
Dua hari kemudian Mona sudah sampai dirumah. Maya dan Pramana mengantar keluarga kecil itu. Diiringi oleh Ray dan Lana sampai rumah mereka.
Maya sangat senang melihat kebahagiaan adiknya. Tak berlama lama disana. Ia langsung pamit untuk melanjutkan pekerjaan mereka.
"Sayang..."
Tiba tiba Pramana menggenggam tangan Maya saat sudah didalam mobil. Ia menyetir sesekali menoleh pada Istri cantiknya.
Maya tersenyum melihat tingkah Pramana yang tak pernah seperti ini. Dia membiarkan jemari Pramana bergerilya ditangannya.
"Mas...."
Maya merasa risih karna menahan rasa geli karna ulah jari Pramana.
"Apa kau benar benar akan ke butik?" Tanya Pramana dengan keraguan di ucapannya.
"Tentu mas... Hari ini aku akan menjahit desain ini..."
Maya mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan gambar yang telah ia buat 2 hari yang lalu.
"Tapi ini sudah pukul 3.. apa sebaiknya kita pulang?" Pramana menyakinkan.
"Bukannya mas juga harus kembali kekantor?"
Tanya Maya lagi dengan wajah heran, namun ia selalu menambahkan senyuman.
"Tidak .. bagaimana jika kita pulang saja...?"
__ADS_1
Pramana melihat Maya dengan menaik turunkan alisnya. Maya tentu mengerti maksud suaminya.
"Apa tidak bisa menunggu nanti?" Goda Maya.
"Sayang...." Pramana mengeratkan genggaman tangannya.
"Apa?" Maya tertawa melihat kearahnya.
Wajah Pramana terlihat memerah, karna Maya mengetahui gelagatnya.
Aku harus segera melakukan nya. Jika tidak ramuan ini akan hilang. Ini sudah 45 menit sejak pemakaian, jadi tersisa waktu 45 menit lagi. 20 menit lagi aku sampai kerumah... Aah lama sekali.
Mana bisa setelah sampai rumah aku langsung melakukannya. Maya pasti mau berbenah dulu .. sial ..
Pramana menggerutu dalam hatinya. Ia mempercepat laju mobilnya. Maya pun hanya diam. Ia memang tak pernah menolak permintaan suaminya. Tapi ini sangat aneh, tak biasanya Pramana meminta disaat seperti ini.
Mereka tak melihat jangka waktu yang diberikan ramuan setelah meminumnya. Entah siapa yang memberitahu mereka tentang ramuan itu. Tapi yang jelas Ray membawa dua kerumah sakit.
Makanya Pramana buru buru mengajak Maya pulang, begitu pun Ray yang duluan pamit.
Jangan sampai ini jadi sia sia... Ray sangat susah mendapatkan nya. Dan aku hanya boleh meminumnya sekali dalam sebulan. Semoga tidak terlambat.
"Mas... Jangan buru buru..."
Maya memperingati Pramana karna ia melajukan mobil sangat kencang. Pramana hanya diam fokus menyetir.
Kenapa dia? Apa benar benar tak bisa menahan hasratnya lagi ya?
__ADS_1
Maya memperhatikan suaminya bahkan sampai melihat kebagian bawah Pramana yang sudah menegang, bahkan celana nya bisa sobek jika tak segera dikeluarkan.
Maya mengulum senyumnya. Ia melihat lagi kedepan. Menyadari diperhatikan Maya. Pramana malahan tersenyum tetap fokus menyetir.
Apa dia melihat Jono yang sudah menegang? hahhaha...
Pramana menepikan mobilnya masuk kedalam taman yang sepi. Di taman itu memang tak ada pengunjung setiap harinya. Jalanan yang sepi membuat otak Pramana berpikir untuk menyudahi disini saja. .
"Kenapa berhenti mas?" Tanya Maya gugup.
"Sayang aku tak tahan lagi.. kau bisa lihat Jono bukan? Bisa bisa aku menabrak sesuatu jika harus memaksakan sampai dirumah."
Jelas Pramana sambil membuka sedikit celananya. Jono dengan jelas menuntut pada Maya. Mungkin ia sedang memohon dengan mimik memelas.ðŸ¤
"Apa kita akan melakukan nya disini?" Tanya Maya panik.
"Ya .. hanya sebentar.." jawab Pramana santai sambil memegang tangan Maya.
"Mas! Kita ini sudah suami istri, kita bukan sedang pacaran. Rumah kita juga sudah dekat."
.
.
.
Bersambung
__ADS_1