
Raisa bersenandung berendam didalam bathub. Ia seakan sudah melayang membayangkan hal indah yang akan terjadi malam ini.
"Dewa... ini saat yang aku tunggu tunggu."
Ia kemudian berdiri dan membilas tubuhnya dibawah guyuran air hangat.
Memperhatikan tubuhnya dicermin saat memakai piyama.
Kau sangat cantik Raisa, dan Dewa pantas mendapatkan mu...
Semakin lama ia menatap tubuhnya yang polos itu. Ia semakin ingin berhasrat. Ia membuka kembali piyama yang baru ia pasang.
"Aku sangat menginginkan nya sekarang...
Ada apa ini...? Tubuh ku panas, dan... Tak bisa lagi menahan nya..."
Raisa memasukan sendiri jarinya kebagian bawahnya. Mengusap nya dengan lembut. Sementara sebelah tangannya menyentuh sendiri dada indah yang berdiri tegak.
Sesekali ia memejamkan matanya menikmati sendiri permainan tangannya.
"Dewa.. aku membutuhkannya..."
Merasa tidak puas dengan permainan nya sendiri. Raisa yang sudah dilanda hasrat yang sangat tinggi, keluar dari kamar mandi. Tanpa menggunakan satupun pakaian.
Ia terkejut dengan lampu temaram dikamar itu. Tubuhnya terasa panas mengharapkan belaian tangan dari seorang lelaki.
"Dewa...." Lirihnya naik keatas ranjang.
Seorang pria yang sedang terbaring disana nampak tersenyum, melihat pemandangan indah didepannya.
Akhirnya... Dia datang juga ..
Permainan dimulai....
Seringai yang nampak di wajahnya membalas sebuah pelukan yang diberikan Raisa.
__ADS_1
Dengan buru buru ia membuka seluruh pakaian nya. Memberikan sesuatu yang Raisa sangat inginkan.
Raisa memejamkan matanya mencium aroma khas Pramana.
"Dewa... Aku mencintai mu..."
Suara lirih nan lembut terdengar disuaranya. Saat pria itu menelusuri tubuhnya dengan kecupan dan jilatan yang menggelikan.
Salah satu tangannya ia arah kan kebagian bawah Raisa. Memainkan bagian sensitif itu dengan memompa nya.
Sementara mulutnya dipenuhi bagian indah Raisa yang kenyal. Sesekali mengulum dan Melu..mat ujung dadanya.
Desa..han yang berirama bagai angin syurga yang masuk dikamar itu. Syurga? Mereka sedang mencari tiket untuk menuju neraka. Bahkan iblis pun tersenyum menyaksikan pergumulan dua orang anak adam tanpa adanya ikatan pernikahan.
"Dewa... Aku tak tahan lagi..."
Raisa merasakan pelepasan pertamanya, nafasnya memburu. Ia langsung duduk diatas pangkuan pria itu.
Memasukan bagian bawahnya pada sebuah batang kenikmatan. Ia menggoyangkan tubuhya dengan liar. Teriakan kenikmatan terdengar dari suara Raisa.
Dan dua orang lainnya sedang merekamnya berdiri dalam kegelapan. Dengan senyuman yang terus mengembang dibibirnya.
Cukup lama pergumulan itu dilakukan. Hingga hampir pagi hari, Raisa masih saja belum puas. Entah minuman apa yang telah ia minum, hingga tenaga nya tak kendor sedikitpun.
Masih dengan pria yang sama, yang sudah terlihat lelah. Ia hanya berbaring dibawah Raisa. Sementara Raisa masih saja menggila dan liar memompa dari atas tubuhnya.
Wanita ini .. benar benar keturunan iblis...
Dari pertama ia datang tadi hingga kini masih saja bersemangat. Hingga tak memberiku jeda untuk istirahat sejenak. Bahkan sekarang sudah pagi.
Beruntung Bos menyarankan ku minum obat kuat. Hingga batang cinaga ku tetap berdiri kokoh, biarpun pemiliknya telah kelelahan seperti ini. hahahhaha
Pria ini beberapa kali mere..mas bagian kenyal Raisa yang bergoyang naik turun karna hentakannya.
Ketika hentakan itu semakin cepat, Raisa merasakan sesuatu yang besar akan tumpah dibawah sana. Seketika ia ambruk diatas tubuh pria itu.
__ADS_1
"Dewa.... Aaah... " Lirihnya dengan nafas yang tersengal sengal.
Wanita ini sangat cantik... Tapi merasakan nya seperti, ia seperti wanita murahan ditepi jalan.
Tangan pria itu membelai lembut rambut Raisa yang tak beraturan. Keringat membasahi tubuhnya. Matanya masih terpejam.
"Cepat kau baringkan dia disamping... Sebelum kesadarannya pulih..." Kata kameramen berbisik yang sejak awal merekam adegan panas tersebut.
Dengan pelan pria itu membaringkan Raisa disampingnya. Ia seperti tak punya kekuatan bahkan untuk membuka matanya.
"Dewa... Tetaplah disisiku..." Lirih Raisa lagi.
"Aku akan panggilkan bos sebentar... Kau jangan bersuara..."
Rekan kameramen satunya berjalan keluar kamar. Ia melihat Pramana dan istrinya sedang sarapan bersama.
"Bos... wanita itu baru saja menyelesaikan kegiatan nya... Dan sekarang ia terkapar lemah..." Laporan salah satu orang Pramana.
"Apa kalian sudah merekamnya?" Tanya Pramana.
"Sesuai permintaan bos .. kami juga telah menyalinnya. Nanti akan memberikan pada bos." Jawabnya.
"Tidak perlu... Aku tak ingin melihat itu. Kau simpan saja untuk koleksi film mu." Ledek Pramana.
Maya hanya melihat suaminya sekarang. Dia berubah menjadi sosok yang mengerikan. Ia tak berani berkomentar.
Memang mereka yang Pramana sewa untuk melayani Raisa adalah orang profesional dalam pembuatan film dewasa.
Makanya melihat Raisa yang polos, sama seperti halnya melihat wanita murahan yang biasa mereka produksi untuk dijadikan sebuah film. Pemandangan yang tak begitu menggiurkan.
"Baik bos... Kalau begitu kami bersiap siap untuk pergi."
.
.
__ADS_1
.
Bersambung