika waktunya sudah tepat. Aku takut kau akan terbaring lagi, menghadapi kenyataan ini.
"Ada apa sayang?" Tanya Pramana karna Maya memandangnya dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.
"Aku hanya ... Sedang bahagia .." jawab Maya singkat.
.
.
.
__ADS_1