
Perlahan membuka kancing baju Maya, Kemudian ia berdiri menatap keseluruhan tubuh wanita yang sangat ingin ia jamah.
Nafas lelaki paruh baya itu sesak tak tentu, ia menatap semua milik Maya. Mencoba mengira ngira rasa sensasi milik janda tersebut. Bahkan Air liurnya menetes.
Mengelus bibirnya Maya. Mawarto menyentuh lembut mulut Maya dengan jemarinya. Karna wanita itu tak sadarkan diri tentu tak ada pemberontakannya.
Tanpa menunggu lama, ia membungkukan tubuhnya mengecup bibir ranun Maya secara perlahan.
Apa yang akan aku lakukan dengan mu Maya? kau tak sadarkan diri seperti ini. Bahkan kau tak bisa membalas kecupan ku. Apa aku harus melakukan nya sendiri? Itu sangat tak enak...
Mawarto mendecih kesal. Mulutnya meracau tak karuan. Berharap sesuatu yang ia inginkan terjadi. itu sangat tak mungkin.
Untuk apa aku melakukan ini padamu Maya?
Seharusnya kau bisa tanyakan itu setelah kita selesai melakukannya. Karna kau sangat angkuh. merasa dirimu wanita yang paling setia.
Aku meminta mu baik baik untuk jadi istri ketiga ku. Kau dengan sombong menolak. Lebih setia menjaga nama baik suamimu yang sudah mati itu.
Sekarang kau rasakan akibatnya Maya...
Tak sabar menunggu lama, Lelaki itu mendekatkan lagi bibirnya kewajah Maya. Ia berniat akan menggagahi wanita yang sedang tak berdaya itu didalam kamar.
Sementara orang suruhan Mawarto diluar yang sedang makan bakso. Kedatangan dua pengunjung wanita yang akan membeli bakso.
"Permisi mas, mbak Maya nya dimana?" tanya salah seorangnya.
"Oh.. mbak Maya sedang pulang sebentar melihat ibunya. Mbak mau beli bakso ya?" sahut Udin yang langsung berdiri ketempat Maya biasa menyiapkan bakso.
__ADS_1
"Iya mas, apa masnya bisa?"
"Bisa lah.. saya sering bantuin mbak Maya disini."
"Kok aku ga pernah lihat ya Rin?"
"Sama... aku juga."
"Gimana mbak? jadi ga baksonya?"
"Iya mas, bungkus aja dua.."
Dengan telaten Udin meracik dua bungkus bakso. Ia mengingat berapa buah bakso yang ia lahap tadi.
Sementara Mawarto masih asik dikamar kecil itu. Setelah puas berkarya. Ia merapikan kembali dirinya.
Mawarto keluar melihat anak buah nya sedang melayani pembeli. Ia menunggu dengan duduk ditempatny by ona semula.
"Kalian angkat dia keluar. Dudukan disana. Buat seakan akan dia sedang tertidur. Buat tak ada jejak." perintah Mawarto pada orangnya setelah pembeli pergi.
Mereka mengangkat tubuh Maya dan melakukan persis seperti yang diperintahkan bosnya.
"Bos sangat pintar... hahahahah" salah satu mereka mengagumi Mawarto.
"Makanya kau harus menggunakan otak jika berbuat sesuatu.. ahahahha"
Jawabnya santai meminum air putih karena meresa lelah karena kegiatan tadi.
__ADS_1
Setelah mereka menyelesaikan makan baksonya. Lebih tepatnya melancarkan aksi. Salah satu dari mereka berpura pura membangunkan Maya.
Walaupun matanya sedikit berat untuk terbuka. Maya mendongak, melihat arah Mawarto yang masih duduk disana bersama dua anak buahnya.
"Berapa semuanya dek Maya?"
Mawarto bertindak seolah tak terjadi apa apa. Ia masih teringat sensasi nikmat yang diberikan tubuh Maya. Tak sadar ia meneguk air liurnya.
"Eh.. maaf pak, saya ketiduran. Tidak usah pak. Saya jadi ga enak." Maya yang tertidur merasa segan dengan Mawarto.
"Jangan seperti itu. Sesuatu yang selesai dinikmati harus dibayar. Biar kau tidak rugi." sebuah senyum seringai nampak dimulutnya.
"Baiklah pak."
Maya menerima bayaran bakso dari Mawarto. Lebih tepatnya bayaran untuk tubuhnya.
Pak War berdiri memberikan lima helai uang ratusan ribu. Dan berjalan keluar meninggalkan kedai itu. Maya mengejar nya merasa uang yang diberikan sangat lah banyak.
"Tunggu pak.. ini kebanyakan." berteriak didepan pintu kedai.
"Ambil saja untuk mu. Bakso mu benar benar nikmat. Lain kali aku kesini lagi." Memberikan senyum seringainya.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung