ROMAYA

ROMAYA
Anak kembar


__ADS_3

Dua tahun kemudian


Maya melahirkan sepasang anak kembar, mereka sangat bahagia memiliki tiga orang buah hati.


Dua tahun terakhir berakhir dengan ketenangan keluarga Maya dan Pramana. Bahkan mereka sudah memiliki sikembar yang berusia lebih dari setahun.


Obi sangat senang mempunyai adik kembar yang menggemaskan. Seperti sicantik Alara Putri Dewanto dan si tampan Altan Putra Dewanto.


Obi mempunyai teman bermain sekarang, walaupun hanya berselisih tiga tahun, Obi sudah bisa menjadi kakak yang menjaga kedua adiknya.


Dua tahun juga Raisa terbaring lemah diruang inap rumah sakit. Orang tua nya yang sudah pasrah akan kesembuhan Raisa. Hanya mengunjunginya sekali dalam seminggu.


Tubuh wanita itu kurus kering, Wajahnya terlihat pucat. Tak ada bantuan peralatan medis untuk nya.


Peralatan itu dilepas saat bulan lalu, ketika tubuhnya sudah berfungsi dengan baik. Hanya saja menunggu Raisa siuman.


Sesekali Ray dan Lana melihat keadaan Raisa. Tanpa sepengetahuan Pramana tentunya.


Sore ini Ray dan Lana membawa kedua anak mereka berkunjung ke kediaman Pramana. Sebuah acara makan malam bersama. Disana juga ada Romi dan Mona. Mereka membawa kedua buah hatinya. Gilang dan Gazelia.

__ADS_1


Setelah acara makan selesai. Ray mengajak Maya dan Pramana bicara bersama Romi. Sementara anak anak dijaga oleh Mona dan Lana. Di temani juga oleh Laura dan ibu Linda.


"Kemaren aku dan Lana mengunjungi Raisa dirumah sakit." Ray membuka pembicaraan.


"Untuk apa lagi melihat nya Ray?" Tanya Pramana langsung kesal saat mendengar nama wanita yang paling ia benci.


"Aku hanya kasihan padanya. Kau jangan salah sangka dulu Dewa... Menurut ku, kalian harus melakukan sesuatu..." Ray menggantung ucapannya.


"Lanjutkan mas, aku penasaran." Romi mendesak Ray bercerita.


"Keadaan nya memang sudah baik sekarang, namun ia tetap belum siuman. Dan kau tau ini sudah dua tahun ia terbaring kaku. Mungkin kah ia menunggu kalian memaafkannya? Mungkin ia akan sembuh atau pergi dengan tenang."


Pramana dan Maya saling melihat. Raisa sudah merasakan siksaan dunia. Mungkin apa yang dikatakan Ray sangat benar. Namun hati mereka belum bisa memaafkan Raisa begitu saja.


"Aku memang sangat marah padanya. Saat aku akan melahirkan, ia menyiksaku. Bahkan tak memberikan bantuan pada Bayi ku. Hingga Billy dirawat dirumah sakit dalam waktu yang lama. Kita benar benar takut kehilangannya mas, walaupun pada akhirnya Raisa berhasil melenyapkan kebahagiaan ditengah keluarga kita, yakni Billy. Kau ingat ibu tertembak karena ulahnya. Beruntung ibu selamat.


Dan lagi saat ia menjebak mu... Itu sangat menjijikan. Dia sangat murahan. Terlalu murahan.


Entah lah Ray .. aku tak bisa berpikir untuk saat ini." Maya mengusap air matanya yang mengalir dipipinya.

__ADS_1


Pramana merangkul tubuh istrinya. Untuk memberikan kekuatan bathin bagi Maya.


Ray menatap sedih akan penderitaan yang dilewati Maya akibat ulah Raisa.


"Tapi mbak, sebagai manusia kita berkewajiban memaafkan, biarkan Tuhan yang membalas segala perbuatan Raisa. Jangan mendahului Tuhan untuk tak memaafkan seseorang. Kita hanya manusia biasa. Dan dia sudah menerima siksa selama dua tahun ini.


Kurasa ucapan mas Ray benar mbak... Cobalah untuk ikhlas ..." Romi memberikan masukan untuk Maya.


"Biarkan dia berpikir hingga besok Romi.. maaf kalian jangan marah padaku. Aku hanya mengingatkan karna kita sebagai manusia, dan juga sebagai sebuah keluarga." Ray menambahkan pendapatnya.


"Terimakasih Ray... Semoga besok kau mendengar kabar bagus dari Maya." Ucapan terimakasih dari Pramana.


Mereka melanjutkan perbincangan lainnya.


Dalam hatinya Maya merasa bersalah, perkataan Romi padanya membuat ia sadar. Ia hanya menjaga titipan yang Tuhan anugerahkan untuk keluarga mereka. Dan kematian juga akan menghampiri, tanpa Raisa. Karna itu adalah takdir yang tak bisa ditawar oleh manusia.


.


.

__ADS_1


.



__ADS_2