ROMAYA

ROMAYA
Sebuah permintaan


__ADS_3

"Dirumah ada yang membantuku. Aku tidak sendirian. Aku akan jaga diriku mas... jika aku sakit aku tak bisa lagi menemuimu. Jika saja bisa setiap hari aku akan kesini."


"Sayang... ini bukan hotel yang bebas kau kunjungi setiap hari. Semua ada jadwalnya. Sabarlah.. sebentar lagi kita akan bersama sama."


"Habiskan makanan mu."


Mona kembali menyuapi Romi dan mereka bercanda dan tertawa. Sampai sampai petugas ikut tersenyum melihat kebersamaan mereka.


"Maaf nyonya.. waktu kunjungan sudah habis.."


Mona memeluk suami nya erat erat. Ia mengecup lama bibir Romi. Romi terbawa suasana langsung me..***** bibir manis istrinya.


"Ehem..."


Suara petugas menghentikan ciuman hangat mereka. Romi tersenyum melihat kepada Mona.


"Sayang... apa kah kita bisa minta kamar khusus sekarang.? Aku sangat merindukanmu"


Mona tertawa mendengar permintaan Romi. Ia mengelus pipi suaminya. Dan mereka akhirnya berpisah. Romi kembali masuk ke sel kamarnya membawa tas pakaian yang dibawa Mona.


"Maaf pak... bisa saya minta tolong antarkan pakaian kotor suami saya kesini pak? Saya akan menunggunya"


"Baiklah nyonya .."

__ADS_1


Tak berapa lama petugas datang dengan satu tas pakaian kotor Romi. Ia keluar meninggalkan rumah tahanan.


Melihat kembali ketempat itu dan tersenyum teringat bisikan Romi tadi.


Romi.. aku juga sangat merindukanmu. Bersabarlah sayang... kita akan kembali bersama sama lagi.


...»»»»»»»»»»»»»»»...


"Dengarkan aku sayang, ini takan lama. Aku berjanji padamu. Beri aku waktu 20 hari. Maka aku akan mengakhiri semuanya.."


Lana menatap tajam Pramana yang sedang memohon padanya. Ia duduk lagi disofa ruang kerja Pramana. Air mata gadis itu berjatuhan tanpa henti.


Pramana mendekati Lana menatapnya dengan teduh. Ia terlihat bimbang, terjebak pada dua wanita yang sama sama ia sayangi.


"Mas Pram... 20 hari itu tepat diacara pernikahan kita. Orang tua ku sering bertanya karna kau jarang sekali menjemputku untuk keluar bersama. Sedangkan hari pernikahan kita telah dekat." Suara gadis itu mulai putus asa.


"Kau tau mas? Aku sudah sering berbohong agar nama mu selalu baik dimata mereka. Aku yang mengurus sendiri persiapan pernikahan kita. Orang orang melihat ku aneh. Karna aku tak ditemani calon suami ku. Apa kau bisa rasakan perasaan yang aku rasakan mas?"


Lana mencurahkan segala isi hatinya. Pramana semakin merasa bersalah. Ia merangkul tubuh wanita itu dan memeluknya.


"Bahkan untuk bertemu dengan mu saja sangat sulit. Apakah hak ku telah digantikan oleh wanita itu dihatimu? Terlebih status dia sebagai istrimu. Walaupun kau mengaku tak menyentuhnya."


Kebohongan nya pada Lana semakin membuat lidahnya semakin kelu. Ia tak sanggup lagi untuk berkata kata.

__ADS_1


Pramana menangkup pipi Lana, kemudian mendekatkan wajahnya pada bibir Lana. Kecupan hangat yang selalu dirindukan Lana. Namun, Pramana melepasnya lagi. Kecupan itu hanya sekejap.


"Kenapa mas?" Lana menatap Pramana penuh tanda tanya. Ia curiga dengan tingkah calon suaminya kali ini.


"Aku hanya tak ingin lebih jauh lagi..."


Pramana memberikan alasan yang dipikir Lana tak masuk akal bagi mereka yang akan menikah.


"Baiklah.. bisakah hari ini kita jalan jalan bersama? Aku sangat merindukan mu." Lana menggenggam tangan Pramana.


Getaran yang aneh.. aku bahkan tak merasakan apa apa. Bayangan Maya selalu dimataku... ada apa ini..?


"Mas?" Lana menepuk lengan Pramana.


"Ya?" Ia langsung merespon saat dikejutkan oleh Lana.


"Kau melamun..." tanya Lana gusar.


"Ya.. pekerjaan ku sangat banyak sayang... mungkin lain waktu.. aku akan ada kerja sama dengan perusahaan Ray. Jika aku telat.. maka pupus sudah semua."


.


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2