ROMAYA

ROMAYA
Kejutan untuk Monalisa


__ADS_3

Pramana tersenyum lega sambil menatap Romi yang melihatnya dengan wajah penasaran.


"Kerja bagus Joko... Bisakah kau kesini sekarang. Bawa surat dari kepolisian untuk menurunkan status Romi dan pembebasannya. Aku ingin semua dilakukan hari ini. Apa kau bisa?"


Romi mengukir senyuman setelah mendengar perkataan Pramana pada pengacaranya.


Tenang saja Romi... aku akan menyatukan kembali kau dan kakakmu...


Pramana menatap Romi dengan intens


"Baiklah pak.. 30 menit saya akan sampai disana."


Pramana menutup ponselnya. Kemudian ia melihat Romi yang dari tadi terlihat sangat senang.


"Kau bisa menyimpulkan sendiri bukan?"


Pramana menepuk nepuk lengan Romi.


"Ya mas... aku paham. Dan aku sangat senang hari ini. Aku bisa menemani Mona melahirkan nanti. Terima kasih mas Pram..."


Romi memegang punggung tangan Pramana yang terletak diatas meja dengan kedua tangannya yang terborgol.


Hidup ini bagaikan tulisan yang rancu. Kita hanya perlu menyusun kembali dengan benar... maka semua.akan membaik seperti semula.


Mona tunggu aku Mona... sebentar lagi kita akan bersama sama.


"Apa kau ingin menghubungi istrimu Romi?"


Pramana meletakan ponselnya kedepan Romi. Dan ia berjalan mendekati kedua petugas. Bicara tentang kebebasan Romi.

__ADS_1


"Tidak usah mas... ku akan langsung menemui nya. Lagi pula aku belum benar benar bebas." Romi menoleh kebelakangnya melihat Pramana.


Beberapa waktu berlalu, pengacara yang di maksud Pramana datang. Sementara itu Romi sudah kembali ke sel nya. Mereka menyerahkan surat pembebasan sementara atas nama Romi.


Romi sangat bersyukur setelah melihat matahari bersinar terik disiang itu. Ia diantar Pramana kembali kerumah istrinya. Diperjalanan tak henti hentinya Romi tersenyum. Dia sangat bahagia berkat bantuan Pramana ia bisa kembali pulang.


"Nanti.. aku akan mengajak Maya kesini. Kalian jangan kemana mana sampai Tono tertangkap."


"Baiklah mas... Terimakasih banyak atas bantuan mu. Semoga kau dan mbak Maya hidup bahagia."


"Terima kasih Romi. Turunlah...temui Mona, aku akan ke kantor.." mobil Pramana berhenti tepat didepan rumah Romi.


"Sekali lagi terimakasih mas Pram."


Romi memakai topi dan masker, ia ingin memberikan kejutan pada Mona. Dari kejauhan ia melihat Mona sedang berbicara dengan dua orang wanita yang memakai seragam biru mini marketnya.


Romi berjalan kearah mereka. Mona tampak memperhatikan seorang pria yang datang mendekat. Setelah kedua karyawannya pergi ke mini market. Mona mendekati pria itu.


"Ada yang perlu saya bantu mas?" Selidik Mona.


"Benar ini rumah istriku?"


Mata Mona terbelalak mendengar suara Romi. Dengan senyuman dan mata yang berkaca kaca Mona melangkahkan kakinya mendekati pria itu.


Romi membuka masker dan topinya. Dengan beruraian air mata Mona memeluk erat suaminya. Tangisan nya pecah. Dengan sigap Romi membawa Mona masuk kedalam rumah. Karna tak ingin kedatangannya diketahui orang banyak.


"Mas... ini benar kau?" Mona memegang pipi Romi. Tak percaya dengan apa yang ia lihat.


Romi mengecup bibir ranun istrinya. Kemudian kembali memeluk Mona.

__ADS_1


"Ini aku..."


"Bagaimana bisa?"


"Nanti ku ceritakan.."


"Baiklah... ayo duduk..."


Mona terus berada dalam pelukan Romi. Ia berharap ini bukan mimpi. Suami nya telah kembali.


"Sayang... aku mau mandi.. tubuh ku tak terurus dipenjara. Masih meninggalkan aroma tikar sel besi..."


Lalu Romi memandangi sekitar rumah orang tua nya. Yang telah disulap oleh Mona.


"Mandilah... kita kekamar saja... akan ku siapkan air hangat."


Romi mengikuti Mona dari belakang. Rupanya Mona memperbesar rumah mereka dengan membeli beberapa meter tanah disamping kiri yang masih kosong. Disana jugalah Mona membangun sebuah Mini Market.


"Rumah ini sangat bagus..." Romi membelai rambut Mona.


"Kau suka mas?" Mona menggandeng tangan Romi untuk kekamar mereka.


.


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2