
Benarkah Raisa wanita seperti itu?
Kenapa aku selalu mencintai wanita yang salah?
Apa ini hukuman untuk ku, karna berusaha menghindari perjodohan yang dipilihkan ibu untuk ku...?
Hmmm... Bagaimana kabar mereka, semoga mereka baik baik saja.
"Tuan... Sebentar..." Ray yang meninggalkannya berhenti karna dipanggil oleh Bayu.
Pemuda itu berlari lari kecil. Dan berdiri dihadapan Ray. Ia memikirkan kalimat yang tepat untuk disampaikan.
"Ada apa?" Tanya Ray masih bersikap baik padanya.
"Ini alamat kontrakan Raisa. Kurasa... Sebaiknya aku tak ikut campur dengan masalahnya. Maafkan aku telah lancang mengajari kalian."
Bayu memberikan sebuah kartu nama. Tertera nama pemilik kontrakan tersebut adalah seorang polisi juga.
"Tak masalah Bayu... Itu karna kau tak mengenal Raisa lebih dekat. Saran ku... Sebaiknya kau cari wanita yang lebih baik darinya. Yang tentunya mencintaimu.." Ray memasukan kartu itu kedalam saku jaketnya.
"Terimakasih... Beruntung kalian mengingatkan ku... Jika tidak aku takan berkeinginan untuk kembali pulang." Bayu menyalami Ray dengan senyuman ramah.
"Baiklah... Terimakasih juga untuk semuanya, sampaikan salam ku pada Tuan Pramana dan istrinya. Mungkin aku telah menyakiti hati mereka dengan perkataan ku tadi."
Ray mengangguk dan melihat pemuda yang baik itu pergi dari rumah sakit.
"Semoga ia menemukan wanita yang baik .." gumam Ray saat kembali berjalan mencari keberadaan sahabat dan Istrinya.
__ADS_1
Pramana melihat dari balik kaca keadaan Raisa dengan berbagai macam peralatan ditubuhnya yang terpasang. Maya berdiri disisinya dan Lana.
"Dewa ..." Ray menyapa sahabatnya itu sambil menyodorkan kartu nama yang Bayu berikan.
"Apa ini?" Dahi Pramana Dewanto mengernyit. Ia membaca pelan nama yang tertera didalamnya.
"Pemilik kontrakan dia..." Jawab Ray sambil menunjuk kearah Raisa.
"Kenapa dia memberikan padamu?" Ray menatap Pramana dan mulai memberitahu maksud dari Bayu.
Maya dan Lana juga ikut mendengarkan obrolan suami suami mereka.
"Maaf Tuan dan Nyonya... Apa anda saudara pasien didalam?" Tanya seorang perawat pada mereka berempat.
"Tidak suster, kami tidak mengenalnya." Jawab Maya cepat.
"Maaf kami membuat anda keliru. Kami hanya sedang berdiskusi disini. Kaki akan pergi..." Tambah Lana.
Maya dan Lana kemudian mengajak suami mereka untuk meninggalkan rumah sakit.
"Aku akan menyuruh orang menghubungi orang tua Raisa. Setelah dia sembuh, aku akan kembali buat perhitungan dengannya." Pramana menyalakan mobil dan meninggalkan rumah sakit.
"Bagaimana dengan Ren? Apa kita akan beritahu dia mas?" Tanya Maya pada Pramana setelah mengingat kejadian beberapa waktu dengan Raisa.
"Tidak .. hidupnya sudah baik tanpa Raisa.... Biarkan keluarga nya yang mengurus." Jawab Pramana.
Mobil melaju dengan cepat kerumah Pramana. Maya mengucapkan terimakasih kepada kedua sahabatnya itu. Ia lansung masuk untuk melihat keadaan Obi.
__ADS_1
Sementara Pramana masih bersama mereka dihalaman.
"Terimakasih kawan, kau selalu membantu kami." Pramana memeluk Ray hangat bagaikan saudara sendiri.
"Kita keluarga Dewa.... Jangan sungkan." Jawab Ray membalas pelukan ala pria dari Pramana.
Pramana melepas kepergian kedua sahabatnya. Dan mengikuti Maya masuk kedalam rumah. Ia lansung masuk kekamar putranya.
"Sayang... Anak papa masih sakit?" Sapa Pramana memegang kening Obi yang sedang digendong Maya.
"Papa..." Obi mengangkat tangannya agar bisa digendong oleh Pramana.
"Sini sayang ..." Pramana menggendong putranya dan pergi kekamarnya.
Bocah itu tertidur dipangkuan Pramana. Lalu ia meletakan Obi diatas ranjang miliknya.
"Sayang, biarkan Obi tidur disini... Dia butuh kita." Maya mengangguk kecil. Kemudian berbaring disamping Obi setelah berganti pakaian.
"Sekarang Obi anak kita sayang... Aku akan menyayanginya seperti anak kandung kita sendiri. Lihatlah... Betapa kecilnya dia. Dia kehilangan orang tua, dan kita kehilangan putra. Tuhan memberikan jalan terbaik untuk kita..." Pramana terlihat berkaca kaca memandang bocah kecil itu tertidur memeluk bantal guling.
"Tentu saja mas... Dia akan selalu jadi putra kita." Sambut Maya dengan mata yang berbinar binar
.
.
.
__ADS_1