
"Video? Perasaan aku hanya membuat satu video saat bibik memasuk gulai kangkung favorit ku. Video apa ini..?"
Mona membuka video itu. Mata nya terbelalak melihat isinya. Ia melihat detail siapa orang yang berada didalam video tersebut.
"Dia?..."
Terlihat Romi mengendap ngendap membuka pintu kamarnya. Dan apa yang terjadi didalam kamar itu atas izin dari Mona.
Tak berapa lama Romi keluar kamar, terlihat ia menoleh ke arah pintu kamar Mawarto lalu masuk kedalam kamar Mawarto dan beberapa lama didalam ia keluar dengan sebuah senyuman.
Kenapa dia tersenyum..? Apa benar dia yang telah melenyapkan ayah. Setelah kita melakukannya?
Tapi.. apa motif nya. Aku harus segera bertemu dengan Romi. Aku harus mengetahui tujuannya.
Bergegas Mona keluar rumah. Ia membawa laptop yang dimasukan kedalam tas. Dan meninggalkan kamera Ratih didalam lemarinya.
"Mau kemana nak? Ini sudah sangat sore. Sebentar lagi malam.."
"Aku lupa menyalin beberapa tugas bunda. Aku akan keluar sebentar. Nanti aku akan menghubungi pak Udin untuk menjemputku."
Mona keluar rumah ia segera berjalan dengan tergesa gesa kerumah Romi. Diperjalanan ia bertemu dengan Maya.
"Sore mbak... apa Romi ada dirumah?" Tanya Mona lembut.
"Oh Romi.. dia baru saja keluar. Tapi mbak ga tau kemana."
"Oh... begitu ya. Ya sudah mbak, aku coba tanya sama temannya saja. Makasi mbak, aku duluan.."
"Mona, ada apa? Apa terjadi sesuatu."
__ADS_1
Maya memegang lengan Mona yang hendak beranjak kearah lain. Dia menatap gadis itu yang saat ini berwajah serius. Ia bis menerka jika Mona telah mencium bangkai yang disimpan Romi.
"Jika berhubungan dengan Romi, Kamu bisa cerita ke mbak..."
"Aku.. aku hanya mau memastikan saja pada Romi mbak"
"Memastikan apa Mona?"
"Tentang suatu hal, mengenai ayah"
Jantung Maya berdegup sangat kencang. Ia telah bisa menebak, kekhawatirannya selama ini mulai terbuka. Ia menarik lengan Mona dan membawa kerumahnya.
"Ada apa mbak Maya?"
"Kita harus bicara Mona!"
Setelah sampai dirumahnya, Maya membawa Mona masuk kekamarnya. Dan duduk ditepi ranjang Maya.
"Apa yang ingin kau tanyakan ke Romi? Beritahu mbak"
Maya menatap dalam dalam wajah Mona yang sedkit gugup dengan tingkah Maya padanya.
Mona mengeluarkan laptop dari tasnya dan memutar Video yang tadi ia lihat dikamar.
Mata Maya membola tak percaya jika Romi senekat itu.
"Romi masuk kakamar siapa ini Mona?"
Tanya Maya terus memperhatikan video itu. Lumayan lama, terlihat durasi 48 menit Romi baru keluar dari kamar itu. Ia melihat kearah Mona yang terlihat gugup dengan pertanyaannya.
__ADS_1
"Itu kamar ku mbak."
"Apa yang kalian lakukan dalam waktu sela..."
"Bukan ini yang ingin aku tanyakan mbak Maya. Tapi setelah Romi keluar dari kamar ku."
Maya kembali memperhatikan video tersebut. Ia melihat Romi masuk kesebuah kamar lagi. Selang beberapa menit ia keluar lagi dari kamar itu tampak tersenyum puas.
"Kamar siapa itu?" Tanya Maya menatap Mona yang kembali memasukan laptopnya kedalam tas.
"Itu kamar Ayah..."
"Apa? Kamar pak War?"
"Ya... dan mbak bisa lihat jam berapa Romi keluar dari kamar ayah. Itu sudah hampir pagi. Beberapa jam setelah nya aku masuk membangunkan ayah untuk sarapan. Dan ayah telah tak bernyawa."
Maya menahan sesak dadanya. Bagaimana cara Romi melenyapkan lelaki tua itu tanpa meninggalkan jejak dikamar nya. Ia sangat takut jika Mona melaporkan pada pihak berwajib dan menangkap Romi.
"Aku hanya ingin tau saja mbak, atas dasar apa Romi melakukan itu?"
Maya masih terdiam ia berjibaku dengan situasi nya saat ini. Akan kah ia akan jujur pada Mona. Tapi hal itu sangat menyakitkan untuk kembali diingat.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1