
Tak berapa lama kemudian. Salah seorang Dokter keluar dari ruang pemeriksaan Pramana dan Billy.
"Keluarga pasien Billy..."
Dokter melihat Ray yang pertama membawa nya kesini. Lalu dia dan Mona diikuti Laura maju menghampiri Dokter tersebut.
Sebelum ia berbicara, salah satu Dokter juga keluar dan berdiri disamping Dokter yang pertama.
"Bagaimana dengan ponakan kami Dokter?" Tanya Ray dengan gugup.
"Maafkan kami Tuan... Kami sudah berusaha sebaik mungkin. Mungkin Tuhan lebih sayang padanya. Kami harap keluarga bisa menerima dengan ikhlas dan bersabar."
"Billy..." Lirih Laura. Ia menoleh pada Linda yang langsung terjatuh dari duduk nya.
"Ibu..." Laura mengejar Linda yang pingsan.
"Apa tidak ada lagi cara untuk menyelamatkan Billy Dokter?" Ray masih tak percaya dengan berita kematian Billy.
"Kami hanya manusia Tuan. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Hanya Tuhan yang menentukan segalanya. Maafkan kami."
Ray terduduk dilantai. Ia tak bisa membayangkan reaksi Maya dan Pramana. Setelah mengetahui berita menyedihkan ini.
"Mas..." Mona membantu Ray berdiri dan duduk dikursi tunggu.
Sementara Linda dibawa oleh Laura untuk pemeriksaan. Maya keluar bersama Romi menggunakan kursi roda.
Ia menatap Ray dan Mona menangis disamping ruang perawatan anak dan suaminya.
"Ray...?" Maya mendekat.
"Apa yang terjadi? Kenapa kalian menangis?" Tanya Maya dengan mata nya yang sudah berkaca kaca.
"Maafkan aku Maya... Maafkan aku... Seharusnya aku datang sebelum mobil itu akan menabrak Dewa.." jelas Ray tetap merungkuk duduk dikursi. Ia melihat Maya yang mulai terisak.
"Katakan dengan jelas Ray... Jangan menyalahkan dirimu.. apa yang terjadi..." Tanya Maya dengan nada pelan.
"Mbak... Billy sudah tak bersama kita lagi... Billy sekarang tenang disyurga..." Kata Mona sambil memeluk Maya menangis dengan tersedu sedu.
__ADS_1
"Kalian jangan mempermainkan aku... Anak ku masih sehat. Ia takan kemana mana Mona... Dia akan meniup lilin hari ini.. anakku masih hidup." Kata Maya penuh emosional. Air matanya membanjiri seluruh wajahnya.
Laura keluar dari ruang Linda. Ia memeluk Maya dan menyabarkan kakak iparnya.
"Mbak.. jangan begini... Ikhlaskan kepergian Billy..." Saran Romi.
Maya mendongakan kepalanya menatap tajam Romi. Ia memukul pahanya. Ia menghela nafasnya dan membuangnya kasar.
"Romi! Apa kau bisa bersikap sabar dan ikhlas jika itu terjadi pada Gilang?"
Maya menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia tak tau harus berkata apa lagi. Semua omongan nya sudah melebar kemana mana.
"Mbak aku hanya berusaha menyabarkan mu. Bukannya berkata jika aku seorang yang kuat. Memang tugas ku untuk menguatmu mbak.. kau adalah kakak ku satu satunya. Apalagi yang harus kuucapkan. Billy takan bisa kembali lagi pada kita.
Ingat mbak... Kehidupan bukan hanya didunia.. kita hanya sementara disini. Jangan menganggap semua ya abadi mbak... Bersabarlah."
Romi mengecup kepala Maya dan memeluk satu satunya keluarga yang ia punya.
"Ada aku, Mona, mas Ray ibu dan Laura disini. Kau harus kuat .. mas Pram belum sadar. Jangan biarkan dirimu terpuruk dengan duka ini. Billy akan tenang disyurga. Kau masih harus melanjutkan hidup mu mbak.
Yakinlah... Suatu saat kau aan mendapatkan apa yang kau harapkan."
"Romi benar Maya... Sebaiknya kita kedalam melihat Billy. Dan mempersiapkan semuanya." Ujar Ray dengan menyentuh bahu Maya.
Memberikan kekuatan bagi temannya. Agar dapat lebih ikhlas dalam menjalani hidup.
Maya masuk kedalam ruangan tempat Billy dibaringkan. Ia membuka penutup wajah Billy. Menatap lekat dan hangat wajah pucat yang sudah tak bernyawa lagi.
Billy yang masih kecil, wajahnya yang lembut dan putih bersih. Akan tertidur didalam tanah. Maya mengusap wajah anaknya untuk terakhir kali.
"Romi .. mbak ingin menggendong Billy untuk yang terakhir kalinya."
Maya berdiri, tanpa menunggu persetujuan keluarga nya ia membawa Billy kedalam pelukannya. Mengayun ayunkan dengan lembut.
Tak hentinya Maya menciumi wajah anaknya. Tubuh balita itu masih hangat dan lunak. Tak seperti orang yang sudah tiada.
"Sayang mama... Billy...
__ADS_1
Kamu pergi secepat ini nak? Kenapa mama ga diajak sayang? Baru sebentar kamu merasakan kebahagiaan didunia bersama mama dan papa..."
Maya berhenti mengatur nafasnya yang terasa tercekat dileher. Ia menghela nafas panjang lalu meniupkan kewajah Billy. Berharap ada keajaiban dari Tuhan untuk nya dan Billy.
Air mata nya terus menetes. Ia menyeka dengan baju di lengannya. Merasa bodoh akan apa yang ia lakukan tadi.
Pelukan nya semakin erat seakan tak ingin melepaskan Billy.
"Billy... Mama menyayangi mu nak.. mama telah ikhlaskan semua yang mama berikan padamu. Pergilah dengan tenang sayang. Kamu pergi sebagai pangeran tertampan bagi mama.
Pangeranku .. putraku... Sayangku... Anakku .. cintaku... Buah hatiku...
Terimakasih sudah menemani mama selama 2 tahun ini sayang.. Selamat ulang tahun sayang...
Billy ..."
Mereka yang ada didalam ruangan itu tak bisa menahan tangisnya melihat Maya berbicara dengan Billy yang sudah tiada.
Maya mengehentikan lagi ucapannya. Lagi lagi ia menghela nafas yang panjang dan meniupkan kearah Billy. Berharap dan berharap Tuhan mau memberikannya kesempatan.
"Anakku sayang... Billy... Tidurlah nak... Tidur yang nyenyak... Tunggu mama dan papa disyurga ya sayang .."
Maya meletakan Billy ketempat tidur dan menyelimuti nya seperti menidurkan anak. Ia mencium kening Billy dengan sangat lama dan langsung keluar dari ruangan itu.
"Maya..."
.
.
.
Dukung Author dengan Like and koment menarik kalian ya...
Bab ini benar benar membuat Author menangis haru .. teringat saat saudara kehilangan anaknya.. Bayi mungil dan tak berdosa... 🥲 akan tidur didalam tanah ..
__ADS_1
Semoga Tuhan memberikan kita dan anak anak kita kesehatan selalu... aamiin.