ROMAYA

ROMAYA
Merasa Bersalah


__ADS_3

Ia telah bisa memastikan bahwa adiknya lah yang melenyapkan Mawarto. Setiap perkataan Romi mengandung ribuan dendam untuk lelaki tua itu.


"Jadi benar kau menghabisi nya??"


Mimik muka Romi langsung berubah, ia tak berani melihat Maya yang menatap dengan tatapan yang tak bisa diartikan.


"Jawab Romi!"


Romi tetap tak sanggup memandang wajah Maya. Ia mengalihkan pandangannya kesegala arah untuk menutupi kesalahannya. Kali ini Romi benar benar gugup sampai tangannya menggigil.


"Romi! Aku kakak mu. Tolong jujurlah!! Romiiii!!!"


Maya berteriak tapi dengan suara yang ia pelankan. Ia menarik baju kemeja yang dipakai Romi. Menatap wajah pemuda itu dalam dalam.


"Mbak... a.. aa..aaku... aku.."


Suara Romi bergetar menjawab pertanyaan Maya. Ia menunduk dihadapannya. Air mata Maya mengalir membasahi wajahnya.


Tubuhnya merosot kebawah tepat disamping Romi. Ia melepaskan tangis nya. Menjambak sendiri rambutnya. Romi yang tak tega melihat Maya ia berjongkok memeluk kakaknya.


"Maafkan aku mbak... maafkan aku.. "


Ia juga meneteskan air mata memeluk Maya. Mereka sama sama melepaskan tangisnya. Maya histeris memukul mukul dadanya. Dan membenturkan kepalanya kedinding.

__ADS_1


"Mbak... mbak... jangan begini mbak..."


"Aku telah menjadikan adikku seorang pembunuh. Aku yang bersalah. Aku sangat bersalah pada mu Romi. Aku membuat mu membunuh seseorang. Semua karna aku... Karna ku..."


Maya lirih berkata, ia mulai terdiam. Menatap kosong kedepan. Ia merasa telah menghancurkan masa depan adik lelaki kesayangannya.


"Aku yang telah hancur ini.. juga menghancurkan masa depan mu Romi. Semua karna aku.."


Maya memegang pipi Romi. Menatap adiknya dengan rasa bersalah.


"Kau harus pergi jauh dari kampung ini Romi! Cepat lah.. bawa uang ini. Cepatlah Romi. Sebelum mereka menangkapmu"


Maya seperti orang gila ketakutan akan masa depan adiknya. Ia mengumpulkan beberapa uang lalu diberikan pada Romi.


Maya terduduk dan diberi segelas air oleh Romi. Tangannya bergetar saat membayangkan jika adiknya akan ditangkap.


"Bangkai tak akan bisa disimpan Romi, semua akan mencium bau nya." Maya menatap wajah tampan adiknya lekat lekat.


"Kenapa kau melakukan ini Romi? Kenapa? Hidup kakak mu juga sudah hancur. Dengan melenyapkan nya kau tak bisa mengembalikan harga diriku lagi. Bahkan kau membuat hidup Mona hancur, terutama diri mu sendiri. Kau merusak masa depanmu."


Romi tertunduk mendengarkan ucapan Maya. Sebagai lelaki ia harus memegang ucapannya sendiri. Pantang bagi Romi untuk menarik kembali perkataannya.


"Mbak kumohon cukup menyalahkan diri sendiri dan lupakan permasalahan ini. Tak akan ada yang curiga kepada kita. Aku akan berusaha untuk bersikap tenang."

__ADS_1


Maya hanya menunduk mendengar semua perkataan Romi. Ia tak tau harus berbuat apa. Romi melakukannya hanya ingin membalas perbuatan mereka pada Maya. Karna ia sangat menyayangi saudarinya.


"Lalu bagaimana dengan Mona, apa hati mu tulus untuk nya?"


Maya menatap Romi. Menanyakan tentang putri Mawarto. Ia juga merasa ada yang tidak beres dengan Romi. Karna selama yang ia ketahui Romi tak pernah membalas perasaan siapapun.


Karna ia selalu fokus untuk belajar. Agar mendapat pekerjaan yang bagus jika nilainya baik.


"Aku benar benar mencintai nya mbak... dan aku takan meninggalkan dia apapun yang terjadi, kecuali itu dari mulutnya sendiri."


"Sebaiknya kita pulang.. kepala ku sangat sakit. Aku ingin tidur. Ingat jangan sampai ibu mengetahui ini, termasuk uang ini."


Romi mengangguk dan membantu Maya menutup pintu kedai bakso penuh sejarah tersebut. Mereka berjalan pulang melewati rumah Mawarto yang sedang ramai oleh sanak famili nya.


"Romi..."


Seeorang memanggil Romi dari arah belakang mereka. Mereka serentak menoleh. Disana Mona sedang berdiri menunggu Romi menghampirinya.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2