
"Jadi fisiknya sudah lebih baik Dok? Lantas kenapa ia masih belum siuman?" Tanya Maya dengan wajah cemas.
"Benar Nyonya.. semoga Tuan Pramana cepat siuman." Jawab Dokter pasrah sambil undur diri pamit dari ruangan Pramana.
Maya mengantar mereka keluar ruang perawatan Pramana. Kembali dengan langkah gontai, duduk di atas ranjang tepat disamping Pramana.
Ia telah memutuskan akan menginap dirumah sakit malam ini. Menjaga Pramana dimalam hari, dengan harapan suaminya cepat siuman.
"Bu.. malam ini aku menginap dirumah sakit."
"Apa tidak apa dengan membawa Billy nak?" Tanya Linda cemas karna Billy masih sangat kecil.
"Peralatan mas Pram sudah dilepas semua. Kondisi fisik nya sudah stabil. Kita hanya menunggu mas Pram siuman." Jelas Maya.
"Syukurlah sayang...
Apa ada sesuatu yang akan ibu antar kerumah sakit?" Tanya Linda.
"Minta tolong sama sopir ya bu, bawakan pakaian ganti untuk Billy dan aku. Juga beberapa helai pakaian mas Pram. Dia sudah boleh tak memakai seragam rumah sakit lagi." Jelas Maya.
"Baiklah nak, nanti ibu kirim sopir untuk mengantarnya. Kau dan Billy hati hati disana. Jaga juga kesehatan kalian." Linda mengingatkan Maya.
__ADS_1
"Terima kasih bu.. teleponnya aku tutup."
Maya meletakkan lagi ponselnya kedalam tas yang ia letakan diatas meja.
"Mas, aku sangat berharap kau bisa segera sadar. Kita sudah kehilangan seorang putra mas. Aku tak ingin kehilangan mu juga.
Walaupun ada Obi yang menggantikan Billy.. tapi semua itu takan tergantikan. Obi mengurangi kesedihan, bukan berarti menghilangkan kesedihanku.
Keluarga kita telah melakukan segala cara untuk kita berdua mas. Ku mohon sadarlah... Billy pasti sangat sedih melihat ayahnya dalam keadaan seperti ini. Dan disini juga ada Obi menunggu mu.
Dia akan kita besarkan seperti anak kandung kita sendiri mas. Karna dia anak yatim piatu.
Berjuanglah mas... Kembalilah pada kami."
Maya bicara pada Pramana sambil memegang tangan suaminya yang masih tak merespon apapun ucapan Maya.
Namun Maya yakin jika suaminya akan kembali padanya. Ia ingin berpikiran positif agar Tuhan memberikan mereka kebahagiaan yang sejati.
Tak berapa lama sopir suruhan Linda datang membawa perlengkapan Maya dan Obi, juga makanan dalam paper bag. Maya segera membersihkan dirinya dan berganti pakaian. Ia menyegarkan tubuh dan pikirannya.
Kemudian mengambil selimut Obi yang dibawakan Linda. Ia menyelimuti putra nya dengan kasih sayang. Tak lupa mengecup keningnya.
__ADS_1
"Mas .. ibu mengirimkan ku makanan. Apa kau mau? Ini sangat enak. Dulu kau sangat menyukai ini. Apa kau rela aku habis kan semua?"
Maya mengeluarkan dua kotak makanan yang dibawakan sopirnya. Ia membuka makanan yang masih hangat tersebut.
"Lihatlah mas .. ini ada Cumi cumi asam pedas kesukaan mu. Dan sayur kangkung ini begitu segar. Aku akan menyuap nya sekarang..."
Maya mengambil makanan dengan semangat, ia meletakan diatas piring. Lalu mengambil 3 potong cumi cumi. Saat akan menyuapi nya, tanpa sadar air mata nya menetes melihat kearah Pramana yang masih diam diatas kasur.
Ia meletakan kembali sendok nya. Menundukkan wajahnya dan menempelkan tubuhnya pada paha yang dinaikan keatas sofa. Disana ia menangis, menahan suara tangisannya, agar Billy yang ia panggil Obi tidak terbangun.
Ia sangat merindukan sosok hangat yang sudah beberapa bulan tak ia rasakan. Pramana yang bisa membuat nya selalu bahagia. Dan sangat perhatian padanya. Bahkan dengan begitu banyak kekurangan darinya, Pramana masih bisa untuk sangat mencintai nya.
Kenangan masa masa mereka bertemu dan menikah terulang kembali dalam ingatan Maya. Tubuhnya berguncang menangis, tangisan yang telah lama ia pendam.
.
.
.
__ADS_1