ROMAYA

ROMAYA
Setuju pindah rumah


__ADS_3

Maya duduk didekat Pramana. Ia menggoyang goyangkan lengan Pramana. Secepat kilat Pramana membuka selimut dan langsung menangkap Maya sampai berada di pelukannya.


"Maaaaass... "


Maya berteriak karna kaget. Ia tak tau kalau Pramana sudah bangun dari tadi. Melihat Pramana yang tertawa terbahak bahak.


"Kamu nangis mas?" Maya melihat heran pada Pramana.


"Sayang ... Aku tertawa.." ia mencubit kedua pipi Maya yang sangat menggemaskan baginya.


"Tertawa mu aneh..."


Maya juga ikut tertawa karna tangan Pramana menggelitik di pinggangnya.


"Ayo bangun... Aku sudah lapar. Karna menunggu mu pulang aku lupa untuk makan." Maya memonyongkan mulutnya kedepan. Sambil menepuk nepuk perutnya yang sudah lapar.


"Istriku yang baik ini bisa sampai lupa makan? Karna ulah seorang Pramana Dewanto? Keterlaluan. Bagaimana kalau aku saja yang kau makan pagi ini... Sebagai sarapan pagi."


Pramana menaik turunkan alis matanya. Ia menggoda Maya dengan memberikan serangan ciuman dileher Istrinya.


"Cukup mas.. bagian bawah ku tak kuat lagi untuk kau masuki. Masih perih..." Maya mendorong pelan tubuh Pramana agar menjauh darinya.


"Perih? Seganas itukah sang Jono ku?" Pramana memperlihatkan Jono yang sudah siap tempur kearah Maya.


"Lebih baik kau bangun, mandi lalu kita sarapan bersama."


Maya tak mengubris tingkah pertanyaan konyol Pramana. Ia mengambil handuk dan melilitkan nya ke pinggang Pramana.


"Kau masih malu melihat Jono yang gagah perkasa ini?" Ia menunjuk kearah Jono yang mengangkat handuk sampai keatas.


"Mas .. cepatlah.. ada sesuatu yang ingin ku bicarakan"

__ADS_1


Maya mendorong tubuh kekar Pramana keluar kamar. Dan segera membersihkan kamarnya yang berantakan.


"Dia memang perkasa sih.. xixixii... Jika tak memikirkan nona ku yang bisa melepuh. Mungkin akan terjadi lagi seperti semalam.." gumam Maya sambil melipat selimut mereka.


"Ayoo... Bicara apa sendirian?"


Tiba tiba Pramana muncul didepan pintu dengan kepala yang menjulur sampai kedalam.


"Sudah... Buruan mandi... Aku lapar mas..."


Pramana langsung berlari lagi kedapur setelah dilemlar bantal oleh Maya dengan wajah memerah. Karna perkataan nya yang didengar oleh Pramana.


"Wanita... Wanita... Selalu menutupi keinginannya untuk terlihat tegas dan kuat. Jadi dia benar benar melepuh."


Pramana masuk kekamar mandi ia menyiram tubuhnya dengan air hangat yang audah disediakan Maya.


"Jono.. lain kali kau tak boleh menyakiti kepunyaan istriku lagi.. mengerti?


Pramana kembali membersihkan dirinya dengan bermacam macam pemikiran dikepalanya.


Maya menunggu suaminya yang sedang berganti pakaian. Ia mengambilkan hidangan sarapan untuk Pramana.


Kenapa lama sekali? Biasanya sebentar dia sudah selesai.


Maya berdiri dan berjalan melihat Pramana. Rupanya suaminya sedang bicara serius ditelepon. Maya diam duduk ditepi ranjang.


"Baiklah.. kau siapkan semua berdasarkan yang aku minta. Jangan kurang sedikt pun."


"Baiklah pak... Nanti akan saya beritahu lokasinya."


"Bagus Tris .. jika kerja mu memuaskan kau akan mendapat bonus diluar gaji mu."

__ADS_1


"Iya pak... Tentu.. saya akan berusaha sebaik mungkin."


"Bagus... Pukul dua nanti harus sudah selesai semuanya..."


Tanpa mendengarkan jawaban dari bawahannya. Pramana sudah memutuskan sambungan teleponnya.


"Maaf sayang .. menunggu lama. Ada hal penting makanya aku menghubungi Trisno asisten ku."


Pramana merangkul pundak Maya dan berjalan kearah meja makan.


"Iya... bagi ku tak apa apa. Ayo kita makan..."


Pramana menyuap makanan yang sudah disedikan Maya. Ia menganggukkan kepalanya karna rasa enak dan nikmat dari cita rasa masakan Maya.


*Mas... Aku setuju kalau kita pindah rumah..."


Pramana memperhatikan Maya yang menunduk pada makanannya. Ia tetap diam dan cepat cepat menyelesaikan sarapannya.


"Benarkah? Kau tak bercanda bukan?"


"Aku serius... Tapi .. kau harus pertemukan aku dengan ibu dan adikmu hari ini juga..."


"Baiklah .." jawab Pramana sambil menatap Maya sesaat.


.


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2