
Kabar kesembuhan Pramana sudah sampai ditelinga keluarga dan sahabatnya. Hari ini Pramana akan pulang kerumah.
Ia masih mengenakan kursi roda keluar dari ruang perawatan rumah sakit. Billy duduk dipangkuannya sambil memakan cemilan yang dibelikan Mona.
"Seharusnya kalian tidak usah repot repot mengantarku pulang." Basa basi Pramana pada ipar dan sahabatnya.
"Dewa... Kau keterlaluan. Seharusnya ucapkan terimakasih padaku... Bukannya mengusirku." Jawab Ray memberhentikan kursi roda Pramana.
"No no... Om... Papa Obi akit..." Billy langsung melarang tangan Ray.
Pramana pun tertawa melihat putranya membelanya dari serangan balik Ray.
"Obi.. bukan kah kita teman?" Tanya Ray dengan wajah memelas.
"Teman om... Api.. angan jahat ama papa Obi." Jawab bocah lugu itu dengan bahasanya yang masih kurang lancar. Membuat semua orang tertawa.
"Waah... Anak mama hebat..." Puji Maya pada Billy.
"Kau lihat Ray, putra ku sudah mengerti sekarang, kau harus berhati hati lagi..." Pramana terkekeh sambil menciumi pipi lembut Billy.
"Baiklah... Aku kalah. Ayo kita jalan." Ajak Ray. Kemudian ia kembali mendorong kursi Roda Pramana.
Apa yang kau lakukan Dewa, jika mengetahui siapa Billy yang sedang kau pangku ini.
Dia bukan Billy darah dagingmu... Maafkan aku.. telah memberikan mu kebahagiaan palsu.
Namun ini demi kebaikan kalian...ku harap suatu saat kalian bisa memahami nya.
__ADS_1
Setelah bersalam salaman dengan beberapa orang dokter dan perawat. Pramana juga mendapat hadiah dari Rumah sakit dalam bentuk bingkisan. Ia termasuk orang yang paling lama menginap dirumah sakit tahun ini. Mungkin itu reward dari rumah sakit.
Mereka menaiki mobil dan kembali langsung kekediaman Pramana dan Maya.
...****...
Barang barang berserakan diatas lantai kamar, bahkan meja rias yang awaknya tersusun rapi juga sudah terbalik.
"Kurang ajaaaaar...."
Suara lengking nya terdengar memenuhi kediaman itu. Seorang lelaki masuk kedalam ruangan yang dangat berantakan itu.
Ia berdiri ditepi pintu. Memperhatikan tingkah wanita itu. Yang sangat terlihat kacau dimatanya.
"Raisa..."
Lelaki itu menyapa Raisa dengan lembut. Dengan pelan ia berjalan menghampiri wanita yang sangat ia cintai. Namun entah mengapa ia masih terobsesi pada seorang Pramana Dewanto.
Raisa terduduk dilantai kamarnya. Ia melepaskan tangisannya.
Apa lagi yang sudah ia lakukan?
Ya Tuhan bagaimana lagi aku menghadapi wanita ini. Ia benar benar gila hanya karena seorang Dewa. Tak menyadari perasaan ku padanya.
Raisa... Aku mulai kehabisan waktu oleh mu...
"Ada apa lagi?" Tanya dengan nada yang masih lembutkan.
__ADS_1
"Aku sudah tak ingin lagi hidup..." Jawab nya sambil terisak. Ren meraup wajahnya kasar. Ia menghela nafas dan membuangnya beberapa kali.
"Raisa... Aku sudah muak dengan sikap dan kelakuanmu. Sebaiknya kau pergi dari sini. Kemasi barang barang mu... Aku sudah cukup bersabar. Dan sabar itu ada batasnya..." Sarkas Ren dengan nanda datar.
Sehingga Raisa mendongakan wajahnya menatap Ren dengan mata terbelalak.
"Kau akan mengusir ku Ren?" Tanya nya dengan wajah memelas.
"Aku tak ingin lagi mengikuti permainan mu. Itu bisa membawa kehancuran hidup ku. Masih banyak wanita yang mau dengan ku. Aku yang sangat bodoh dan menghabiskan waktu dengan mu selama ini. Aaaah.... aku sangat payah sekali..."
Ren duduk disofa memukul mukul kepalanya sendiri.
"Terserah padamu... Jika kau keluar dari rumah ini demi mengejar sesuatu yang takan pernah kau dapatkan... Maka aku takan peduli lagi padamu. Termasuk jika kau mengakhiri hidupmu Raisa, itu bukan tanggung jawabku lagi.." Tegas Ren lagi.
Ia telah benar benar bosan dan lelah dengan cara cara apa yang telah Raisa lakukan. Atau mungkin ada sesuatu yang telah ia lakukan tanpa sepengetahuan Ren.
"Ren??" Raisa berdiri, ia menatap Ren yang duduk dihadapannya.
"Dan jika kau mau mengulangi lagi lembaran baru dengan ku.. aku akan melupakan segalanya. Dan kita akan pergi jauh dari sini." Sambungnya lagi.
"Ren...."
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa Dukungan nya untuk Author ya bebs ... 😘😘