
"Jangan memaksakan diri.. kau takan bisa lagi mendekatinya."
Ray memberi nasehat untuk seorang wanita yang sedang duduk diruang kantornya.
"Mereka tak mempunyai anak bukan? Jadi aku akan memberi kan seorang anak untuk Dewa."
Wanita itu sangat antusias ingin memiliki Pramana, dan ia akan melakukan segala macam cara.
"Dia sangat mencintai istrinya. Dia sudah lama melupakan mu Raisa. Itu sudah sangat lama sekali. Bahkan dalam beberapa tahun ini. Ia tak pernah menyebut namamu lagi."
Jelas Rayyan. Ia melihat seperti apa ekspresi Raisa saat mengetahui, sesuatu telah berubah setelah kepergiannya.
"Aku takan menyerah Ray..."
Ternyata dia sangat keras kepala...
Ray hanya menggeleng gelengkan kepalanya. Ia sudah begitu hafal dengan watak Pramana. Jadi tak mungkin Pramana akan mengkhianati Maya. Karna dia sendiri juga akan ikut mencegah hal itu terjadi.
"Kau kenapa? Apa kau meremehkan ku?" Tanya Raisa melihat sinis kearah Ray.
"Aku tak begitu yakin kau akan bisa Raisa... terserah apa yang mau kau perbuat.
Tapi aku juga takan membiarkan kau merusak rumah tangga mereka yang sedang baik baik saja. Sebagai sahabatnya .. aku juga akan membantu untuk mencegahmu..."
Ray membakar sebatang rokok dengan terus menatap tajam pada wanita cantik didepannya.
"Oh... Ternyata begitu. Baiklah .. kita sama sama berjuang.. aku pergi sekarang..."
Raisa segera beranjak dari tempat duduknya. Tanpa menunggu Ray bicara ia sudah keluar dari ruangan itu.
__ADS_1
"Apa dia tak dapat menemukan lelaki selain Dewa? Sudah tau dia beristri... Masih ingin memiliki... Pelakor memang menjijikan."
Gumam Ray dengan raut muka geram. Ia merasa jijik mengingat perkataan Raisa. Padahal wanita itu tak kalah cantik dari Lana. Namun pilihan Pramana telah jatuh pada Maya.
Lebih baik aku memberi tahu mereka perihal ini. Supaya tidak ada salah paham diantara keduanya...
Tak berapa lama Ray melakukan panggilan melalu ponsel. Seorang yang ia tuju langsung menjawab panggilannya.
"Dewa .. bisakah kau dan Maya menemui ku sebentar?" Ray serius menunggu jawaban Pramana.
"Ada apa Ray? Apa ada sesuatu yang penting?" Tanya Pramana diseberang sana.
"Ya... Ini mengenai Raisa.."
"Wanita itu..."
"Sebaiknya aku beritahu sekarang.
Berhati hati lah, kau jangan lupa memberitahu istrimu tentang hal ini. Agar kalian tak salah paham." Jelas Ray menggebu gebu.
"Lancang sekali dia!
Terima kasih Ray .. aku akan menghubungi Maya sekarang." Suara Pramana terdengar penuh amarah.
"Baiklah... Aku juga akan membantu kalian .."
"Terimakasih"
Ray menutup ponselnya dan kembali bekerja.
__ADS_1
***
Butik Maya tampak sedang banyak pelanggan. Beberapa karyawannya nampak melayani dengan baik.
Sementara Maya sedang berada diruang produksi. Ia mengamati dengan baik para pekerjanya.
"Ini bagaimana? Masa saya ga bisa tukar disini?"
Seorang wanita paruh baya bicara pada Ruri. Suara nya sampai terdengar kedalam ruang produksi dan memenuhi ruangan itu, Sehingga pelanggan yang lain menoleh padanya.
"Maaf Nyonya... Ayo kita bicara baik baik."
Ruri menahan geram dan mencoba tetap ramah untuk mengendalikan amarah nya.
"Disini saja! Apa kamu takut semua orang akan berpaling dari butik ini? Masa iya mau nukar ukuran saja ga bisa." Jawab Nyonya itu lebih mengeraskan suaranya.
"Maaf Nyonya .. tapi baju ini bukan berasal dari sini."
Jelas Ruri yang tampak bosan dengan tingkah Nyonya ini. Ia bahkan menggaruk kepalanya berulang kali. Merasa malu dengan keributan yang ditimbulkan wanita didepannya. Bisa bisa pelanggan mereka berpaling.
Maya segera berjalan keluar. Ia melihat sekelilingnya. Lalu menangkap gelagat Ruri yang sedang bersusah payah menenangkan seorang wanita.
"Ada apa Ruri?"
.
.
.
__ADS_1
Bersambung