
"Ada apa Maya?" Tanya Lana saat mengangkat sambungan telepon dari Maya.
"Lana, bisakah kita bertemu besok?" Ajak Maya
"Tentu saja bisa... Apa ada sesuatu yang penting? Apa perlu aku bicarakan dengan Ray juga?" Tanya Lana merasa cemas dengan nada bicara Maya yang terdengar gelisah.
"Itu juga bagus... Aku akan kirimkan lokasinya."
Sambungan teleponnya terputus bertepatan saat Pramana masuk kekamar. Ia membersihkan diri kekamar mandi setelah memberikan senyuman pada istrinya yang sedang duduk ditepi ranjang.
Maya membaringkan tubuhnya secara pelan. Berpikir tentang email yang diterimanya dari seorang teman Pramana yang bernama Ren.
Aku menginginkan keadilan untuk putraku. Apa pun yang terjadi...
Maya memejamkan matanya pelan. Ia mulai tak mendengar apa apa disekelilingnya. Bahkan saat Pramana sudah tidur disebelahnya.
Matahari langsung menusuk kewajah Maya. Pagi ini ia bangun terlambat, karna beribu pikiran dikepalanya. Membuat ia terbangun saat tengah malam. Dan tertidur saat subuh menjelang.
Melihat Pramana yang sudah tersenyum menatapnya, ia pun membalas senyuman selamat pagi pada Pramana.
"Aku kesiangan mas..." Ucapnya mencoba untuk duduk. Namun tangan Pramana menghalanginya. Sehingga ia tetap berbaring disisi suaminya.
"Kau lelah?" Tanya Pramana mengelus rambut Maya.
"Aku tak bisa tidur semalam..." Jawabnya jujur.
"Mungkin itu pengaruh kehamilan mu sayang.." Pramana mengecup kening Maya lama.
"Aku kan buatkan sarapan.." Maya duduk dan terperangah ternyata sudah ada sepaket makanan. Berupa segelas susu, buah dan sandwich.
__ADS_1
"Waw...."
Maya membawa makanan itu kehadapannya. Dan meminum susu hamil rasa coklat. Kemudian mengangkat sandwich dan menggigitnya.
"Ini sangat enak.." puji Maya setelah menghabiskan gigitan pertama.
"Benarkah?" Tanya Pramana senang.
"Aku sangat beruntung pagi ini." Ucap Maya setelah menghabiskan sandwich yang diberikan Pramana.
"Sayang... Aku akan berangkat." Pramana berdiri lalu memakai setelan kantornya.
"Apa mas sudah sarapan?" Tanya Maya masih duduk diatas Ranjang.
"Sudah... Tadi aku buat 4 sandwich. Dan Billy menghabiskan 1 sandwich nya." Bangga Pramana karna putranya menyukai sarapan yang ia buat pagi ini.
"Hati hati dijalan mas... Maaf ya... Aku menjadi istri yang buruk pagi ini." Ucap Maya sambil memeluk suaminya dari belakang.
Pramana membelai perut Maya yang masih datar. Dan mengecup kening istrinya.
Maya melepas suaminya hanya sampai didepan pintu kamar. Dan ia segera masuk kekamar mandi.
...****...
Ditempat yang telah dijanjikan Maya. Ray dan Lana menunggu Maya, dan mereka telah menghabiskan 2 porsi roti bakar.
"Maaf aku telat, aku kesiangan .." Maya segera duduk didepan Lana.
"Apa yang terjadi?" Tanya Ray tanpa basa basi.
__ADS_1
"Kau bisa buka ini Ray? Aku sangat takut membukanya... Pikiran buruk bergelayut diotak ku."
Maya menyerahkan ponselnya, salinan kiriman Ren keponsel Pramana telah ia pindahkan ke ponselnya. Dan menghapus diponsel Pramana.
"Apa ini?" Tanya Lana ikut melihat disamping Ray.
"Aku tidak tau..." Jawab Maya sedikit cemas.
"Kita akan buka... Kau jangan gelisah Maya. Ada aku dan Lana yang akan selalu membantu mu."
Maya terlihat tenang, namun terlihat tangannya bergetar. Lana berpindah duduk disebelah Maya, memberikan kekuatan pada sahabatnya itu.
"Tenanglah..." Kata Lana menenangkan Maya.
Ray membuka berkas yang telah dikirim Ren pada Pramana. Matanya terbelalak tak percaya melihat kenyataan. Intinya Billy memang dibunuh oleh seorang wanita.
Berkali kali Ray memutar video yang terdapat didalamnya. Ia berkeringat dingin melihat Pramana ditabrak oleh mobil berwarna merah dan dikendarai oleh seorang wanita.
Dan membaca berkas satunya lagi, dan sudah jelas. Dia pelakunya. Tangan Ray terlihat bergetar menahan amarah.
"Ada apa sayang?" Tanya Lana terkejut melihat perubahan wajah Ray.
.
.
.
__ADS_1
Maaf ya... up nya telat, karna Author sedang tidak sehat. Dan ini masih menyempatkan menulis dengan menahan sakit kepala. Agar kalian tidak kecewa...
Jangan kecewa ya bebs... 😘✌️