
"Sudah ayo tidur..mungkin orang iseng" Pramana membaringkan tubuhnya diatas kasur.
"Siapa orang iseng yang keluar tengah malam begini" Maya menarik selimut lalu kembali membelakangi Pramana.
Namanya Krisno sayang... dia teman ku dikampung ini . wkwkkwkwkw.
Pramana tertawa dalam hati menjawab pertanyaan istrinya. Ia mengelus ngelus rambut Maya dari belakang.
"Sayang... maafkan aku..." Pramana memegang lengan Maya.
"Aku mau tidur!!" Maya menepis tangan suaminya dan menjauh dari tubuh Pramana yang semakin mendekat padanya.
"Terserah kau mau mendengar atau tidak.."
Maya membuka kembali matanya, namun tak menoleh pada Pramana. Ia berpura pura tidur.
"Yang jelas apa yang kulakukan itu sesuai kemauan ku. Aku takan menikahi wanita itu. Hati ku tak pernah berdesir saat bersamanya. Ia wanita kaya yang terbiasa manja, apa apa selalu dituruti. Aku tak suka wanita seperti itu. Dan saat aku menemukanmu... aku sudah jatuh cinta padamu saat melihat mu mendekati maut Maya. Makanya aku memberanikan diri menolongmu. Padahal itu membahaya kan diri ku sendiri."
Maya mendengar dengan baik setiap ucapan Pramana. Ia terlihat tersenyum. Masih ingin mendengar penjelasan Pramana.
"Apakah semua itu tak menyentuh sedikit pun hati mu Maya?"
Maya menghela nafasnya. Lalu menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya sampai kepala.
"Iya... Tidurlah mas..."
__ADS_1
Pramana tersenyum dengan jawaban Maya. Kemungkinan besar Maya sudah tak marah lagi. Pramana memdekatkan lagi tubuhnya. Maya tetap diam karna sudah mentok ke dinding.
"Sayang... ku mohon... semua yang kulakukan hanya untuk kebahagiaan mu saja. Aku tak bermaksud buruk padamu."
"Apa buktinya?" Maya bertanya pada Pramana yang selalu mengecup pundaknya.
"Kau ingin aku melakukan apa sayang?"
Maya membalikan tubuhnya menatap Pramana. Wajah mereka begitu dekat. Pramana sempat mencuri satu kecupan dibibir istrinya.
"Pertemukan aku dengan keluarga mu.. dan juga wanita itu."
"Apa?" Pramana bingung harus berbuat apa dengan permintaan Maya.
Tanya Maya menatap tajam suaminya. Pramana terdiam, lidah nya kelu, tak ada sepatah katapun keluar dari mulutnya.
"Kau memang seorang aktor.... aku ingin kita cerai!!" Maya kembali membelakangi suaminya lagi.
Masih dengan wajah bingung Pramana menelentangkan tubuhnya menatap langit langit kamar yang sudah lusuh.
Bagaimana ini? Aku bahkan belum melakukan apa apa dengan Ray... jika dia tau sekarang... maka semua akan lebih buruk. Mengenai Lana... aku harus mempertegas hubungan ku dulu dengan nya. Kalau ibu... aku akan mempertemukan mereka...
Pramana kembali menghadap punggung Maya ia memeluk istrinya dengan sangat hangat. Mengecup pundak dan lehernya yang mulus.
Maya memejamkan matanya merasakan hangatnya kecupan Pramana. Namun ia tetap diam. Bersikap seolah olah tak merasakan apa apa. Dan saat ini ia masih marah. Tapi sentuhan Pramana seakan membuat nya lupa semuanya.
__ADS_1
"Baiklah... tapi beri aku waktu 7 hari. Kau akan bertemu dengan ibu dan adikku. Dan juga wanita itu. Dan juga aku akan menceritakan semua apa yang belum kau ketahui saat itu juga. Bagaimana sayang?"
"Bukan tujuh hari.. tapi dua hari... aku harus mendapatkan semuanya... kau harus bisa mas."
Mati aku... dua hari.. aku harus buru buru mengajak Ray besok.. semoga dia bisa. Dan harus cepat bertemu Lana.
"Baiklah... kau kejam sekali padaku sayang..."
Pramana berbisik ditelinga Maya, sedikit menjilatinya. Mata Maya terpejam kuat menahan suara dan hasratnya.
"Kau takan bisa melakukan apa apa.. sebelum semua jelas..."
Pramana masih mengecup area sensitif Maya. Dan tangannya mulai meraba raba dari dalam selimut. Ia mere..mas pelan payudara Maya. Mengelus perut sampai kebagian bawah Maya.
Ketika suami istri sedang dalam perdebatan atau perang dingin.. mereka membutuhkan sesuatu yang panas.. dan semua masalah bisa selesai... itu kata karyawan dikantor ku...
Ayo kita berkeringat bersama sayang....
.
.
.
Bersambung
__ADS_1