
"Benar... Tapi .. kurasa. Kita juga ingin memliki seorang anak. Apa kau kecewa pada ku mas?" Maya terlihat gusar.
"Kecewa? Karena apa sayang?"
Pramana sebenar nya sadar jika istrinya sedang merasa kecewa dengan diri sendiri. Tapi ia selalu tersenyum untuk menutupi kegundahan hati istrinya.
"Karna aku belum memberikan seorang anak untuk mu..." Jawab Maya lirih.
Pramana tetap fokus menyetir, ia bahkan sengaja mengabaikan ucapan istrinya.
"Mas... Kau tak mendengarkan ku?"
Pramana tetap diam. Ia hanya melirik sebentar lalu melihat lagi kedepan. Maya merasa terabaikan, ia menunduk duduk disebelah Pramana.
Air matanya menetes merasa sangat kecewa dengan dirinya sendiri.
"Lalu bagaimana jika kita tak mempunyai anak?"
Tanya Pramana memecahkan keheningan didalam mobil. Maya menoleh memandangi suaminya lekat.
"Jika kau ingin menikah lagi, aku relakan..."
Suara nya terdengar bergetar, entah dari mana pemikiran seorang Maya yang gampang berputus asa.
"Kau sudah temukan calonnya?" Tanya Pramana fokus melihat kedepan.
__ADS_1
Dada Maya terasa berhenti berdetak, ada rasa sakit yang ia rasakan seketika saat sang suami bertanya hal itu.
Ia berpikir mungkin Pramana menyetujui permintaan nya untuk menikah lagi demi mendapatkan seorang anak. Padahal bukan itu yang ia harapkan.
"Kau benar benar mau menikah lagi mas?" Tanya Maya lirih.
"Jika itu permintaan istriku kenapa mesti aku tolak. Lagipula... Jika pernikahan kedua istriku tetap tidak hamil, aku akan menikah lagi... Dan begitu seterusnya. Mungkin bagimu aku hanya mesin pencetak anak."
Dalam ucapan nya Pramana terdengar sangat marah. Tapi tetap ia ucapkan dengan lembut. Biar Maya menyadari kesalahannya.
"Bukan begitu maksud ku..." Potong Maya. Namun ia tak melanjutkan ucapannya.
"Kita belum setahun menikah, dan kau menyuruh ku menikah lagi hanya karna kau belum hamil. Itu sungguh sangat egois. Lagipula aku menikahi mu bukan hanya karna ingin mempunyai anak saja.
Jika dalam pernikahan kita Tuhan mempercayakan seorang anak, anggap saja itu bonus dan kita patut bersyukur dan menjaganya.
Kenapa kau malah menyuruh ku menikah? Kau tak memikirkan perasaan ku."
Tegas Pramana tanpa menoleh pada Maya. Terlihat ia menautkan giginya. Ia menahan geram pada Maya.
Maya lebih terisak, ia merasa bersalah dengan ucapannya tadi. Ia sangat tak menyangka jika Pramana ternyata benar benar marah.
"Bukannya kau senang Mona akan melahirkan? Untuk apa membahas hal hal yang tak penting seperti ini. Hanya mengganggu pikiran ku saja."
Pramana menambahkan lagi perkataannya. Ia seperti tak menghiraukan istrinya yang masih terisak disampingnya.
__ADS_1
"Wanita lain hanya mengharapkan kesetiaan dari suaminya.. kau malah menyuruh ku untuk menikah. Pikiran macam apa itu. Jangan ulangi lagi.
Selama ini aku tak pernah menanyakan perihal anak pada mu. Aku hanya menunggu saat itu tiba. Takdir akan berjalan sesuai ketentuanNYA. Jadi jangan lagi kau mendahului takdir. Cukup saja dimasa lalu mu Maya."
Kali ini Pramana menatap istrinya. Ia menepikan mobilnya. Memandang wanita disebelahnya yang sejak tadi tak berhenti menangis.
Pramana menunggu wanita yang sangat dicintai nya menoleh padanya. Maka ia akan anggap hal tadi tak pernah ada.
Benar saja, Maya menoleh padanya. Ia langsung memeluk Pramana. Tangisan yang ia tahan sejak tadi pecah dipelukan suaminya.
"Jangan ulangi lagi. Anggap saja kita tak pernah membahas tentang hal ini."
Pramana memberikan kecupan dikening Maya. Ia kembali melanjutkan perjalanan, sambil terus menggenggam tangan istrinya.
"Mas... Maafkan aku. Aku benar benar istri yang buruk untuk mu. Aku takan membahas ini lagi."
Maya menatap Pramana yang sedang menyetir. Suaminya hanya tersenyum kecut menoleh pada Maya. Mungkin kesalnya belum hilang. Jadi Pramana menanggapi biasa sambil menjernihkan Kembali pikirannya.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1