
"Tidak.. aku hanya terkejut. Syukurlah... Semua sudah terungkap sekarang.. dan aku lega..." Jawab Maya tersenyum.
"Tapi belum semuanya sayang ..."
"Apa maksudmu mas?"
Pramana memandang Maya dengan tatapan penuh ragu. Ia menoleh kearah Romi. Romi hanya menaikan alis matanya.
Mungkin ini sudah saat nya aku beritahukan semuanya... Apapun yang terjadi akan kuhadapi. Semoga Maya bisa mengerti..
"Kemarilah sayang ..."
Pramana mengajak Maya untuk duduk disampingnya. Kini ia menatap wajah cantik istrinya.
"Ada apa ini?" Maya juga melihat kearah Romi.
"Kau tau Ray?" Maya menggeleng. Karna mendengar namanya pun baru kali ini.
"Dia kakaknya Mona. Temanku dan juga.. orang yang menyuruhku untuk menghancurkan hidupmu Maya."
Pramana sengaja menghentikan ucapannya. Ia melihat perubahan mimik wajah Maya yang kini juga sedikit menggeser tempat duduknya dari Pramana.
"Apa alasannya?" Suara Maya bergetar.
"Sebuah motif balas dendam atas kematian ayah mereka. Tapi... Untung nya Ray segera sadar atas kesalahannya."
__ADS_1
Pramana memberikan senyuman pada Maya. Menanti kata keluar dari mulut istrinya.
"Kenapa?" Maya berdiri kedekat Romi. Mungkin ia merasa takut berdekatan dengan Pramana.
"Jadi pertemuan kita di stasiun itu disengajakan. Dan... Tentang hubungan kita... Juga keterpaksaan? kepura puraan?"
Maya menghujani suaminya dengan banyak pertanyaan. Matanya mulai berkaca kaca menahan sebak.
"Memang benar Maya... Semua Ray yang mengatur. Tapi kau harus tau... Cinta ku tulus padamu... Makanya aku ungkap ini semua. Bahkan aku sudah bercerita dengan Romi saat dipenjara."
Pramana berdiri mencoba mendekati istrinya. Maya hanya menunduk air mata nya jatuh menetes. Ia menahan rasa sakit hati yang teramat dalam. Mencintai orang yang melakukan kebohongan padanya. lagi lagi ia merasa bodoh.
"Maya... Memang ini takdir Tuhan. Dia mengirim ku untuk menolong mu melalui Ray. Jika saja Ray tak menyuruhku... mungkin kau yang telah menentang takdirmu sendiri." Pramana merangkul istrinya masuk kedalam pelukan hangatnya.
"Lantas.... Sekarang apa tujuan mu?" tatapan Maya tajam menatap Pramana.
"Aku hanya ingin mengungkapkan semua. Agar tak ada lagi hal yang aku tutupi dari mu. Semua sudah jelas sekarang.. karena aku ingin hubungan kita selalu membaik Maya... Percayalah Maya... Dari hati ku yang paling dalam.. aku benar benar mencintai mu... "
Pramana menggenggam jemari Maya. Mereka saling berpandangan. Sementara Romi dan Mona masih menyimak obrolan keduanya. Mereka tak ikut campur sepatah kata pun. Karena memang itu urusan antara Pramana dan Maya.
"Maya.. tetaplah menjadi istriku.. hingga kita menua nanti. Aku berjanji berusaha menjadi suami yang tepat dan lebih baik untuk mu."
Maya masih memandangi Pramana. Hatinya berdesir saat suaminya memintanya kembali. Kali ini dengan kesungguhan hati Pramana bukan dengan kepura puraan.
__ADS_1
"Bagaimana jika Ray mendesak mu untuk menyakitiku lagi.." Maya tetap meragukan keseriusan Pramana.
"Justru Ray juga ikut membantu Romi sayang. Dia hanya korban kebohongan Tono. Sekarang ia sudah mengetahui semua tentang mu."
Dalam hatinya Pramana sangat berharap Maya mau memaafkannya. Dan mereka memulai awal yang baru dengan indah.
"Aku akan berpikir.. beri aku waktu mas.. karena ini cukup sulit bagiku untuk menerima mu lagi. Hatiku sakit mendengar semua pengakuanmu." Maya berjalan dan masuk kedalam kamarnya.
"Tapi Maya..." Pramana mengejar Maya. Tapi dicegat oleh Romi.
"Beri mbak Maya waktu untuk berpikir mas, aku dan Mona akan membantumu."
Pramana terduduk di sofa. Ia memijit keningnya. Meraup kasar wajahnya.
Kenapa jadi seperti ini? Tadi Maya sudah ...
Pramana... Bersabarlah...
.
.
.
Bersambung
__ADS_1