ROMAYA

ROMAYA
Terjebak Rayuan dalam dendam


__ADS_3

Disebuah cafe yang sudah direncanakan Raisa, dia bertemu dengan Pramana. Suasana cafe yang masih sepi pengunjung.


Penyanyi jazz yang selalu bersenandung, tak peduli berapa banyak yang melihatnya. Ia hanya melakukan tugasnya.


Sebuah tembang lawas dari Ermy kullit dinyanyikan pelantun wanita yang sudah terlihat sangat dewasa.


🎶 🎶


Malam ini kasih teringat aku padamu


Seakan kau hadir di sisi menemaniku


Ku yakinkan diri ini agar tiada sepi


Ku lewatkan hari di dalam mimpiku


Seandainya mungkin ku mampu terbang ke awan


Detik ini jua ku akan melayang ke sana


Kau kubawa pulang dirimu yang selalu ku sayang


Bersama berdua kita bahagia


Kasih dengarlah hatiku berkata


Aku cinta kepada dirimu sayang


Kasih percayalah kepada diriku


Hidup mati ku hanya untukmu


Kasih dengarlah hatiku berkata


Aku cinta kepada dirimu sayang


Kasih percayalah kepada diriku


Hidup mati ku hanya untukmu


🎶


Dengan lampu nuansa romantis menambah keyakinan Raisa untuk bisa segera memiliki Pramana kembali. Dan Ren... Dia akan pikirkan itu nanti.


Tubuhnya bergoyang mengikuti irama Jazz yang melantun dengan merdu. Sesekali ia memejamkan matanya seakan berkata bahwa lagu ini hanya untuk Pramana.


"Kau sudah lama?"

__ADS_1


Suara berat Pramana mengejutkan Raisa dari lamunannya. Ia langsung berdiri untuk memberi sebuah kecupan dipipi Pramana. Namun pria itu langsung duduk didepan Raisa.


Sialan!


Kau harus sabar Raisa ..


Selangkah lagi.. kau akan memiliki pria yang sedang duduk dihadapan mu.


Raisa meyakinkan dirinya untuk lebih bersabar. Ia takan buru buru. Semua harus sesuai rencana yang telah ia susun dengan Ren.


"Baru 20 menit." Jawab Raisa pendek.


"Maaf... Tadi agak macet dijalan."


Lanjut Pramana yang terpaksa ramah pada wanita didepannya. Senyuman yang ia buat setulus mungkin. Agar wanita ini tak mencurigainya.


"Sudahlah... Aku juga sedang menikmati lagu romantis ini. Jadi menunggu mu tak melelahkan." Yakin Raisa pada Pramana.


Dan hinga kini aku masih belum menyerah menanti mu kepangkuan ku Dewa.


"Pesanlah makanan, aku sangat lapar." Pancing Pramana.


"Apa istrimu tidak masak?" Ledek Raisa. Dan Raisa terpancing.


"Beberapa hari ini istri ku tak pulang." Jelas Pramana berpura pura kesal.


Raisa memasang wajah kasihan didepan Pramana. Pramana hanya menjawab dengan tersenyum kecut.


"Entahlah... Emosi wanita hamil memang labil. Padahal aku hanya melarangnya makan rujak yang terlalu pedas. Ia pergi entah kemana."


Pramana menundukan wajahnya. Ia terlihat berakting sangat meyakinkan didepan Raisa.


"Mungkin dia pergi dengan teman lelakinya. Yang lebih mengerti dia. Atau mungkin kau terlalu banyak aturan."


Raisa terkekeh memandang Pramana dengan sudut matanya. Ia memanggil pelayan lalu memesan makanan untuk mereka.


"Jangan sembarangan bicara. Dia masih istriku." Tegas Pramana.


"Aku hanya bilang begitu.. karna bila wanita sudah bosan maka ia mencari pelarian baru."


Jawab Raisa tak mau kalah. Ia tetap saja menjelekan Maya. Padahal perkataan nya lebih cocok ditujukan untuk dirinya sendiri.


"Aku kesini bukan mendengar ceramahmu. Karna aku sedang kesepian, makanya aku menemui mu."


Pramana mempertegas ungkapan kesepian pada Raisa. Dan sukses membuat Raisa berbinar.


Temani aku Raisa .. kau akan kuberikan neraka, atas perbuatan mu pada istriku. Wanita sialan!!

__ADS_1


Senyuman seringai Pramana membuat Raisa mengerti sebagai wanita dewasa. Dia tau pria ini membutuhkan lebih dari sekedar pertemuan.


"Maafkan aku Dewa. Aku akan menemani mu lagi lain waktu."


Ia mengedipkan sebelah matanya. Raisa sengaja menolak halus ajakan Pramana, agar rencananya tidak dicium oleh Pramana.


Benar benar wanita murahan!!


Aku harus terlihat membutuhkan dirinya.


"Kenapa tidak hari ini saja.?"


Pramana mencoba menatapnya hangat. Seakan ia sangat membutuhkan Raisa malam ini.


"Kita lihat saja nanti Dewa .."


Raisa memalingkan wajahnya untuk tersenyum. Dan gerak geriknya itu terbaca oleh Pramana.


Raisa merasa bahwa ia menculik Maya disaat yang tepat. Rupanya pasangan ini sedang bertengkar. Sehingga Pramana tak sudi mencari istrinya.


"Duduk lah disebelah ku..."


Pramana menepuk tempat duduk disebelahnya. Ia benar benar memberi celah harapan untuk Raisa. Membuai wanita ini untuk menjatuhkan nya segera.


Dengan wajah merona dan tersipu malu, Raisa melakukan apa yang diminta Pramana.


Tanpa segan Pramana meletakan tangannya diatas pundak Raisa.


"Ternyata aku masih merindukan mu Raisa. Sudah lama sekali kita tak bertemu."


Raisa menatap dalam wajah pria yang telah lama ia cintai. Jantungnya berdetak kencang saat berdekatan dengan Pramana.


Apalagi perkataan Pramana yang membuatnya melayang seketika. Ia sungguh mendambakan malam ini bisa memiliki Pramana selamanya.


Tanpa ragu ia memeluk Pramana dan meneteskan air mata.


"Aku juga sangat merindukan mu Dewa."


Mau tak mau Pramana harus membalas pelukan wanita ular yang sedang ia dekati.


"Lebih baik kita makan sekarang Raisa. Setelah itu ikut aku kesuatu tempat."


.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2